Kamis, 21 November 19

Ekonomi dan Belanja Infrastruktur Indonesia ‘Kurang Nendang’

Ekonomi dan Belanja Infrastruktur Indonesia ‘Kurang Nendang’
* Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono. (Foto: pu.go.id)

Jakarta, Obsessionnews.com – Pembangunan infrastruktur yang menjadi prioritas pembangunan nasional merupakan sebuah pilihan yang logis dan strategis untuk mengejar ketertinggalan dan meningkatkan daya saing bangsa. Daya tahan Indonesia sangat tergantung pada ketangguhan infrastruktur yang dimiliki di kota, di desa, di kawasan pedalaman, di kawasan perbatasan, serta pulau-pulau terluar dan terdepan. Daya tahan ini terbukti dengan bertahannya Indonesia dalam stagnasi ekonomi dunia lima tahun terakhir ini.

 

Baca juga:

PGN Akan Bangun Sejumlah Infrastruktur Baru

Pembangunan Infrastruktur Dasar Ibu Kota Baru Dimulai Pertengahan 2020

ASN Diharapkan Mampu Tarik Swasta Percepat Bangun Infrastruktur

 

Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, peringkat daya saing infrastruktur Indonesia mengalami peningkatan, dari posisi 61 pada tahun 2013 menjadi 52 pada tahun 2018.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyadari sepenuhnya bahwa infrastruktur yang andal merupakan salah satu kunci penting dalam meningkatkan daya saing Indonesia. Kemudian pada tahun ini ekonomi Indonesia diperkirakan akan tumbuh sebesar 5,08%, sementara negara maju dan negara berpenduduk besar lain tumbuh di bawah angka Indonesia.

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono mengatakan, Presiden Jokowi dalam Visi Indonesia di Sentul, Bogor, Jawa Barat,  pada 14 Juli 2019 menyampaikan infrastruktur akan terus dilanjutkan, namun tidak berhenti di sana, melainkan harus dikaitkan dengan kemanfaatan ekonomi dari infrastruktur tersebut.

“Di samping itu juga dipastikan bahwa infrastruktur harus dihubungkan dengan   kawasan industri rakyat, industri kecil, kawasan ekonomi khusus, kawasan  pariwisata dan kawasan pertumbuhan lain,” kata Basuki mengutip ucapan Jokowi  saat menyampaikan orasi ilmiah pada acara Dies Natalis ke -53 dan wisuda semester genap tahun akademik 2018/2019 Universitas Pancasila, Jakarta, Selasa (1/10/2019).

Dikutip obsessionnews.com dari siaran pers, Rabu (2/10), dalam kesempatan itu Basuki mengungkapkan, kondisi ini juga berkaitan dengan fakta bahwa ICOR (Incremental Capital Output Ratio) pada 2018 berada pada angka 6,3. Artinya setiap peningkatan pertumbuhan ekonomi 1% membutuhkan peningkatan investasi infrastruktur sebesar 6,3%, sementara Vietnam yang 4,31, atau negara berpenduduk besar lain yang memiliki ICOR dibawah 5.

ICOR merupakan rasio yang menunjukkan hubungan antara peningkatan belanja modal (termasuk infrastruktur) dan pertumbuhan ekonomi yang masih tinggi. ICOR bisa menjadi salah satu parameter yang menunjukkan tingkat efisiensi investasi di suatu negara. Semakin tinggi nilai ICOR semakin tidak efisien suatu negara untuk investasi.

“Ekonomi kita belum efisien, dan belanja infrastruktur belum memicu sektor ekonomi lain bergerak. Singkatnya “kurang nendang”. Infrastruktur kita perlukan sebagai pengungkit dan memberikan dampak terhadap transformasi dan pertumbuhan ekonomi nasional,” tandas Basuki.  (arh)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.