Tradisi Tidak Ada Tuntutan Jelang Ramadhan

Tradisi Tidak Ada Tuntutan Jelang Ramadhan
Apa saja tradisi yang tidak ada tuntunan alias bid'ah menjelang bulan Ramadhan? 1⃣ NYEKAR / NYADRAN Tidaklah tepat ada yang meyakini bahwa menjelang bulan Ramadhan adalah waktu utama untuk menziarahi kubur orang tua atau kerabat (yang dikenal dengan “nyadran”). Kita boleh setiap saat melakukan ziarah kubur agar hati kita semakin lembut karena mengingat kematian. Nabi ﷺ bersabda, زُورُوا الْقُبُورَ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُكُمُ الآخِرَةَ “Lakukanlah ziarah kubur karena hal itu lebih mengingatkan kalian pada akhirat (kematian).” (HR. Muslim no. 976, Ibnu Majah no. 1569, dan Ahmad 1: 145). Namun masalahnya adalah jika seseorang mengkhususkan ziarah kubur pada waktu tertentu dan meyakini bahwa menjelang Ramadhan adalah waktu utama untuk nyadran atau nyekar. Ini sungguh suatu kekeliruan karena tidak ada dasar dari ajaran Islam yang menuntunkan hal ini. 2⃣ RUWAHAN Kalau dikhususkan kirim do’a pada bulan ruwah (bulan Sya’ban) seperti yang masih laris manis di tengah² masyarakat, yang tepat hal itu tidak ada tuntunannya. Karena do’a yang disyari’atkan yang telah disebut di atas berlaku umum sepanjang waktu. Sedangkan kalau dikhususkan pada waktu tertentu, harus butuh dalil.⁣ ⁣ 3⃣ MUNGGAHAN / MEGENGAN Munggahan adalah tradisi masyarakat dalam menyambut datangnya bulan Ramadhan atau bulan puasa. Hal ini biasanya dilakukan beberapa hari sebelum bulan puasa tiba, misal dengan berkumpul bersama keluarga dan rekan kerabat untuk sekedar makan-makan dan saling bermaafan pada saat munggahan. Munggahan yaitu ‘unggah’ yang berarti naik. Dapat diartikan naik ke bulan suci atau tinggi derajat. Tradisi munggahan sejak dulu sampai saat ini masih terlaksanan dengan baik dan penuh antusias oleh masyarakan muslim, padahal ini "bukan" ajaran Islam. 4⃣ PADUSAN Menyambut bulan Ramadhan dengan mandi besar, padusan, atau keramasan. Amalan seperti ini juga tidak ada tuntunannya sama sekali dari Nabi ﷺ. Puasa tetap sah jika kita tidak melakukan keramasan, atau padusan ke tempat pemandian atau pantai (seperti ke Parangtritis). Mandi besar itu ada jika memang ada sebab yang menuntut untuk mandi seperti karena junub maka mesti mandi wajib (mandi junub). Lebih parahnya lagi mandi semacam ini (yang dikenal dengan “padusan”), ada juga yang melakukannya campur baur laki-laki dan perempuan dalam satu tempat pemandian. Ini sungguh merupakan kesalahan yang besar karena tidak mengindahkan aturan Islam. Bagaimana mungkin Ramadhan disambut dengan perbuatan yang bisa mendatangkan murka Allah?! Cukuplah mengikuti Ajaran Nabi ﷺ dalam beribadah. 5⃣ SESAJEN Membuat sesajen tumpengan untuk slametan dengan membikin ancak² yang terbuat dari pelepah pohon pisang yang dibentuk segi-empat. Perbuatan ini menyerupai (tasyabuh) pada agama animisme. 6⃣ MAAF-MAAFAN Meminta maaf itu disyariatkan dalam Islam. Adapun meminta maaf tanpa sebab dan dilakukan kepada semua orang yang ditemui, tidak pernah diajarkan oleh Islam. Maka kita patut hati² dengan amalan yang tanpa dasar. Beramallah dengan ilmu dan sesuai tuntunan Rasul ﷺ. ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz berkata, مَنْ عَبَدَ اللهَ بِغَيْرِ عِلْمٍ كَانَ مَا يُفْسِدُ أَكْثَرَ مِمَّا يُصْلِحُ “Barangsiapa yang beribadah kepada Allah tanpa ilmu, maka dia akan membuat banyak kerusakan daripada mendatangkan kebaikan.” (Amar Ma’ruf Nahi Munkar, Ibnu Taimiyah) _Sabda Rasul SAW juga:_ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ “Barangsiapa mengamalkan suatu amalan yang tidak ada tuntunannya dari kami maka amal itu tertolak”. [HR. Muslim] Wallahu waliyyut taufiq. (Muslim.or.id/Red)