Sabtu, 21 Mei 22

Yohana Yembise Kecam Tindakan Pelaku Penganiayaan Siswi SMP di Pontianak

Yohana Yembise Kecam Tindakan Pelaku Penganiayaan Siswi SMP di Pontianak
* Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Yohana Yembise. (foto: Women Obsession)

Jakarta, Obsessionnews.com – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Yohana Yembise mengecam sekaligus miris atas perbuatan pelaku penganiaya terhadap siswi SMP AY (14) di Pontianak, Kalimantan Barat, beberapa waktu lalu.

 

Baca juga: Murid SMP Dikeroyok 12 Siswi SMA

 

“Saya sangat mengecam tindakan yang dilakukan oleh pelaku. Mirisnya lagi, bukan hanya korban tapi pelaku juga masih berusia anak,” ujar Yohana di Jakarta, Rabu (10/4/2019).

Boleh jadi kasus ini terjadi karena luputnya pengawasan orang dewasa. Jika ada yang keliru pada sikap anak-anak, berarti juga ada yang keliru pada orang dewasa yang merupakan contoh bagi anak-anak.

 

Baca juga:

Video Mesum Pelajar Madiun yang Viral Dibuat Saat Masih SMP

SMP Islam Al Azhar 1 Kebayoran Bergabung dalam Australian Jamboree 2019

Haru Biru PPDB SMP Negeri Sistem Zonasi 90% di Kota Bandung

 

Yohana menilai tindakan para pelaku dengan alasan dan kondisi apapun, serta meski usia anak sekalipun, tidak pernah bisa dibenarkan. “Prinsip zero tolerance bagi seluruh pelaku kekerasan pada anak harus ditegakkan,” tegasnya.

Selain itu, perempuan kelahiran Manokwari, Papua Barat, 1 Oktober 1958 ini mengapresiasi respons cepat dari pemerintah daerah, khususnya Dinas PPPA Provinsi Kalimantan Barat yang telah berkoordinasi dengan Komisi Perlindungan dan Pengawasan Anak Daerah (KPPAD) Kalimantan Barat dan Polresta Pontianak, dalam mengupayakan tindaklanjut dan pendampingan kasus ini.

Guru besar perempuan pertama dari Papua itu berharap kasus ini tetap dikawal sampai selesai dan menemukan jalan terbaik bagi semua pihak. Korban dan pelaku sama-sama berusia anak. “Saya harap keduanya bisa diberikan pendampingan. Korban didampingi proses trauma healingnya, sedangkan pelaku didampingi untuk pemulihan pola pikir atas tindakan yang telah dilakukan,” kata Yohana.

“Paling penting, kita harus memastikan pemenuhan hak-hak mereka. Sebagai korban ataupun pelaku, mereka tetap anak-anak kita. Sudah seharusnya kita lindungi dan kita luruskan jika mereka berbuat salah,”tambahnya. (Poy)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.