Jumat, 2 Desember 22

Teknologi Bayangi Angkutan Umum, Pemerintah Diminta Menatanya

Teknologi Bayangi Angkutan Umum, Pemerintah Diminta Menatanya
* Suasana diskusi “Menilik Kebijakan Transportasi Publik DKI Jakarta” yang diselenggarakan oleh Suropati Syndicate di Kawasan Taman Suropati, Jakarta Pusat.

Jakarta, Obsessionnews.com – Perkembangan teknologi terus membayangi eksistensi sarana transportasi angkutan umum yang terkesan masih jadul (mikrolet, kopaja, metromini). Jika ingin bersaing dan tidak mau tergerus oleh perkembangan jaman, menjadi keharusan bagi transportasi jadul ini memanfaatkan teknologi.

“Transrpiatasi bergerak panduan pertamanya adalah teknologi,” kata Musyafaur Rahman, Komisaris Perum Damri dalam sesi diskusi publik “Menilik Kebijakan Transportasi Publik DKI Jakarta” yang diselenggarakan oleh Suropati Syndicate di Kawasan Taman Suropati, Jakarta Pusat, Minggu (21/1/2018) malam.

Masyarakat yang tinggal di kota-kota besar yang notabene sangat melek dengan teknologi perlahan mulai meninggalkan transportasi jadul beralih ke jenis transportasi online. Selain teknologi, faktor ekonomis, kenyamanan, dan keamanan menjadi pertimbangan utama mereka lebih memilih transportasi online.

“Mereka kalah cepat ambil penumpang dengan Gojek atau Grab misalnya, kalah fleksibel,” katanya.

Saatnya kata Musya, pemerintah menata kembali angkutan jadul agar bisa kembali berjaya pada masanya dulu dengan menggunakan teknologi. Yang terpenting lagi adalah bagaimana supaya angkutan jadul ini tidak memperparah kemacetan kota. Munurut dia, ke depan angkutan jadul sudah harus terintegrasi seperti Transjakarta.

“Kalau mereka bisa dibuatkan lebih aman, gak ada lagi copet di dalam, semua pakai AC sehingga orang nyaman dan merasa aman. Saya yakin ini bisa ditatata. Saya rasa pemda harus pikirkan supaya tidak saling tubrukan,” tandas dia.

Di tempat yang sama, Akhmad Izzul Waro dari Masyatakat Transportasi Indonesia (MTI) menilai tidak jadulnya angkutan umum membuat masyatakat termotivasi untuk memiliki kenderaan pribadi. Hal inilah membuat kemacetan jalanan semakin parah, karena meningkatnya volume kendaraan.

“Macet karena kapasitas jalan dibangun tidak sebanding dengan pertumbuhan kendaraan, tapi perlu dilihat kenapa masyarakat terdorong memiliki kendaraan pirbadi ?Angkutan umum tidak canggih, tapi disisi lain ada faktor sosial setelah ekonominya membaik dia ingin punya kendaraan sendiri,” kata Waro. (Has)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.