Jelang Muktamar, DR A Bakir Ihsan: Ini Syarat agar PPP Kembali Berjaya

Obsessionnews.com - Harapan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) untuk kembali berjaya dan menjadi partai parlemen pada Pemilu 2029 bukan hal yang mustahil. Menurut Dosen Ilmu Politik FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Dr. Ahmad Bakir Ihsan M.Si masih ada sejumlah faktor yang bisa menjadikan partai tersebut meraih dukungan yang signifikan dari rakyat.
"Tapi apakah harapan untuk menjadi partai di parlemen tersebut terpatri kuat dalam sanubari pengurus dan anggota PPP? Ini penting, karena harapan itu setengah dari keberhasilan. Harapan yang menggugah dan menggerakkan perilaku politik PPP sesuai dengan aspirasi Masyarakat," katanya menjawab Obsessionnews.com.
Baca Juga:
Eksponen Fusi PPP Tolak Kepemimpinan Mardiono
Harapan itu, lanjut Bakir Ihsan, bisa sangat kuat mengingat PPP punya modal sejarah sekaligus sosial yang panjang, tinggal bagaimana sejarah itu tak sekadar dikenang dan dirayakan, tapi dihidupkan dalam perilaku politik yang mendekatkan ciri khas PPP sebagai partai berasas Islam dengan kenyataan.
Menurutnya, langkah yang harus dilakukan untuk mengembalikan PPP sebagai partai di parlemen antara lain adalah melakukan evaluasi mendalam dan komprehensif faktor-faktor yang menyebabkan PPP gagal masuk parlemen di pemilu 2024.
Kemudian melakukan evaluasi baik di internal maupun eksternal partai. “Dan yang tak serius adalah menguatkan tata kelola manajemen organisasi partai dari tingkat pusat sampai daerah. Ini penting, karena PPP yang punya modal sejarah dan sosial yang panjang, terkesan terasing dari modal tersebut,”terangnya.
Baca Juga:
Ganti Mardiono, Eksponen Fusi PPP Dorong Dudung, Din Syamsuddin, Hamdan Zoelva dan Gus Ipul
Hal yang tak kalah penting dikatakan Bakir Ihsan, adalah melakukan penerapan merit system di kepengurusan agar mereka yang berkualitas dan berkeringat mendapatkan tempat yang proporsional.
"Dengan demikian seluruh kader terdorong untuk serius bergerak karena mekanisme yang diterapkan terukur," terangnya.
Setelah itu PPP juga wajib menguatkan trade mark atau ciri khas sebagai partai berasas Islam. “Sehingga betul-betul menjadi rumah besar bagi umat Islam, tidak sekadar jargon apalagi hanya catatan legalitas formal yang justru menjadi bumerang bagi partai,”ujarnya lagi.
Baca Juga:
Mukernas PPP: Momen Taubat Nasuha Mardiono Cs
Pelajaran penting yang harus diambil dari kegagalan PPP masuk parlemen di Pemilu 2024, dalam analisisnya adalah karena kesia-siaan modal sejarah dan sosial. PPP gagal membaca tanda-tanda zaman dengan terus menurunnya perolehan suaranya dari 3 besar di pemilu pertama reformasi sampai akhirnya gagal memenuhi parliamentary threshold. Apabila kegagalan membaca tanda-tanda zaman ini, tidak mustahil PPP akan hilang dari sejarah.
Baca Juga:
Susul Nasdem, PPP Dukung Pemerintahan Prabowo-Gibran
Soal siapa pemimpin yang tepat untuk membawa PPP berkibar kembali, lanjutnya haruslah yang betul-betul mencerminkan karakter PPP, Islami, profesional, dan merakyat. “Dia harus Islami, berakhlak mulia, tidak korup, tidak cacat moral, profesional dengan punya kemampuan manajerial atau organisatoris serta punya jejak rekam yang terbebas dari keberjarakan dengan semua elemen atau kelompok Islam, serta mau turun ke bawah, mendengarkan aspirasi pengurus pada level daerah dan masyarakat muslim khususnya dan masyarakat umum lainnya, dan yang wajib juga adalah punya pemikiran dan sikap inklusif dan toleran terhadap perbedaan,”tegasnya.
Soal usia calon ketua umum, dikatakannya tidak terlalu relevan untuk PPP yang sudah berusia Panjang. “Namun karakter, integritas, dan kompetensi jauh lebih penting untuk mengantarkan PPP hadir kembali di parlemen,”pungkasnya. (Rud)





























