Selasa, 29 November 22

Tangan Dingin Sofyan Basir Cetak PLN Untung Rp30,9 Triliun

Tangan Dingin Sofyan Basir Cetak  PLN Untung Rp30,9 Triliun
* Direktur Utama PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Sofyan Basir.

Jakarta, Obsessionnews – Direktur Utama PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Sofyan Basir terpilih sebagai salah seorang tokoh berpengaruh di Indonesia 2015 versi Majalah Men’s Obsession. Profilnya dimuat di majalah terbitan Jakarta edisi Agustus 2015 itu dengan tema utama ’70 Tokoh Berpengaruh di Indonesia 2015’.

Apa jadinya jika PLN terpuruk dan mengakibatkan pasokan listrik terganggu? Sungguh tak terbayangkan vitalnya peran dan pengaruh Sofyan Basir. Berkat sentuhan tangan dinginnya, dalam tempo beberapa bulan ia sukses membawa PLN mencetak untung Rp30,9 triliun.

Listrik kini sudah menjadi kebutuhan vital manusia modern. Tanpa listrik, roda ekonomi pun terhenti. Perusahaan yang paling bertanggung jawab atas hal itu adalah PLN, yang dinakhodai Sofyan semenjak 22 Desember 2014.

Amanah yang dipercayakan oleh Presiden Joko Widodo ke pundak Sofyan itu tentulah sudah memperhitungkan segala aspek. Terutama kapabilitas, integritas, dan rekam jejak Sofyan selama ini dalam mengurus Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Apalagi jika mengingat PLN adalah salah satu BUMN yang kerap merugi.

Sofyan bukan eksekutif biasa. Sebelum dipercaya memimpin PLN, Sofyan sukses luar biasa dalam mengantar Bank BRI menjadi bank BUMN terbesar peraih laba tertinggi dari tahun ke tahun.

Di bawah kepemimpinannya sejak 17 Mei 2015, Sofyan sukses membawa BRI meraih berbagai penghargaan bergengsi, dalam dan luar negeri. Tahun 2011, misalnya, BRI masuk dalam daftar sepuluh besar perusahaan versi Forbes Indonesia dengan total pendapatan di atas US$ 1 miliar. BRI menjadi satu-satunya perusahaan perbankan dalam peringkat sepuluh besar.

Sebelum meninggalkan BRI yang ia besarkan dalam tempo sepuluh tahun pada 2014, Sofyan kembali sukses mengantarkan BRI meraih penghargaan bergensi sebagai Bank Domestik Terbaik di Indonesia (The Best Domestic Bank) 2014 dari Asiamoney Magazine Award 2014 di Hongkong.

Beberapa pekan sebelumnya, BRI juga meraih juara umum Annual Report Award (ARA) 2013 dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dengan mengalahkan 261 peserta yang terdiri dari perusahaan dan dana pensiun. BRI juga berhasil menyabet penghargaan Juara 1 kategori BUMN Listed Company.

Dengan rekam jejak tak tertandingi seperti itu, kapabilitas Soyan memimpin PLN tentu tak bisa diragukan lagi. Terbukti, PLN yang hingga akhir tahun 2013 masih merugi sebesar Rp30,9 triliun, berhasil ia putar situasinya 180 derajat menjadi untung dengan laba Rp13,7 triliun pada 2014.

Sepanjang tahun lalu, PLN mencetak pendapatan usaha sebesar Rp296 triliun, atau meningkat 14,72 persen dibandingkan pendapatan tahun sebelumnya di angka Rp258 triliun. Walhasil, perusahaan listrik pelat merah ini dapat membukukan laba bersih sekitar Rp13,7 triliun dari posisi kas perseroan 2013 yang mengalami kerugian sebesar Rp Rp 30,9 triliun.

Sepanjang enam bulan pertama tahun ini, kinerja positif terus berlanjut. Berdasarkan laporan keuangan perseroan Semester I-2015 (unaudited), pendapatan dari penjualan tenaga listrik mengalami kenaikan sebesar Rp15,5 triliun (18,1%) sehingga menjadi Rp101,3 triliun dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp85,7 triliun.

Pertumbuhan pendapatan ini berasal dari kenaikan volume penjualan kWh sebesar 99,4 Terra Watt hour (TWh) atau naik 1,8% dibanding dengan periode yang sama tahun lalu sebesar 97,6 TWh, serta adanya kenaikan harga jual rata-rata dari sebesar Rp 878,44/KWh menjadi Rp1.018,87/KWh.

Jumlah pelanggan yang dilayani perusahaan pada akhir Semester I 2015 juga mengalami peningkatan signifikan, yaitu mencapai 59,5 juta pelanggan, atau naik 6,82% dari periode yang sama tahun sebelumnya yaitu 55,7 juta pelanggan.

Pertambahan jumlah pelanggan kontan mendorong kenaikan rasio elektrifikasi nasional yaitu dari 80,1% pada Juni 2014 menjadi 84,0% pada Juni 2015. Subsidi listrik sebesar Rp27,4 triliun, pun turun sangat signifikan, yaitui sebesar Rp30,3 triliun atau 52,5% dibandingkan Semester I 2014. Penurunan tersebut sejalan dengan efisiensi biaya penyediaan tenaga listrik yang terus dijalankan oleh perusahaan serta adanya kenaikan tarif tenaga listrik pada beberapa golongan tarif. (Pul)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.