Senin, 24 Februari 20

Tantangan Pancasila

Tantangan Pancasila
* Hendrajit. (Foto: dok. pribadi)

Oleh: Hendrajit, Pengkaji Geopolitik, dan Direktur Eksekutif Global Future Institute

Pernyataan Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Yudian Wahyudi itu mundur ke belakang. Sekarang ini tantangan Pancasila adalah bagaimana menjadikan dirinya sebagai perangkat konkret untuk membuktikan apa yang disebut intisari bangsa kita. Apa yang dimaksud dengan satu keutuhan khas bangsa Indonesia. Apa yang eksklusif dan otentik dari yang namanya Indonesia. Bukan sekadar sebagai slogan atau jargon. Tapi sebagai dasar untuk penyusunan strategi kebudayaan.

Ketika Pancasila mampu membuktikan bahwa ada satu keutuhan khas bangsa kita, yang eksklusif dan otentik Indonesia, maka apa pun yang kita ramu dari berbagia budaya asing, pada akhirnya akan menuntun kita menemukan intisari bangsa kita. Bukannya jadi objek pencangkokan budaya asing ke dalam budaya bangsa kita. Sebab satu keutuhan khas bangsa itulah yang jadi penuntun penyusunan skema, strategi dan sistem nasional kita,

Untuk urusan ini Jepang sudah selesai. Korea sudah selesai. India sudah selesai. Cina sudah selesai. Sehingga negara-negara Asia itu berhasil membuktikan bisa jadi negara modern tanpa jadi Barat. Tanpa menjadi objek westernisasi atau pembaratan.

Perang dingin era global saat ini bukan kapitalisme versus komunisme. Perang dingin di era saat ini adalah pertarungan modernitas. Mau jadi modern ala Barat, atau jadi modern dengan mengawinkan masa depan dan masa lalu secara timbal balik. Menjadi modern karena mengenali kekuatan sejarah kita sendiri.

Tren global kebangkitan negara-negara Asia yang jadi modern tanpa jadi Barat, pada perkembangannya telah meresahkan berbagai kalangan di negara-negara Barat, khususnya Amerika. Universalisme Barat sepertinya akan segera berakhir. Sehingga cara pandang Barat yang memandang modernitas berarti memandang ke masa depan dan meninggalkan masa silam. Ternyata tidak tebukti di Jepang, India dan Cina. Negara-negara Asia itu justru jadi modern karena menemukan ciri khas lokalnya yang eksklusif dan otentik. Maju ke depan dengan memberdayakan masa lalunya, namun melalui suatu cara pandang baru.

Ketika India, Cina, Korea, Taiwan, dan Jepang berhasil merespons tantangan zaman, kita masih jalan di tempat. Masih menyoal apakah Pancasila itu agama atau bukan.

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.