Rabu, 5 Agustus 20

Wamenag RI: Larangan Beribadah di Masjid dalam Kondisi Pandemi Covid-19 untuk Keselamatan Jiwa  

Wamenag RI: Larangan Beribadah di Masjid dalam Kondisi Pandemi Covid-19 untuk Keselamatan Jiwa   
* Wakil Menteri Agama (Wamenag) RI Zainut Tauhid Sa'adi. (Foto: dok. pibadi)

Jakarta, Obsessionnews.com – Wakil Menteri Agama (Wamenag) RI Zainut Tauhid Sa’adi memberikan apresiasi dan penghargaan kepada seluruh umat beragama yang mengikuti anjuran para tokoh agama, dan anjuran pemerintah untuk melaksanakan ibadah di rumah dalam rangka menerapkan physical distancing demi menghambat penyebaran Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Hal tersebut sebagai bentuk ketaatan beribadah sebagai umat beragama dan bentuk tanggung jawab sebagai warga negara.

 

Baca juga:

Ini Penjelasan Wamenag Zainut tentang Penggunaan Asrama Haji untuk RS Darurat Tanggulangi Corona

Wamenag Zainut: Siskohat Memberikan Kepastian dan Keadilan kepada Semua Calon Jemaah Haji

Urungkan Niat Mudik Sama dengan Jihad untuk Kemanusiaan

 

“Larangan beribadah di masjid dan tempat ibadah lainnya dalam kondisi pandemi Covid 19 semata-mata untuk menjaga keselamatan jiwa, baik untuk dirinya sendiri maupun orang lain,” kata Wamenag dalam keterangan tertulis yang diterima obsessionnews.com, Jumat (1/5/2020).

Menurutnya, menjaga keselamatan jiwa ( hifdzu an-nafs ) merupakan salah satu kewajiban utama dalam beragama.

Zainut mengungkapkan, menjaga jiwa juga erat kaitannya untuk menjamin atas hak hidup manusia seluruhnya tanpa terkecuali. Hal ini tercantum dalam QS. Al-Maidah ayat 32 yang artinya, : ” … dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.“

Ia menuturkan, ada pemahaman masyarakat yang salah terhadap penerapan pembatasan dalam Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), yakni membandingkan terjadinya pembatasan di tempat ibadah dengan tempat lainnya seperti pabrik, pasar atau tempat berkerumun lainnya. Jika di tempat ibadah penerapannya dilaksanakan secara ketat, misal dengan digembok atau dengan tindakan pembubaran ibadah. Sementara di tempat lain dilakukan dengan longgar.

“Hal ini menimbulkan salah paham seakan-akan ada diskriminasi perlakuan.  Padahal seharusnya tidak dalam posisi yang diperhadapkan antara pembatasan di tempat ibadah dengan pabrik atau pasar, karena berkaitan dengan upaya penyelamatan jiwa umat manusia, sehingga harus dimaknai sebagai kewajiban dan perintah agama, yang berlaku untuk siapa saja dan di mana saja,” tandas Zainut.

Umat beragama, lanjutnya, seharusnya bersyukur karena dari sekian pembatasan yang ada, umat beragama termasuk yang paling banyak menaatinya, sehingga keselamatan akan kembali kepada dirinya. (arh)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.