Kamis, 30 Juni 22

Jika Belum Ditemukan Gerakan ISIS, Anggap Saja ‘Bohong’

Jika Belum Ditemukan Gerakan ISIS, Anggap Saja ‘Bohong’

Jakarta – Dalam dua pekan ini pemberitaan mengenai organisasi Islamic State of Iraq Syiria (ISIS) atau Negara Islam Irak Suriah, terlihat begitu masif disiarkan di sejumlah media nasional baik cetak, elektronik, maupun onlie.

‎Pemberitaan mengenai ISIS itu mulai ramai dibicarakan setelah muncul video di You Tobe yang berisi ajakan kepada masyarakat Indonesia untuk bergabung mendukung gerakan ISIS. Selain itu, muncul pula pesan berantai yang menginformasikan rencana serangan ke Indonesia.

Media begitu gencar memberitakan ISIS, karena pemerintah menganggap keberadaan ISIS sama seperti organisasi teroris, yang jika dibiarkan, bisa mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) karena, Ideologi ISIS juga dianggap bertentangan dengan Pancasila.

Sepertinya, tidak hanya di Indonesia. Media di negara-negara luar juga ikut memberitakan mengenai munculnya gerakan ISIS, seperti di negara tetangga Malaysia. Namun, tidak seramai dengan pemberitaan yang terjadi Indonesia.

Misalnya saja, dari kantor berita Malaysia (Malaysia Insider) belum lama ini mengatakan bahwa Perdana Menteri Malaysia Najib Rajak tidak mau banyak membahas mengenai gejolak organisasi ISIS. Namun, yang pasti Najib menegaskan pemerintah Malaysia selalu memerangi gerakan terorisme.

“Di sini, ISIS disinggung sedikit dan sekilas, tapi yang terpenting adalah mencatat bahwa perdana menteri tidak mungkin mendukung ISIS,” ujar Jubir Najib.

‎Padahal, Malaysia termasuk negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Demikan juga negara tetangganya Berunai Darussalam, meski negara ini sudah menerapkan Syariat Islam. Pemberitaan mengenai ISIS juga tidak terlalu ramai dibicarakan.

Namun, untuk beberapa media di barat, seperti media Time di negara Amerika Serikat, termasuk kerap membicarakan mengenai gerakan ISIS. Pasalnya, Presiden AS Barack Obama telah memerintah tentara militernya untuk menyerang ISIS di Irak dan Suriah.

Kemudian, di negara Australia, yang merupakan negara sekutu juga ikut memberitakan mengenai organisasi ISIS. ‎Melalui kantor berita mobile.news.com, media ini memberitakan mengenai teroris Australia Khaled Sharrouf dan Muhamed Elomar berbagi pandangan ekstremis yang mendukung gerakan ISIS.

Menanggapi gejala tersebut, guru besar ilmu politik Universitas Islam Negeri Alauddin, Syarifuddin Jurdi mengatakan, gerakan ISIS yang ingin membentuk Khilafah Islamiyah bukanlah hal baru. Sebelumnya sudah banyak gerakan Islam gari keras yang berkembang di daerah-daerah Timur Tengah.

“Kalau kita liat, sejak jatuhnya Turki Usmani, perjuangan mendirikan khalifah terus dilakukan. ISIS ini muncul untuk merespon krisis yang terjadi di Timur Tengah, virus ini kemudian disebarkan di seluruh dunia Islam,” ujarnya saat dihubungi, Sabtu
‎(9/8/2014).

‎Dilain pihak, guru besar UIN Alauddin, Qashim Mathar juga menambahkan, pemberitaan mengenai ISIS yang begitu gencar di media menurut Qashim justru akan membuat umat Islam saling curiga. Pasalnya, bibit-bibit mengenai kemunculan ISIS di Indonesia dianggap masih lemah.

Selain itu, Qoshim juga berpendapat, adanya gerakan ISIS juga tidak lain, sebagai upaya mengalihkan isu atas peperangan yang terjadi di Gaza antara Israil dan Palestina. Karena diketahui, hampir satu bulan penuh peperangan masih terjadi antara kedua belah pihak dan sudan menewaskan ribuan orang yang kebanyakan dari warga sipil Palestina.

“Saya liat, selain pengalihan isu dari masalah kemanusiaan dan terorisme Israil di Gaza, ISIS juga mempunyai potensi memecah umat Islam. Jadi lebih baik abaikan saja, isu ISI di Indonesia, sampai ada bukti ada tokoh ISIS tertangkap oleh aparat,” katanya.

Oleh sebab itu, Qoshim meminta kepada masyarakat untuk tenang tidak usah heroik menanggapi masifnya pemberitaan ISIS. Menurutnya sebelum ditemukan bukti yang cukup bahwa ada gerakan ISIS di Indonesia, kata dia, anggap saja berita mengenai ISIS bohong.

“Jadi, buktikan dulu, baru kita percaya!, kita harus fokus pada persoalan terorisme di Israil. Karena negara besar di belakang Israil sekarang tengah mendapat tekanan internasional untuk menghentikan tindakan teror Israil di sana,”

“ISIS adalah pengalihan isu sampai terbukti bahwa bukan isu. Umat Islam jangan mau diadu domba saling curiga/fitnah lantaran isu,” jelasnya.

Komisi Penyiaran Indonesia juga sudah melarang kepada media nasional untuk memberitakan ISI secara berlebihan. Menurut Wakil Ketua KPI, Idy Muzayyad mengatakan, ajaran ISIS ‎bertentangan dengan asas penyiaran Indonesia untuk membangun integrasi nasional.

“Penyiaran Indonesia itu berasaskan Pancasila dan bertujuan memperkukuh integrasi nasional. Jadi, semua isi siaran yang bertentangan dengan itu tidak boleh disiarkan, termasuk ajaran ISIS,” ujar Idy melalu siaran persnya, Jumat (9/8/2014).

Idy khawatir, pemberitaan berlebihan mengenai ISIS justru akan menumbuhkan pendukung kelompok tersebut di Indonesia. Ia mengatakan, semakin banyak terpaan pemberitaan mengenai ISIS, semakin besar pula rasa ingin tahu masyarakat.

“Karena bisa akan bikin penasaran, rasa ingin tahu, dan bahkan simpati dari masyarakat. Ini jangan sampai terjadi,” tegasnya. (Abn)

 

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.