Kamis, 28 Januari 21

Tahan Tiga Hari Sebelum Berbagi

Tahan Tiga Hari Sebelum Berbagi

Oleh: Budi Rahardjo, dosen Teknik Elektro ITB

Beberapa hari yang lalu (Senin, 27 Februari 2017) saya diminta untuk memberikan presentasi terkait dengan mindset anti-hoax. Saat ini hoax sudah merajalela sehingga perlu dilakukan sesuatu. Acaranya dilakukan di Unikom, Bandung.

Presentasi saya dimulai dengan definisi dari hoax. Apa ya? Hoax saya definisikan sebagai sesuatu yang tidak benar tetapi direkayasa seolah-oleh sebuah fakta. Hoax asalnya bisa hanya sekedar guyonan. Main-main. Namun oleh beberapa orang (yang tidak memiliki sense of humor?) dianggap sebagai serius dan kemudian bergulir. Namun ada juga yang memang merekayasa “fakta” palsu ini untuk kepentingan tertentu (biasanya ujung-ujungnya duit juga).

Ada kesulitan dari banyak orang untuk membedakan fakta, opini, dan hoax. Mari saya ambilkan beberapa contoh.

  • Fakta: Persib adalah klub sepak bola kota Bandung
  • Opini: Persib adalah klub sepak bola terhebat
  • Hoax: Persib pernah menjuarai Liga Sepak Bola Inggris

Contoh-contoh di atas memang mudah dikenali karena sangat jelas bedanya. Ada banyak hal yang sulit dibedakan. (*)

[sumber: koran Pikiran Rakyat]Untuk mendeteksi hoax harus memiliki ilmu dan wawasan. Sebagai contoh, bagaimana kita tahu bahwa “Persib pernah menjuarai Liga Inggris” itu membutuhkan pengetahuan dimana letak Inggris selain mengetahui bahwa Persib itu klub sepak bola Bandung. Tanpa pengetahuan ini tentu saja akan sulit untuk menentukan ini fakta atau bukan.

Bagaimana cara untuk meningkatkan kemampuan ini? Dibutuhkan banyak membaca dan piknik. hi hi hi.

Setelah mengetahui itu hoax, maka terserah kepada kita apakah kita akan ikut menyebarkannya atau menghentikannya. Memang sulit sekali untuk tidak ikut berbagi (share) di dunia media sosial. Satu klik saja sudah bisa berbagi. Padahal sebelum membagikan berita, kita perlu cek dulu apakah itu fakta atau hoax.

Salah satu tips saya adalah “Tahan Tiga Hari Sebelum Berbagi”.

Bagaimana dengan penanganan hoax yang memang sengaja dibuat? Itu cerita lain kali ya. (*)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.