Senin, 11 Desember 17 | 11:18 WIB

  • Flipboard
  • Linkedin

Akun Palsu, Kata Palsu

Akun Palsu, Kata Palsu

Oleh: Haidar Majid, Ketua Fraksi Partai Demokrat DPRD Provinsi Sulawesi Selatan

 

Beberapa hari lalu saya mendapat ‘serangan’ dari sebuah akun yang menyamarkan diri dengan menggunakan nama yang pasti bukan nama sebenarnya. ‘Tradisi’ akun-akun seperti ini sebenarnya biasa saja di dunia maya dengan motif yang jelas, agar leluasa menuding, mengata-ngatai dan bicara apa saja. Logika ini juga sederhana saja, toh orang tak bakalan tahu, siapa saya sebenarnya.

Malah, bisa jadi, selain membuat akun anonim atau akun palsu atau apalah namanya, secara individu, mungkin ada juga pihak yang secara sengaja ‘beternak’ akun-akun seperti ini. Tujuannya juga jelas, agar mereka terlihat banyak, agar mereka bisa sahut-menyahut, agar lebih banyak lagi dari mereka yang bisa berkata apa saja dan menuding siapa saja yang mereka kehendaki.

Gaya main akun anonim atau palsu ini sebenarnya gaya purba yang cenderung kampungan dan boleh dibilang ketinggalan zaman. Kenapa? Karena ini gaya bisik-bisik yang sering sekali dilakukan oleh orang awam ketika menyebar hoaks atau juga fitnah.

“Ada mau kukasih tau kan ki, tapi jangan bilang dari saya nah”.

“Ada sesuatu yang ingin saya sampaikan, tapi awas loh, jangan bilang dari saya !”

Bedanya hanya pada wilayah ruang saja. Kalau bisik-bisik itu adanya di dunia nyata, orangnya terlihat, hanya saja tidak ingin identitasnya ketahuan; sementara akun anonim atau palsu itu memang berada pada ruang yang samar, menggunakan teknologi; sehingga yang bersangkutan bisa lebih leluasa. Tapi pada prinsipnya, sekali lagi keduanya sama saja, purba, kampungan dan ketinggalan zaman.

Di era IT seperti sekarang ini, sebenarnya tak guna lagi seseorang menyembunyikan identitas. Toh pada akhirnya bisa ketahuan, meski secara langsung tidak, tetapi dari tutur kalimat dan cara membangun jaringan, sangat bisa ditebak sebuah akun berafiliasi kemana dan apa motif serta tujuannya. Itulah mengapa saya katakan kalau cara ini sebenarnya “ketinggalan jaman”, karena dirinya sedang terjebak di alam primitif dengan menggunakan media modern.

Bayangkan, bagiamana tersiksanya seseorang atau sekelompok orang yang hidup serba primitif di alam modern. Mau eksis tapi tak tampak, mau bertutur tapi sembunyi, dan mau terkenal tapi enggan dikenal. Sangat tersiksa. Malah lebih jauh, orang seperti ini cenderung menganiaya diri, hidup di alam “jangan-jangan”. Jangan-jangan saya ketahuan, jangan-orang orang tahu siapa saya.

Belum lagi dengan ‘ketakutan’ tambahan. Jangan-jangan apa yang saya katakan tidak sesuai dengan keinginan ‘peternak’ akun. Jangan-jangan apa yang saya lakukan justru merugikan yang ‘mengorder’. Jangan-jangan status saya justru menguntungkan orang yang saya serang, sekaligus mengundang simpati banyak orang. Serba jangan-jangan. Dan yang paling miris, jangan-jangan kuota habis dan semua sia-sia.

Dengan begitu, pemilik akun anonim atau akun palsu pantas dikasihani. Bukankah pemilik akun seperti ini hidup dalam ketidakpastian, serba was-was, selalu cemas dan jarang enjoy. Mereka bukan tipe orang yang bisa menikmati hidup. Mereka bukan penerima manfaat dari indahnya berinfomasi teknologi. Mereka menyalahgunakan manfaat dan bergelimang mudarat. Kasihan sekali.

Terlepas dari itu semua, menjadi penting untuk diingat bahwa “jangan pernah melihat orangnya tapi dengarkan apa yang dikatakan”. Akun anonim atau akun palsu yang bilang kalau saya itu sombong, menjadi semacam alat introspeksi diri untuk terhindar dari sifat itu. Juga menjadi penting pula untuk diingat, bahwa sebaiknya jika ingin menyampaikan sesuatu, sebaiknya menunjukkan jati diri yang sebenarnya. Setidaknya kita bisa berterima kasih sudah diingatkan, juga jangan membuat orang berasumsi negatif, karena akunnya palsu, pasti kata-katanya juga palsu. (*)

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *