Perbanyaklah Mengingat Mati!

Perbanyaklah Mengingat Mati!
Sebelum kematian menghampiri kita, maka kita akan menghadapi peristiwa yang namanya sakaratul maut. Secara etimologis kata 'sakaratul maut' berasal dari bahasa arab, yaitu “sakarat” dan “maut”. Sakarat dapat diartikan dengan “mabuk”, sedangkan “maut” berarti kematian. Dengan demikian, sakaratul maut berarti orang yang sedang dimabuk dengan masa-masa kematiannya. Sakaratul maut merupakan kondisi seseorang yang sedang menghadapi kematian, yang memiliki berbagai hal dan harapan tertentu untuk meninggalkan kehidupan dunia. Kematian merupakan kondisi terhentinya pernapasan, nadi, dan tekanan darah serta hilangnya respons terhadap stimulus eksternal, ditandai dengan terhentinya aktivitas otak atau terhentinya fungsi jantung dan paru secara menetap. Sakartul maut dan kematian merupakan dua istilah yang sulit untuk dipisahkan, serta merupakan suatu fenomena tersendiri. kematian lebih ke arah suatu proses, sedangkan sakaratul maut merupakan akhir dari hidup. كُلُّ نَفۡسٍ ذَآٮِٕقَةُ الۡمَوۡتِ‌ؕ وَاِنَّمَا تُوَفَّوۡنَ اُجُوۡرَكُمۡ يَوۡمَ الۡقِيٰمَةِ‌ؕ فَمَنۡ زُحۡزِحَ عَنِ النَّارِ وَاُدۡخِلَ الۡجَـنَّةَ فَقَدۡ فَازَ ‌ؕ وَمَا الۡحَيٰوةُ الدُّنۡيَاۤ اِلَّا مَتَاعُ الۡغُرُوۡرِ‏ Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya. QS. Ali 'Imran Ayat 185. Setiap orang pasti menemui kematian. Kematian disebut haadzim atau pemutus kelezatan dunia. Dalam Al-Qur'an, Allah Ta'ala mengingatkan orang-orang beriman agar wafat dalam keadaan Islam. Maka hendaklah bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa. Rasulullah SAW juga bersabda agar umatnya memperbanyak mengingat mati. "Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan". (HR. An-Nasai, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad). Syari’at ajaran agama Islam telah mengajarkan bagaimana caranya agar kita selalu mengingat kematian. Dengan kita mengingat akan adanya kematian, maka kita juga akan lebih mendekatkan diri atau berserah diri kepada Allah. Di antara cara untuk dapat mengingatkan kita akan adanya kematian. Pertama, Bimbinglah Orang Yang Akan Menghadapi Waktu Kematian. Ketika menghadapi orang yang sakaratul maut, seyogianya yang hadir ke tempat orang tersebut selalu mengingat Allah dan berdoa. Kalau berbicara, bicarakanlah hal-hal yang berbau positif dan berhusnudzan. Ajarkan orang yang akan menghadapi sakaratul maut dengan menyebutkan kalimat La Ilaha Illallah. وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ ، وَأَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَا : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : { لَقِّنُوا مَوْتَاكُمْ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ } رَوَاهُ مُسْلِمٌ وَالْأَرْبَعَةُ Dari Abu Sa’id dan Abu Hurairah, Rasulullah saw. bersabda: “Ajarilah orang-orang yang hendak meninggal dunia di antara kalian ucapan laa ilah illallah.” (HR. Muslim dan kitab hadits yang empat.” [Nasai, Abu Daud, Tirmidzi dan Ibnu Majah). Dalam riwayat yang lain: من كان آخر كلامه لا إله إلا الله دخل الجنة “Barangsiapa yang ucapan terakhirnya adalah “Laa ilaaha illa Allah” maka akan masuk surga” (HR. Abu Dawud).? Kedua, Mengunjungi Orang Yang Sakit. Menurut Rasulullah, orang-orang yang beriman itu ibarat satu batang tubuh, apabila salah satu anggota tubuh sakit, maka yang lain ikut prihatin merasakan sakit. Salah satu cara untuk mengaplikasikan hadits di atas adalah dengan meluangkan waktu mengunjungi saudara seagama yang sakit. Kunjungan teman, saudara, adalah ‘obat yang mujarab’ bagi si sakit. Dia merasa senang karena masih ada sahabat untuk berbagi duka. Pribahasa mengatakan, ‘teman ketawa banyak, teman menangis sedikit’. Betapa pentingnya mengunjungi orang sakit itu dapat terlihat dalam hadits qudsi berikut ini. Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah berfirman pada hari kiamat: “Hai anak Adam, Aku sakit, kenapa kamu tidak datang mengunjungi-Ku?” Anak Adam menjawab: “Ya Tuhan, bagaimana aku akan mengunjungi-Mu sedangkan Engkau adalah Tuhan Semesta Alam?” Allah berfirman: “Tidaklah kamu tahu bahwa si Fulan hamba-Ku sakit, kenapa kamu tidak mengunjunginya? Tahukah kamu, jika kamu mengunjunginya niscaya kamu akan menemui-Ku di sisinya” (HR. Muslim)? Ketiga, Mengiringkan Jenazah. Apabila seorang meninggal dunia, masyarakat secara kifayah wajib memandikan, mengkafani, menshalatkan dan mengkuburkannya. Rasulullah saw. sangat menganjurkan kepada umatnya untuk dapat menshalatkan dan mengantarkan jenazah ke kuburan bersama-sama. Beliau bersabda: “Barangsiapa yang menyaksikan jenazah lalu ikut menshalatkannya, baginya satu qirath. Dan barangsiapa yang menyaksikannya sampai dikuburkan, baginya dua qirath”. Ditanyakan orang: “Apa itu dua qirath? Beliau bersabda: “Seperti dua gunung yang besar (pahalanya)”.(H. Muttafaqun ‘Alaihi).? Keempat, Berziarah Kubur. Dalam melakukan ziarah kubur, anaknya medoakan ahlinya. Jangan sampai kita yang minta doa dari yang wafat, memuja-muja, bahkan kuburan dijadikan tempat sesembahan. Ziarah kubur juga dapat mengingatkan diri kita akan kehidupan akhirat. Dalam riwayat yang lain, Rasulullah tidak hanya memerintahkan ziarah kubur, tapi beliau juga menjelaskan manfaat-manfaat dalam melaksanakan ziarah kubur. Hal ini seperti yang dijelaskan dalam hadits berikut: كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ أَلَا فَزُورُوهَا، فَإِنَّهُ يُرِقُّ الْقَلْبَ، وَتُدْمِعُ الْعَيْنَ، وَتُذَكِّرُ الْآخِرَةَ، وَلَا تَقُولُوا هُجْرً “Dahulu aku melarang kalian berziarah kubur, tapi (sekarang) berziarahlah kalian, sesungguhnya ziarah kubur dapat melunakkan hati, menitikkan (air) mata, mengingatkan pada akhirat, dan janganlah kalian berkata buruk (pada saat ziarah),” (HR. Hakim). Marilah kita persiapkan diri ini untuk menyambut suatu yang pasti (kematian) yang akan tiba-tiba datang kepada kita. Kita persiapkan diri untuk kehidupan selanjutnya di akhirat, kita siapkan bekal kita. Semoga kita mampu mengaplikasikan cara-cara mengingat kematian seperti yang telah disajikan diatas tadi, sehingga kita termasuk orang-orang yang bisa lebih mendekatkan diri kepada Allah. Dan semoga kita bisa meraih kematian khusnul khotimah. (*/Red)