Selasa, 27 September 22

Wamenag: UIN Syarif Hidayatullah Dikenal sebagai Kampus Pembaharuan Pemikiran Islam

Wamenag: UIN Syarif Hidayatullah Dikenal sebagai Kampus Pembaharuan Pemikiran Islam
* Wakil Menteri Agama (Wamenag) RI Zainut Tauhid Sa'adi menjadi "keynote speech" atau pembicara kunci dalam webinar nasional yang bertema “Kontribusi Pendidikan Tinggi Islam dalam Merajut Kebhinekaan: Refleksi 75 Tahun Kemerdekaan RI” di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Selasa (18/8/2020). (Foto: istimewa)

Jakarta, Obsessionnews.com – Wakil Menteri Agama (Wamenag) RI Zainut Tauhid Sa’adi mengunjungi Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Selasa (18/8/2020) untuk menjadi keynote speech atau pembicara kunci dalam webinar nasional yang bertema “Kontribusi Pendidikan Tinggi Islam dalam Merajut Kebhinekaan: Refleksi 75 Tahun Kemerdekaan RI”. Webinar ini merupakan bagian dari rangkaian Milad UIN Syarif Hidayatullah yang ke-63.

 

Baca juga:

Ini Penjelasan Wamenag Zainut tentang Penggunaan Asrama Haji untuk RS Darurat Tanggulangi Corona

Wamenag Zainut: Siskohat Memberikan Kepastian dan Keadilan kepada Semua Calon Jemaah Haji

Peringati HUT ke-75 Kemerdekaan RI, MUI Sampaikan Pesan Kebangsaan

 

Wamenag menuturkan, UIN Syarif Hidayatullah mengemban amanat umat untuk menjadi salah satu perguruan tinggi unggulan. UIN Syarif Hidayatullah dikenal sebagai kampus pembaharuan pemikiran Islam dengan tokoh-tokoh besar pembaruan Islam, seperti Prof. Harun Nasution, Prof. Nurcholish Madjid (Cak Nur), Prof. Quraish Shihab, Prof. Azyumardi Azra, dan sebagainya. Mereka pada umumnya berasal dari latar belakang kaum santri yang berakar kuat pada tradisi pesantren dan menguasai khazanah keilmuan Islam klasik yang sangat kaya dan memukau.

“Para tokoh UIN Jakarta ini memperlakukan khazanah Islam sebagai tradisi yang hidup (living tradition), yang dikembangkan secara kritis, ilmiah dan kontekstual,” ujar Zainut.

Menurutnya, mereka menjadi ikon bagi terjadinya perjumpaan karakter dan budaya secara utuh, hasil dari dialektika nilai-nilai keilmuan yang positifistik dan nilai-nilai keislaman yang memiliki aspek aksiologis. Dan legacy mereka sangat penting untuk terus dikaji, didesiminasi di ruang-ruang publik agar dunia turut menerima manfaatnya.

“Semangat para tokoh tersebut penting untuk terus diwariskan. Merawat tradisi dan integrasi di UIN adalah bagian dari merawat kebhinekaan dan kebangsaan Indonesia, karena UIN adalah miniatur Indonesia. Dan UIN dapat menyatukan keanekaragaman budaya, bahasa, etnis, suku, ras, golongan, dan agama,” katanya.

Zainut menyebut kekhasan orang-orang UIN ini adalah komitmennya pada nilai-nilai Islam yang moderat, wasathiyah, yang berlandaskan pada keislaman, keilmuan, kemanusiaan, dan keindonesiaan. Komitmen pada nilai-nilai ini jelas telah memberikan kontribusi besar dalam upaya bersama merawat dan merajut kebhinekaan Indonesia. Penguatan nilai-nilai ini bahkan menjadi semakin relevan di tengah merebaknya tren fanatisme, radikalisme dan intoleransi di tengah masyarakat, baik di dunia nyata maupun di dunia maya. (arh)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.