Berkaca Pada Tesla, Ridwan Hisjam Ungkap Tantangan Teknologi EBT di RI

Berkaca Pada Tesla, Ridwan Hisjam Ungkap Tantangan Teknologi EBT di RI

Jakarta, Obsessionnews.com - Komisi VII DPR menggelar Focus Group Discussion (FGD) bersama para dosen Universitas Diponegoro guna membahas Urgeni Rancangan Undang-Undang Energi Baru dan Terbarukan ( RUU EBT), Jumat (5/1/2021).

Anggota Komisi VII DPR Ridwan Hisjam mengatakan, berdasarkan perjanjian Paris yang diikuti 196 negara termasuk Indonesia pada 2015 lalu, disepakati bahwa semua negara harus membatasi kenaikan sugu global, dengan mengurangi semakin menguatnya energi fosil.

Ridwan mengungkap dengan adanya perjanjian Paris ini, kemudian muncul wacana penguatan teknologi terbarukan dengan didukung UU. Teknologi baru terbarukan ini dianggap bisa mengatasi persoalan iklim dunia, dan mengurangi kenaikan suhu global yang samakin panas.

Namun Ridwan menyebut upaya menghadirkan EBT di Indonesia tidaklah mudah. Pertama, pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak tumbuh seperti yang diproyeksikan sebesar 7% s.d. 8%, dimana pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini hanya tumbuh 2,07%.

"Kedua porsi pemanfaatan EBT untuk elektrifikasi kurang maksimal, karena terkendala dengan harga jual listrik EBT yang masih sulit bersaing dengan energi fosil dan permasalahan tumpang tindih dalam pemanfaatan hutan dalam pengembangan PLTP dan PLTA," ujar Ridwan.

Selain itu, politisi Golkar ini mengungkapkan substitusi bahan bakar batubara ke biomassa/wood pellet (co-firing PLTU) masih dalam tahap perencanaan, termasuk persoalan penerapan program pencampuran BBM dengan bioetanol dan bioavtur.

Menurutnya, permasalahan optimalisasi Sinergi antara perencanaan penyediaan tenaga listrik dan perencanaan pengembangan industri dapat mengurangi daya saing penanaman modal.

"Selain itu, pengembangan kendaraan listrik juga masih terkendala dengan peraturan, infrastruktur, baterai termasuk limbahnya) dan harga jual kendaraan listrik," ungkap Ridwan.

Berkaca dari itu kata Ridwan, rencana perusahaan mobil listrik asal Amerika Serikat (AS) Tesla Inc untuk membangun pabriknya di Indonesia dari dulu belum bisa terlaksana, dan menuai tarik ulur. Kini Tesli disebut sudah mengajukan proposal pendirian pabrik di Indonesia.

Menurut Deputi Bidang Koordinasi Investasi dan Pertambangan Kementerian Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) Septian Hario Seto, Tesla akan melakukan kerja sama pada bidang Energy Storage System (ESS).

"Ada satu lagi kerja sama dengan Tesla yakni pada bidang ESS. Jadi ESS ini mirip baterai seperti powerbank. Tapi ini powerbank ekstra besar kapasitasnya bisa puluhan mega watt," ujar dia dalam telekonferensi, Jumat (5/2/2021).

Seto juga mengatakan, ESS ini bisa menggantikan pembangkit peaker. Di mana peaker merupakan pembangkit yang eletricity daripada membuat pembangkit baru yang harganya mahal lebih baik memakai baterai.

Tesla adalah jawaban dari rencana pemerintah menghadirkan EBT dengan mengghadirkan mobil listrik sebagai pengganti atau alternatif lain dari enegri fosil, yang mengandunh bahan bakar minyak. (Albar)