Juventus Tersingkir, Dosa Ronaldo Tak Termaafkan

Diharapkan menjadi sosok pembeda yang akhirnya menghadirkan gelar juara Liga Champions untuk Juventus, kinerja Cristiano Ronaldo di panggung Eropa dalam tiga musim berseragam Putih-Hitam di bawah ekspektasi. Ronaldo menjadi sasaran kritik Fabio Capello saat Juventus tereliminasi dari Liga Champions di kaki Porto. Seperti musim lalu saat disingkirkan Olympique Lyon, langkah Juventus pada kampanye terkini kembali mentok di babak 16 besar setelah dipaksa mengakui keunggulan Porto lewat aturan gol tandang. Pada musim debut Ronaldo di Turin I Bianconeri rontok di perempat-final melawan Ajax Amsterdam. Menjamu Porto dalam partai leg kedua di Allianz Stadium, Rabu (10/3) dini hari WIB, skuad Andrea Pirlo wajib membalikkan defisit 2-1. https://youtu.be/ruGFukIvLxI Tuan rumah mampu memaksakan digelarnya perpanjangan waktu setelah menang 2-1 dalam waktu normal, namun menghadapi lawan yang hanya berkekuatan sepuluh orang sejak menit ke-54 menyusul kartu merah Mehdi Taremi, Juventus kecolongan gol tendangan bebas Sergio Oliveira (115'). Sundulan Adrien Rabiot cuma dua menit berselang tidak cukup menyelamatkan Juve. Ronaldo dianggap ikut bertanggung jawab dan membuat dosa "tak termaafkan" dalam gol penentu Os Dragoes. Menjadi bagian dari pagar betis Juve menghadapi perekik yang sejatinya cukup jauh dari gawang, Ronaldo dan Rabiot justru melompat dan membalikkan badan saat bola ditendang keras-keras oleh Oliveira dan meluncur masuk ke gawang Wojciech Szczesny. "Itu kesalahan tak termaafkan," semprot Fabio Capello, pelatih legendaris Italia yang pernah menukangi Juventus dari 2004 hingga 2006, dalam perannya sebagai pandit Sky Sport Italia. "Di zaman saya, Anda memilih pemain-pemain yang membentuk pagar betis dan jangan sampai mereka justru pemain yang takut bola. Nyatanya kali ini mereka takut bola dan melompat menghindarinya, membalikkan badan. Itu tak termaafkan." Eks bos tim nasional Inggris dan Rusia ini juga mengkritik bintang-bintang veteran Juventus yang tidak menampakkan batang hidung dalam wawancara pascalaga. Justru pemain-pemain muda seperti Federico Chiesa dan Matthijs de Ligt yang berbicara kepada media. "Anda lihat malah pemain-pemain paling muda yang berani maju dan menunjukkan wajah mereka dalam momen sulit. Dalam tim ini, ada beberapa pemain veteran yang tampil saat mereka menang untuk mengklaim pujian, kemudian menghilang ketika mereka kalah," kecamnya. (goal.com/red)





























