Ubah Nasib Jadi Lebih Baik Melalui Pelatihan Pembuatan Kawat Bronjong

Gayo Lues, Obsessionnews.com - Sosok pria kurus dan berkulit gelap itu tampak serius menggulung kawat putih yang ada di tangannya. Ia terus memelototi gulungan kawat seolah tak ingin ada kesalahan sekecil apa pun. Pria yang tidak sempat menamatkan SD itu bernama Abdul Muis. Usianya 43 tahun. Sehari-harinya, Abdul, begitu panggilan akrabnya, bekerja sebagai petani jagung dan kakao di Desa Pintu Rime, Kecamatan Pining, Kabupaten Gayo Lues, Aceh. Ini adalah kali pertama ia mengikuti pelatihan lifeskill pembuatan kawat bronjong yang digagas oleh Direktorat Pemberdayaan Alternatif Badan Narkotika Nasional (BNN). Kawat bronjong umum digunakan di desa untuk mencegah erosi, mengusir hama atau sebagai pagar pelindung tanaman. Pelatihan yang dilaksanakan pada 15-17 Oktober 2019 ini diikuti oleh 48 orang yang berasal dari 6 kecamatan di Gayo Lues. Baca juga:Cegah Narkoba, BNN Ajak Masyarakat Manfaatkan MediaBNN Amankan 20 Kg Sabu dari Oknum Sipir Lapas Kelas II B LangsaBNN Gelar ‘Induction Training’ untuk Tingkatkan Kinerja Pegawai Abdul antusias mengikuti pelatihan. Ia bersama seorang temannya rela menempuh jarak 50 kilometer pulang-pergi dari rumah menuju ke lokasi pelatihan dengan menggunakan sepeda motor, atau biasa ia sebut kereta. [gallery link="file" columns="1" size="full" ids="293687,293688"] Dia berharap pelatihan yang diikutinya ini dapat menambah sumber penghasilannya kelak, demi masa depan anak-anaknya yang lebih baik. Penghasilannya sebagai seorang petani saat ini dirasakannya kurang. Bila musim petik kakao bagus, paling banter ia hanya mendapatkan Rp 1 juta tiap bulannya. Namun, bila kakao banyak dimakan monyet atau cuaca sedang kurang bersahabat, maka ia mesti siap menerima uang kurang dari satu juta. Uang yang diperoleh ia gunakan untuk menghidupi istri dan tiga anaknya. Dua diantaranya duduk di bangku SD dan SMA, sedangkan satunya masih balita. Halaman selanjutnya Sementara untuk jagung hanya bisa dipanen dua kali dalam setahun. Dalam sekali panen biasanya ia memperoleh hasil 1 ton. Jagung tersebut kemudian ia jual kepada seorang tauke di kampungnya seharga Rp. 3.500 perkilo. Lahan jagung kurang dari 1 hektar yang ia garap ini pun bukanlah miliknya pribadi karena statusnya masih kepunyaan keluarga besarnya. Abdul yang cuma bisa sedikit baca tulis ini punya keinginan yang tidak muluk-muluk. Ia berharap anak-anaknya nanti bisa lulus SMA atau setingkatnya. “Saya ingin hidup anak-anak lebih baik ke depannya, tidak seperti sekarang ini,” ujarnya dengan bahasa Indonesia yang agak terbata-bata seperti dikutip obsessionnews.com dari siaran BNN, Rabu (16/10). Sosok seperti Abdul hanyalah contoh kecil masyarakat pedesaan di kawasan rawan narkoba yang berkeinginan untuk mengubah nasibnya menjadi lebih baik. Program Grand Design Alternative Development (GDAD) yang diluncurkan BNN melalui Deputi Bidang Pemberdayaan Masyarakat sejak tahun 2016 hingga saat ini telah menyasar banyak masyarakat yang tinggal di sebagian wilayah Gayo Lues, Aceh Besar, dan Bireuen. Program GDAD bukan hanya memberikan gambaran bahwa pemerintah hadir di tengah masyarakat namun juga sebagai upaya menumbuhkan sikap optimis masyarakat untuk kehidupan yang lebih baik. Oleh karena itu keterlibatan berbagai elemen pemerintah dan masyarakat sangatlah diperlukan untuk menyukseskan program ini. (arh)





























