Rabu, 24 April 19

Ahok Tak Layak Jadi Gubernur Lagi?

Ahok Tak Layak Jadi Gubernur Lagi?

Oleh: Muchtar Effendi Harahap, Ketua Dewan Pendiri NSEAS (Network for South East Asian Studies)

NSEAS (Network for South East Asian Studies) memperoleh informasi bahwa Ahok di media publik dengan sesumbar menantang para pesaingnya adu konsep dan program kerja dalam Pilkada DKI Jakarta 2017. Dia mengesankan para pesaing akan kalah soal konsep dan program kerja. Seakan selama ini dia punya konsep dan program. Padahal, program pembangunan DKI merupakan hasil kesepakatan DPRD dan eksekutif, tertuang pada Perda No.2 Tahun 2012 tentang RPJMD Jakarta. Semua target program terukur, dapat dibuktikan dengan angka kuantitatif.

Masalahnya, apakah Ahok berhasil melaksanakan program DKI selama dia jadi Gubernur?

Di lain pihak, pendukung buta Ahok (buta data, fakta dan angka) melalui medsos dan media massa menklaim Ahok berhasil. Klaim-klaim pendukung buta Ahok ini sungguh bertentangan dengan data, fakta dan angka dalam realitas objektif.

Sesungguhnya NSEAS menilai bahwa Ahok gagal dalam melaksanakan program kerja sesuai regulasi. Beberapa data, fakta dan angak sebagai rasionalisasi penilaian NSEAS ini sebagai berikut:

Pertama, rencana pembangunan 50.000 unit Rusunawa.Sampai saat ini baru direalisir Rusun Rawabebek sebanyak 4 blok (400 unit), Rusun Daan Mogot 8 blok (640 unit) yang dibangun oleh pengembang Podomoro, bukan Pemprov DKI, dan  Rusunawa Muara Baru 4 blok (400 unit) yang juga dibangun oleh pengembang Podomoro, bukan Pemprov DKI. Sementara Rusun Marunda, Rusun Kapuk Muara, Rusun Penjaringan kondisinya sangat memprihatinkan hancur, bocor, dan beberap bagian bangunan rusak (sangat tidak layak huni). Program Kampung Deret yang dijanjikan oleh Jokowi tidak jelas kemana. Sementara rencana pembelian lahan untuk Rusun di Cengkareng malah bermasalah (lahan sendiri dibeli).

Kedua, program penambahan ruang terbuka hijau dengan melakukan pembelian lahan realisasinya nol. Ada beberapa Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) yang sudah diresmikan ini sebenarnya sudah merupakan lahan terbuka hijau/taman, hanya disulap dijadikan RPTRA. Ini juga dilakukan oleh CSR perusahaan.

Ketiga, program rehab sekolah sampai saat ini belum ada realisasinya, terbentur oleh lelang konsolidasi yang gagal. Banyak sekolah yang tahun sebelumnya sudah dikerjakan tidak bisa diselesaikan alias mandeg dan terbengkalai.

Keempat,  rehab Gedung Olah Raga (GOR) tingkat kecamatan yang direncanakan dibangun/direhab sebanyak 4 GOR, yaitu di Kecamatan Pademangan, Kecamatan Cengkareng, Kecamatan Pancoran, dan Kecamatan Matraman gagal total, sementara bangunan lama sudah dibongkar.

Kelima, pembangunan pengganti Stadiom Lebak Bulus tidak jelas nasibnya.

Keenam, program Mass Rapid Transit  (MRT) yang direncanakan selesai tahun 2017 untuk tahap 1 (Lebak Bulus – Dukuh Atas), molor dari jadwal.

Ketujuh, rencana pengadaan 1.000 bus untuk Trans Jakarta baru terealisasi 100-an.

Kedelapan, program Light Rail Transit (LRT) atau kereta api ringan yang pembangunannya dicanangkan tahun 2016 belum terlaksana.

Kesembilan, rencana pembangunan gedung Badan Diklat Provinsi DKI Jakarta, tidak terealisir.

Kesepuluh, program pengendalian banjir dengan memperbanyak situ/danau sebagai tangkapan air di wilayah hulu, menguap entah ke mana.

Kesebelas, target/rencana penerimaan daerah tahun 2015 sebesar Rp 36 tritilun hanya terealisir 70% atau sekitar Rp 25 triliun.

Kedua belas, program pajak restoran online tidak jalan, malah sudah beli softwere (perangkat lunak) sekitar Rp 6 miliar. Uang rakyat DKI mubazir, tidak bisa diaplikasikan.

Data, fakta dan angka di atas menunjukkan Ahok gagal dan tak mampu melaksanakan program atau rencana kegiatan. Padahal dana APBD DKI sekitar Rp 70 triliun per tahun.

Tantangan Ahok adu konsep dan program terhadap pesaing, sesungguhnya untuk menutupi kelemahan diri sendiri. Pesaing Ahok seyogyanya menerima tantangan Ahok dengan menggunakan data, fakta dan angka kegagalan atau ketidakmampuan Ahok melaksanakan program DKI selama dia Gubernur. Bisa jadi, Ahok kemudian mencari kambinghitam pihak lain sebagaimana biasa sikapnya menghindari dari kegagalan atau ketidakmampuan diri sendiri.

Dia tak layak lanjut jadi Gubernur DKI lagi!

 

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.