Sabtu, 23 Oktober 21

Demi Bangsa, Teater Koma Tak Gentar Hadapi Pencekalan

Demi Bangsa, Teater Koma Tak Gentar Hadapi Pencekalan
* Cornelia Agatha sebagi Betari permoni dalam pentas Semar Gugat

Jakarta, Obsessionnews Teater Koma tidak terasa sudah berumur 39 tahun. Teater Koma dikenal sebagai wadah pentas seni dan budaya yang kerap mengkritisi pemerintah. Jaman orde baru dalam pentasnya, Teater Koma sering mengalami pencekalan sehingga pergelaran banyak dilakukan secara tertutup.

Pertunjukan Teater Koma sudah mencapai 143 pementasan. Teater pertama diadakan 1977 (2-5 Agustus) dengan judul lakon Rumah Kertas, sedangkan episode 143 berjudul Semar Gugat. Sesungguhnya Lakon Semar Gugat telah dipentaskan 20 tahun yang lalu (1995), kini 2016 kembali ditampilkan 3-10 Maret 2016 di Gedung Kesenian Jakarta.

Persembahan Teater Koma dalam lakon Semar Gugat kali ini dikemas dalam bentuk perkawinan tiga gaya, yakni Ludruk, Srimulat dan wayang. Tiga gaya itu adalah senjata kekuatan Teter Koma sejak awal kegiatannya 1977. Gaya bermakna apa adanya, menggelitik, wujud kesungguhan hati yang penuh canda, sekaligus menggerakan diri untuk bercermin, sebuah cubitan yang bersahabat dan penuh cinta.

Katua pimpinan Produksi Teater Koma Ratna Riantiarno mengatakan Teater Koma terus berkarya untuk meningkatkan nilai-nilai budaya Indonesia. Sebagaimana sebutan teater koma berartikan gerak berkelanjutan, senantiasa berjalan, tiada henti, dan tidak mengenal titik.

“Makanya kita sepakat memberi nama Teater Koma saat itu bukan teater titik, sebab kami tidak akan berhenti berkarya meskipun usia dan profesi berbeda tapi kami tetap berhimpun,” ungkapnya di Jakarta, Sabtu (5/3/2016).

Perkawinan lakon tiga gaya Ludruk, Srimulat dan Wayang yang dipakai bentuk kekuatan Teater Koma. Bukan saja itu gaya panggung Teater Koma kekinian selalu didasarkan atas kenyataan yang serba terbatas, ketidakpastian, nafas sendat, upaya agar senantiasa memiliki semangat hidup dan optimism terhadap kesia-siaan.

Lewat judul lakon Sampek Engtay, usai dipentaskan 24-25 Januari 2004 di Jogjakarta, akhirnya Sampek Engtay masuk MURI, Museum Rekor Indonesia, dimana diadakan pentas 80 kali selama 15 tahun dengan 8 pemain tetap. Bukan saja itu, selain pencekalan, teror, dan prestasi, Teater Koma juga berpartisipasi pada musibah kemanusiaan.

Pimpinan produksi Teater Koma Ratna Riantiarno bersama Sekretaris Bank BCA Inge Setiawati
Pimpinan produksi Teater Koma Ratna Riantiarno bersama Sekretaris Bank BCA Inge Setiawati

Melalui judul lakon Republik Togog diselenggrakan 28 Juli-6 Agustus 2004 di Gedung Kesenian Jakarta, dan 6-7 Januari 2005 di GBB-TIM sukses di pentaskan. Teater Koma menyelenggarakan pentas amal untuk musibah tsunami Aceh-Sumut, berhasil mengumpulkan Rp 175.495.000. Dana itu disumbangkan melalui dana kemanusaiaan Kompas.

Daftar produksi Teater Koma melewati situasi dramatis:
1. Rumah Kertas, 3-5 Agustus 1977, teater tertutup di Taman Ismail Marzuki (TIM)

2. Maaf. Maaf. Maaf, 12-16 April 1978 teater tertutup di TIM

3. Maaf. Maaf. Maaf, 5-6 Mei 1978 di Universitas Indonesia (UI), dimana saat itu dilarang juga berpentas di kampus Univesitas di Bandung, Yogyakarta dan Surabaya. Ini pencekalan pertama teater Koma

4. J.J-Jihan Juhro, 1-7 September 1979, teater tertutup di TIM

5. Kopral Doel Kotjek, 20-26 November 1981 teater tertutup di TIM

6. Bom Waktu, 24-30 September 1982 teater tertutup di TIM

7. Opera Ikan Asin, 30 Juli-8 Agustus 1983 teater tertutup di TIM

8. Opera Kecoa, 23-25 Agustus 1983 di Bandung, saat itu mendapat ancaman bom lewat telepon, Gedung Rumentang siang disterilkan aparat.

9. Wanita-Wanita Parlemen, 20 April-5 Mei 1986 di GBB-TIM, N Riantiarno di interogasi di belakang panggung GBB-TIM, oleh 2 polisi selama 2 malam.

10. Sampek Engtay, 27 Agustus-13 September 1988 di Gedung kesenian Jakarta, saat itu N Riantiarno diintrogasi sehari penuh di markas BAKIN, pintu Sembilan Senayan. Karya ini akhirnya sering dipentaskan.

11. Sampek Engtay, 20 Mei 1989 di Medan, pentas di larang oleh aparat Kanwil DEPDIKBUD, sesudah pentas gladi resik, Tiara convetion. Polisi mencabut surat izin karena DIKBUD Medan mendadak menarik surat rekomendasi.

12. Konglomerat Burisrawa, 24 Maret-9 April 1990 di GBB-TIM, saat itu nyaris dicekal, N Riantiarno diinterogasi lewat telepon sesudah pentas GR.

13. Suksesi, 28 September-11 November 1990 di GBB-TIM, pelaksanaan kegiatan dilarang oleh polisi pada hari pentas ke- 11, 8 November setelah selama sepuluh hari N Riantiarno diintrogasi di KODAM dan KOMDAK.

14. Opera Kecoa, 28 November-7 Desember 1990 di Gedung kesenian Jakarta. Pentas uji-coba sebelum pergelaran di 4 kota di Jepang ; Tokyo, Osaka, Fukuoka, Hiroshima. Bahkan untuk GR puln dilarang oleh polisi. Sebagai akibat, pentas keliling Jepang yang sudah dipersiapkan selama 2 tahun, akhirnya dilarang oleh pemerintah. Akhirnya para seniman protes, kemudian menghadap DPR-RI dan Menkopolkam, namun Mensesneg tetap mencekal Opera Kecoa ke Jepang.

15. RSJ, 10-15 Maret 1992, teater tertutup di TIM.

16. Tiga Dewa dan Kupu-Kupu, 27 Juni-12 Juli 1992. N Riantiarno telah diintrogasi oleh direktur semua istansi terkait, selama satu hari penuh.

17. Opera Primadona, 28 Juli-13 Agustus 2000 di TTA-TMII. Pentas itu mengalami ancaman bom dua kali lewat telepon, akhirnya Gedung TTA disterilkan Polsek Cijantung. (Asma)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.