Rabu, 17 Juli 19

Hoax dan Spiral Keluh Kesah

Hoax dan Spiral Keluh Kesah

Oleh : Dr. Iswandi Syahputra, Dosen Ilmu Komunikasi di Universitas Islam Negeri ‎Sunan Kalijaga Yogyakarta
‎‎
‎Sudah takdir, manusia dicipatakan dalam keadaan berkeluh kesah. Seperti yang disebutkan dalam Al-Qur’an Surat Al-Ma’arij [70:19] ;

إِنَّ الْإِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا
Artinya : Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.

Mengapa orang sering berkeluh kesah? Saya bukan ahli agama, tapi ini dapat dipahami dengan nalar dan logika. Sehingga, analisis saya ini bukan berkehendak menafsiri ayat, tapi menguraikan mengapa orang berkeluh kesah? Hal ini yang kemudian saya sebut dengan ‘Spiral Keluh Kesah‘.

Pertama
Ini yang paling tertutup. Keluh kesah muncul karena tidak pandai bersyukur. Pandangan selalu ke atas, tidak pernah melihat ke bawah. Padahal cara mudah bersyukur adalah melihat ke bawah, bukan melihat ke atas. Cara lain bersyukur adalah dengan membangun prasangka baik pada Tuhan. Cara lain yang lebih mudah adalah dengan selalu mengingat Allah SWT.

Q.S Ar-Ra’ad [13:28] ;

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
Artinya : (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.

Nikmati saja yang ada, itu sudah cukup tanda bersyukur. Bersyukur dapat mendatangkan Kebahagiaan dan Kedamaian. Kebahagiaan dan Kedamaian itu soal rasa, bukan soal benda atau kuasa. Bersyukur dan berdamai itu memberi bukan menerima. Bersyukur dan berdamai itu berbagi bukan bekali. Bersyukur dan berdamai itu bergerak bukan diam.

Kedua
Ini semi tertutup/terbuka.

Keluh kesah muncul ketika ada ketimpangan antara apa yang diharapkan (desain) dan apa yang senyatanya (das sollen). Berharap diterima kerja, kenyataannya ditolak. Berharap mendapat pujian, yang diterima kritikan. Penyalurannya menjadi keluh kesah. Dalam konteks ini, keluh kesah itu sifat manusiawi. Lebih baik berkeluh kesah daripada menderita.

Dalam konteks ini pula keluh kesah adalah strategi menyalurkan energi negatif. Pada tatar personal, bentuknya bisa curhat. Pada tatar pejabat publik, bentuknya pencitraan sebagai objek penzoliman. Mencitrakan diri sebagai orang terzolimi adalah modus keluh kesah.

Ketiga
Ini yang paling terbuka.

Keluh kesah muncul karena tekanan silang dari kondisi di luar diri dan kondisi di dalam diri. Misalnya, dari luar dikritik begini dan begitu, tapi dari dalam menganggap kritik itu sebagai kebencian, permusuhan atau minimal ungkapan ketidaksukaan. Padahal kritik seharusnya dipahami sebagai ungkapan cinta dan kebersamaan. Tertekan oleh kritik, akhirnya berkeluh kesah.

Dalam konteks ini keluh kesah adalah kemarahan, ketersinggungan atau kekecewaan. Sehalus apapun bentuknya, ada dimensi marah, tersinggung dan kecewa.

Pada tatar personal, bentuknya bisa ngambek, mutung (Jawa) atau merajuk (Melayu). Pada tatar pejabat publik, bentuknya bisa penyimpangan kekuasaan. Menggunakan kekuasaan (baik halus maupun kasar) untuk membungkam berbagai kritik.

Pada saat ini, kondisi masyarakat di era media sosial memasuki spiral kedua. Suatu masyarakat dengan takdir suka berkeluh kesah, ditimpa dengan terlalu banyak diberi harapan tapi hanya sedikit yang dapat dipenuhi. Pertemuan keduanya memunculkan kekecewaan.

Pada sisi lain, ada media sosial yang kehadirannya dapat memfasilitasi berbagai ‘ruang-ruang kecewa’. Mulai dari ‘ruang tertutup’ seperti group chat, hingga ‘ruang terbuka’ seperti twitter dan facebook.  Ini seperti ‘tutup ketemu botol’. Dua kebetulan yang pas ketemu saling melengkapi.

Proses tersebut terlokalisir secara terbatas (grouping/in-group) antar sesama orang yang kecewa. Grouping/In-group tersebut seperti cairan kimia dalam botol kaca tertutup. Sangat dinamis, bisa dilihat, tetapi hanya berputar dalam botol.

Kemudian, tiap botol menjadi ruang-ruang berisi kekecewaan. Dalam satu botol yang tertutup, muncul puluhan, ratusan, ribuan, bahkan jutaan keluh kesah. Keluh kesah tersebut saling berdesakan dalam botol yang tertutup, hingga muncrat menjadi buih-buih hoax. Hoax adalah efek padatnya kekecewaan dalam satu botol yang tertutup.

Hoax bisa saja salah, tapi tentu punya dasar realitas sebagai basis imajinasi yang memproduksi berbagai khayalan, ilusi atau fantasi tentang kekecewaan. Dalam relasi antar kecewa, keluh kesah dan media sosial tersebut, hoax dapat dilihat sebagai bagian dari artefak budaya media sosial. Dengan hoax netizen bisa bergembira bahkan bahagia.

Ini memang berbahaya, dan sangat berbahaya. Karena memberikan kepuasan atas kekecewaan. Hoax dapat menjadi candu bagi netizen yang belum cukup ilmu atau para mualaf media sosial untuk berselancar di dunia maya.

Sekali lagi, ini memang berbahaya, tapi lebih berbahaya lagi jika kita memahami hoax sebagaihoax, bukan hoax sebagai metode protes.

‎Sebagai metode protes, pembuat hoax adalah orang yang cerdas melihat situasi kemudian memanipulasinya sedemikian rupa menjadi (katakanlah) seolah-olah benar. Ini mirip retorika memanipulasi realitas. Butuh kecerdasan dan kecerdikan untuk membuat hoax sebagai metode kritik.

Bagaimana mengatasi hoax?  Islam memberi banyak solusi yang sudah tertera dalam Al-Quran;

QS An-Nur  [24:11-12]

إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالإفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ لا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ مَا اكْتَسَبَ مِنَ الإثْمِ وَالَّذِي تَوَلَّى كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ
Artinya ;

Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar.

لَوْلا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ ظَنَّ الْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بِأَنْفُسِهِمْ خَيْرًا وَقَالُوا هَذَا إِفْكٌ مُبِينٌ
Artinya ;

Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohon itu orang-orang mu’minin dan mu’minat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: “Ini adalah suatu berita bohong yang nyata.”

Kemudian dalam QS An-Nur [24:15] ;

إِذْ تَلَقَّوْنَهُ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُمْ مَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمٌ
Artinya ;

(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar.

Dan juga dalam QS Al-Hujarat [49:6] ;

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
Artinya ;

Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian orang fasik dengan membawa berita, maka telitilah berita itu agar kalian tidak memberikan keputusan kepada suatu kaum tanpa pengetahun sehingga kalian akan menyesali diri atas apa yang telah kalian kerjakan.

Konsep kunci menghadapi hoax adalah tabayyun (mencari klarifikasi) dengan konfirmasi ke sejumlah sumber atau akses. Jika tidak bisa, maka diam lebih baik.

Tapi pilihan diam tetap tidak dapat melenyapkan produksi hoax. Kondisi ini bisa ditekan melalui teknik ‘muncul-pukul’. Begitu beredar berita hoax, pihak terkait langsung beri klarifikasi.

Proses berjalan pihak terkait menampakkan itikad baiknya dan bersungguh-sungguh bekerja, bukan bersungguh-sungguh dalam berpura-pura bersungguh-sungguh. Sambil bekerja, siapkan paket literasi media sosial. Bangun jembatan dengan mengajak diskusi para ahli dan korban hoax.

Kita bisa jika kita bersama. Mari membangun Indonesia dengan kritik, bukan hoax…‎

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.