Twitter Bekukan Akun Presiden Trump Secara Permanen!

Akibat terkait perannya dalam penyerbuan Gedung Capitol (gedung parlemen), Twitter telah membekukan akun Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump secara permanen, karena berisiko memicu kekerasan lebih lanjut. Keputusan tersebut dibuat Twitter "setelah melihat secara cermat cuitan terbaru akun @realDonaldTrump dan konteks peristiwa di sekitarnya". Sebelumnya, akun Trump sempat dikunci selama 12 jam. Twitter kemudian mengatakan akan melarang Trump "secara permanen" apabila dia kembali melanggar aturan platform. Menanggapi tindakan Twitter itu, penasihat senior kampanye Trump, Jason Miller, mencuit: "Menjijikkan ... jika Anda tak berpikir mereka akan datang untuk Anda berikutnya, Anda salah." Pada Jumat, Google juga menangguhkan Parler - saingan Twitter yang semakin populer di kalangan para pendukung Trump - dari distribusi aplikasinya. "Kami tahu ada unggahan yang berlanjut di aplikasi Parler yang berupaya menghasut kekerasan yang tengah terjadi di AS," kata Google. Larangan atas akun Twitter Trump pada hari Jumat setelah dia mencuit beberapa pesan pada Rabu, yang menyebut para pendukungnya yang menyerbu gedung Capitol sebagai "patriot". Ratusan pendukungnya memasuki Gedung Capitol ketika Kongres AS berusaha mengesahkan kemenangan Joe Biden dalam pemilihan presiden. Kekerasan yang terjadi kemudian menyebabkan kematian empat warga sipil dan seorang aparat polisi. Penyerbuan itu terjadi hanya beberapa jam setelah Trump berbicara kepada pendukungnya dan mengatakan: "Kami tidak akan pernah menyerah." Pada Kamis, Facebook mengatakan telah menangguhkan akun Trump "tanpa batas waktu". Platform game Twitch juga memberlakukan larangan tanpa batas pada saluran milik sang presiden, yang telah dia gunakan selama aksi para pendukungnya. Begitu juga dengan Snapchat. Dua toko memorabilia online Trump telah ditutup pada pekan ini oleh perusahaan e-commerce Shopify. Dan pada Jumat, Reddit melarang forum "donaldtrump" untuk para pendukungnya. Trump menggunakan Twitter untuk menyerang musuh-musuhnya, menyemangati sekutunya, memecat para pejabat, dan melampiaskan keluh-kesahnya, yang acap kali menggunakan huruf besar dan tanda seru untuk menggarisbawahi maksudnya. Walaupun para pengkritiknya mengatakan bahwa semburan informasi yang salah, unggahannya memungkinkan Trump untuk melewati media arus utama dan langsung terhubung dengan hampir 89 juta orang pengikut. (Red) Sumber: BBC News





























