Jumat, 24 Mei 19

Sisi Lain Ketua Bawaslu RI Abhan, Sang Pengawas ‘Suara’

Sisi Lain Ketua Bawaslu RI Abhan, Sang Pengawas ‘Suara’

Naskah: Purnomo/Giattri F.P. Foto: Sutanto/Dok. Pribadi

 

Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 telah berakhir. Keberhasilan perhelatan demokrasi lima tahunan ini tentu tak lepas dari peran sejumlah pihak, baik masyarakat, pemerintah, dan penyelenggara Pemilu, khususnya Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu). Terhadap lembaga yang terakhir ini, Bawaslu, memang merupakan lembaga yang memiliki load kerja paling tinggi dan berat, tentunya. Terlebih bagi seorang Abhan yang saat ini menjabat Ketua Bawaslu RI.

Namun, seperti ia katakan kepada Obsession Media Group (OMG) yang menyambangi di ruang kerjanya, tugas Bawaslu dalam mengawasi penyelenggaraan Pemilu di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dapat terlaksana dengan baik.

“Kerja Bawaslu ini kan memerlukan waktu yang padat karena melakukan pengawasan Pemilu. Tahapan yang sudah dimulai, hampir dua tahun,” ujar Abhan yang menyediakan waktu khusus untuk wawancara di sela kesibukannya yang luar biasa padat.

Pria kelahiran Pekalongan, Jawa Tengah, 12 November 1968 ini memahami bahwa Pemilu 2019 adalah Pemilu yang begitu kompleks. Pasalnya, untuk pertama kalinya pemilihan anggota legislatif (Pileg) dan pemilihan presiden (Pilpres) diadakan serentak. Kendati demikian, Abhan dan komisioner lainnya, sehari-hari berkonsentrasi pada tugas-tugas pengawasan terhadap Pemilu 2019. Mulai dari tahapan pemutakhiran data pemilih dan lainnya, hingga pemungutan serta penghitungan suara.

Mencermati sosok Abhan, kita akan menemukan banyak hal menarik. Berawal dari seorang advokat yang kerap berinteraksi dengan masalah hukum tiba-tiba tampil sebagai pengawas Pemilu.

“Waktu itu tahun 2009, pertama kali saya masuk ke dalam penyelenggara Pemilu, menjadi Ketua Panwaslu Provinsi Jawa Tengah,” ia membuka cerita.

Ternyata, di sini karienya melejit. Tahun 2017, ia dilantik sebagai Ketua Bawaslu RI. Karenanya, kalau ada yang bertanya kepada Abhan, dirinya lebih tertarik di dunia penyelenggara Pemilu dibanding berkecimpung di dunia hukum atau lawyer, dengan lugas ia menjawab bahwa yang ia kerjakan baik sebagai Panwaslu maupun lawyer tak jauh berbeda.

“Apalagi kini fungsi dan tugas Bawaslu, banyak bersentuhan dengan persoalan hukum. Misalnya, menjalankan tugas dan fungsi peradilan atau yudikasi dengan sidang yang terbuka. Menurut saya, itu bagian keseharian saya waktu menjadi advokat. Cuma posisinya waktu itu sebagai lawyer. Kemudian, saat ini proses yudikasi dan peradilan saya sebagai pihak yang menyidangkan, yang memimpin sidang sekarang ini,” bebernya. Peralihannya dari profesi advokat itu ternyata didukung keluarga besarnya, meski awalnya keluarga sempat kaget, kok kerjanya terus-menerus, tak mengenal kata libur?

Namun, setelah Abhan menjelaskan kepada keluarganya bahwa beragam tugas yang diemban oleh pengawas Pemilu, memang bisa dibilang tidak pernah ada hari libur juga di kalender tidak mengenal tanggal merah. Ia bersyukur, keluarganya memahami dan mendukung atas apa yang menjadi pilihannya untuk kerja di Bawaslu ini. “Saya kira itu yang menjadi support (dorongan) pribadi saya, keluarga yang sangat mendukung ini,” imbuhnya. Terutama dari sang anak yang dikatakannya sebagai bagian dari yang ia banggakan.

Hanya saja, salah satu yang selalu diingatkan keluarga pada Abhan adalah menjaga kesehatan dan pola tidur. Maklum, tidurnya agak berkurang. Lebih sering tidur di mobil atau pesawat, kalau ada perjalanan ke luar kota.“Rata-rata tidur maksimal lima jam, tetapi paling sering tidur 4 jam,” akunya.

Abhan mengaku ini sebagai konsekuensi. “Alhamdulillah yang penting berharap tetap sehat selalu dalam menjalankan tugas sebagai pengawas Pemilu ini,” ujarnya.

Tentu saja banyak hal yang menjadi sisi menarik dari Abhan di balik kesibukannya memimpin Bawaslu. Mulai dari mengatur me time, liburan bersama keluarga yang sering tertunda, hingga berbagai ancaman yang datang lewat telepon. Semua itu diungkapkannya dalam wawancara khusus di ruang kerjanya. Berikut ulasannya:

Teror Lewat Telepon Hal Biasa

Eskalasi politik baik menjelang maupun setelah Pemilu 2019 tentunya akan menjadi beban tersendiri bagi para penyelenggara Pemilu. Abhan sendiri memahami hal itu. Adanya pihak yang tak puas dengan keputusan Bawaslu sering kali melampiaskan kemarahannya kepada komisioner lembaga tersebut dengan melemparkan teror. Namun, ia mengaku tak pernah mendapatkan ancaman teror terhadap dirinya meski sesekali pernah mendapatkan ancaman telepon, tetapi tak ditanggapinya serius.

“Alhamdulillah selama ini nggak ada yang neko-neko. Nggak ada yang sampai membuat miris, semua masih aman. Tidak ada yang sifatnya menghawatirkan keluarga maupun saya sendiri,” ungkapnya.

Kalau sekadar teror lewat telepon, Abhan tidak akan meladeni.

“Paling kalau diteror lewat telepon, dikatai jangan sok jagoan. Itukan masih menjadi hal yang biasa saja. Jadi, saya abaikan saja, saya biarkan. Saya anggap itu angin lalu. Bagian dari resiko dan dinamika. Wajar saja kalau ada orang yang kecewa. Kemudian, meluapkan kekecewaannya, tapi saya anggap biasa aja,” tuturnya seraya tersenyum.

Bagi Abhan, teror yang datang tak mampu mencegahnya untuk terus berbuat dan bekerja dengan baik bagi bangsa dan negara, juga tidak mengganggu aktivitas olahraganya.

“Meski, olahraga saya itu hanya sekadar jalan-jalan di sekitar perumahan atau treadmi/l di rumah karena memang olahraga yang membutuhkan waktu dan ruang sudah nggak bisa,” pungkasnya.

 

Baca halaman selanjutnya:

Pages: 1 2

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.