Sabtu, 28 Januari 23

Tiga Ribu Koperasi di Jatim Tidak Aktif

Tiga Ribu Koperasi di Jatim Tidak Aktif
* Wagub mendampingi menteri koperasi Grand Opening Kopwan Setia Budi Malang beberapa waktu lalu. (Obsessionnews.com/Ari Armadianto)

Surabaya, Obsessionnews – Sedikitnya 3 ribu koperasi di Jawa Timur tidak aktif. Permasalahan yang dihadapi koperasi, diantaranya masih rendahnya kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), pelayanan dan pengelolaan usaha umumnya masih tradisional.

“Selain itu, kemampuan pemasaran yang terbatas dan jejering kerja yang masih rendah menjadi pekerjaan rumah (PR) besar bagi Pemprov (pemerintah provinsi) Jatim,” ungkap Wakil Gubernur Jatim, Syaifullah Yusuf, Selasa (26/5/2015).

Perkembangan koperasi di Jatim yang jumlahnya pada tahun 2014 mencapai 30.866 koperasi 34% nya didominasi oleh koperasi wanita (kopwan). Anggota koperasi tersebut terdiri dari Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang menurut data sensus UMKM mampu menyumbang 54,48% PDRB Jatim.

“Karenanya, kami akan terus melakukan edukasi keuangan kepada masyarakat dan memberikan perlindungan kepada konsumen. Agar mempermudah masyarakat dalam memanfaatkan layanan jasa keuangan dengan biaya yang terjangkau,” katanya.

Menurutnya, produk jasa keuangan seperti kopwan akan mampu bersaing dalam era globalisasi. Karena melalui koperasi pembeli juga termasuk pemilik, dan konsumen sekaligus produsen. Jika bisnis koperasi seperti minimarket-minimarket semakin diperbanyak di semua pelosok, maka dengan sendirinya akan menggeser minimarket milik asing.

“Jika pembeli dilibatkan sekaligus sebagai pemilik, laba yang diperoleh akan dikembalikan lagi pada konsumen. Saya yakin anggota koperasi akan semakin banyak. Dampaknya ekonomi masyarakat bisa meningkat dan bisa menggantikan minimarket asing yang menguasai Indonesia sampai saat ini,” jelasnya.

Ia berharap, program Pemprov Jatim  yang dimulai tahun 2015 ini melalui dua ribu infrastruktur LKM berbasis fungsional dengan memberikan bantuan modal hibah dari APBD Jatim sebesar Rp. 25 juta/kopwan bisa tercapai.

“Sebab 93,36% wanita di Jatim adalah muslimah, maka melalui kopwan-kopwan tersebut akan mampu mewujudkan kopwan syariah. Sejalan dengan geliat ekonomi syariah yang pesat selama dua tahun terakhir, utamanya dengan dipilihnya Jatim sebagai contoh penerapan ekonomi syariah,” pungkasnya. (GA Semeru)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.