Hukum Main Game Online

Hukum Main Game Online
Apa hukum main game (online/offline) dalam Islam? Berikut adalah jawaban dari pertanyaan tersebut: Pendapat pertama: Hukum bermain game online/offline dan permainan pada umumnya adalah makruh selama tidak ada unsur perjudian, tidak melalaikan shalat dan bermain bersama orang yang meyakini keharamannya seperti bermain catur. Pendapat kedua: Permainan ini hukumnya mubah. Ini adalah pendapat Abu Yusuf dari kalangan mazhab Hanafi dan salah satu pendapat dalam mazhab Syafii dan Maliki. Alasan: segala sesuatu itu pada asalnya adalah mubah. Sesuai dengan kaidah fikih : الاصل في الأشياء الإباحة إلا ما دل الدليل على تحريمه “Hukum asal segala sesuatu adalah mubah, kecuali ada dalil yang mengharamkannya” Karena itu permainan seperti catur hukumnya juga mubah karena tidak ditemukan satupun nas yang melarang pelarangan ini dan permainan ini juga tidak bisa dianalogikan dengan permainan-permainan yang dinash pelarangannya. Selain itu permainan ini juga berguna untuk mengasah pikiran dan mencerdaskan pemahaman. Begitu juga, tidak bisa diterima peng-qiyas-an permainan dengan permainan dadu yang sudah jelas keharamannya karena adanya unsur judi. Sebab yang dibuat patokan dalam permainan dadu adalah apa yang akan keluar bagi pemainnya, jadi permainan ini hanya mengandalkan dugaan semata yang akan membuat seseorang semakin bodoh. Hal ini tentu berbeda dengan permainan seperti catur yang didasarkan pada perhitungan yang teliti dan berpikir dengan benar. Pendapat kedua bisa dijadikan rujukan selama permainan tidak mensia-siakan waktu, namun jika mensia-siakan waktu dengan bermain berjam-jam maka jadi makruh juga. Hukum Permainan Secara Utuh: Hukum permainan ada yang mubah, sunnah, makruh dan haram. (Lihat Al mausu'ah Al fiqhiyyah di bawah). 1. Permainan yang mubah: yaitu permainan yang memenuhi syarat : A. Tidak ada unsur hinaan yang merendahkan harga diri. B. Tidak menyebabkan dhoror pada manusia atau hewan. C. Tidak memalingkan dari sholat atau kewajiban agama yang lain. D. Tidak mengarahkan pada dusta atau hal-hal lain yang diharamkan. Contoh permainan: Semisal lomba lari, lomba perahu dan lain-lain. 2. Permainan yang sunnah: Permainan yang bermanfaat melatih perang (pertahanan diri). semisal main panah-panahan pada sasaran atau tembak-tembakan kalau jaman sekarang. 3. Permainan yang makruh: Seperti bermain adu burung atau merpati karena hal itu tidaklah pantas bagi orang yang terhormat serta membiasakannya bisa memalingkan dari berbuat suatu yang maslahat dan dari amal ibadah. 4. Permainan yang haram: contohnya permainan yang mengandung unsur qimar (judi). Referrnsi: *الموسوعة الفقهية الكويتية ٣٥/ ٢٦٨٢٦٩ اللَّعِبُ مِنْهُ مَا هُوَ مُبَاحٌ وَمِنْهُ مَا هُوَ مُسْتَحَبٌّ وَمِنْهُ مَا هُوَ مَكْرُوهٌ وَمِنْهُ مَا هُوَ مُحَرَّم فَمِنَ اللَّعِبِ الْمُبَاحِ الْمُسَابَقَةُ الْمَشْرُوعَةُ عَلَى الأَْقْدَامِ وَالسُّفُنِ وَنَحْوِ ذَلك..... وَإِبَاحَةُ اللَّعِبِ إِنَّمَا يَكُونُ بِشَرْطِ أَنْ لاَ يَكُونَ فِيهِ دَنَاءَةٌ يَتَرَفَّعُ عَنْهَا ذَوُو الْمَرُوءَاتِ، وَبِشَرْطِ أَنْ لاَ يَتَضَمَّنَ ضَرَرًا فَإِنْ تَضَمَّنَ ضَرَرًا لإِِنْسَانٍ أَوْ حَيَوَانٍ كَالتَّحْرِيشِ بَيْنَ الدُّيُوكِ وَالْكِلاَبِ وَنِطَاحِ الْكِبَاشِ وَالتَّفَرُّجِ عَلَى هَذِهِ الأَْشْيَاءِ فَهَذَا حَرَامٌ، وَبِشَرْطِ أَنْ لاَ يَشْغَل عَنْ صَلاَةٍ أَوْ فَرْضٍ آخَرَ أَوْ عَنْ مُهِمَّاتٍ وَاجِبَةٍ فَإِنْ شَغَلَهُ عَنْ هَذِهِ الأُْمُورِ وَأَمْثَالِهَا حَرُمَ، وَبِشَرْطِ أَنْ لاَ يُخْرِجَهُ إِلَى الْحَلِفِ الْكَاذِبِ وَنَحْوِهِ مِنَ الْمُحَرَّمَاتِ..... وَمِنَ اللَّعِبِ الْمُسْتَحَبِّ الْمُنَاضَلَةُ عَلَى السِّهَامِ وَالرِّمَاحِ وَالْمَزَارِيقِ وَكُل نَافِعٍ فِي الْحَرب.... وَمِنَ اللَّعِبِ الْمَكْرُوهِ اللَّعِبُ بِالطَّيْرِ وَالْحَمَامِ لأَِنَّهُ لاَ يَلِيقُ بِأَصْحَابِ الْمَرُوءَاتِ وَالإِْدْمَانُ عَلَيْهِ قَدْ يُؤَدِّي إِلَى إِهْمَال الْمَصَالِحِ وَيَشْغَل عَنِ الْعِبَادَاتِ وَالطَّاعَاتِ وَمِنَ اللَّعِبِ الْمُحَرَّمِ عِنْدَ الْفُقَهَاءِ: كُل لُعْبَةٍ فِيهَا قِمَارٌ لأَِنَّهَا مِنَ الْمَيْسِرِ الَّذِي أَمَرَ اللَّهُ بِاجْتِنَابِهِ Permainan itu ada yang mubah, ada yang dianjurkan, makruh dan haram. Permainan yang mubah semisal lomba lari, lomba perahu dll yaitu permainan yang memenuhi syarat : 1.tidak ada unsur hinaan yang merendahkan harga diri 2.tidak menyebabkan dhoror pada manusia atau hewan 3.tidak memalingkan dari sholat atau kewajiban agama yang lain. 4.tidak mengarahkan pada dusta atau hal-hal lain yang diharamkan. Permaian yang dianjurkan semisal main panah-panahan pada sasaran (tembak-tembakan kalau jaman sekarang) atau lainnya yang bermanfaat melatih perang (pertahanan diri). Permainan yang makruh seperti bermain adu burung atau merpati karena hal itu tidaklah pantas bagi orang yang terhormat serta membiasakannya bisa memalingkan dari berbuat suatu yang maslahat dan dari amal ibadah. Permainan yang haram contohnya permainan yang mengandung unsur qimar (judi)". Hasyiyah jamal ‘alaa alMinhaj X/749 ]: وفارق النرد الشطرنج حيث يكره إن خلا عن المال بأن معتمده الحساب الدقيق والفكر الصحيح ففيه تصحيح الفكر ونوع من التدبير ومعتمد النرد الحزر والتخمين المؤدي إلى غاية من السفاهة والحمق قال الرافعي ما حاصله ويقاس بهما ما في معناهما من أنواع اللهو وكل ما اعتمد الفكر والحساب كالمنقلة والسيجة وهي حفر أو خطوط ينقل منها وإليها حصى بالحساب لا يحرم ومحلها في المنقلة إن لم يكن حسابها تبعا لما يخرجه الطاب الآتي وإلا حرمت وكل ما معتمده التخمين يحرم "Perbedaan antara permainan dadu dan catur yang dihukumi makruh bila memang tidak menggunakan uang adalah bahwa permainan catur berdasarkan perhitungan yang cermat dan olah pikir yang benar, dalam permainan catur terdapat unsur penggunaan pikiran dan pengaturan strategi yang benar sedangkan permainan dadu berdasarkan spekulasi yang menyebabkan kebodohan dan kedunguan yang maksimal. Menurut Imam Rofi’i hukum dadu dan catur tersebut bisa di analogkan pada semua bentuk permainan dan segala hal dan segala hal yang berdasarkan hitung-hitungan dan pikiran seperti alminqolat dan assijah (jenis permainan di arab) yakni permainan dengan membentuk garis dan lobang-lobang untuk mengisi bebatuan yang di lakukan dengan perhitungan tersendiri. Permainan semacam ini tidak haram, sedangkan semua jenis permainan yang berdasarkan spekulasi hukumnya haram." (Fath alMu’iin IV/285): واللعب بالشطرنج بكسر أوله وفتحه معجما ومهملا مكروه إن لم يكن فيه شرط مال من الجانبين أو أحدهما أو تفويت صلاة ولو ب.نسيان بالاشتغال به أو لعب مع معتقد تحريمه وإلا فحرام ويحمل ما جاء في ذمه من الأحاديث والآثار على ما ذكر "Bermain catur hukumnya makruh bila tidak disertai salah satu ketentuan berikut : _▪Disertai dengan harta dari kedua pemain atau salah satunya (karena berarti judi)_ _▪Keasyikan bermainnya tidak sampai meninggalkan sholat meskipun karena meninggalkannya karena unsur lupa,_ _▪Tidak bermain bersama orang yang berkeyakinan mengharamkan catur tersebut._ _Bila ada salah satu ketentuan di atas maka bermain catur menjadi haram._" *Al-Fiqh Al-Manhaji, vol. VIII hal. 166:* مِنْ هَذِهِ الْأَلْعَابِ الشَّطْرَنْجِ، فَهُوَ قَائِمٌ عَلَى تَشْغِيْلِ الذِّهْنِ وَتَحْرِيْكِ الْعَقْلِ وَالْفِكْرِ. وَلَا رَيْبَ أَنَّهُ لَا يَخْلُوْ عَنْ فَائِدَةٍ لِلذِّهْنِ وَالْعَقْلِ، فَإِنْ عُكِفَ عَلَيْهِ زِيَادَةً عَمَّا تَقْتَضِيْهِ هَذِهِ الْفَائِدَةُ، فَهُوَ مَكْرُوْهٌ، فَإِنْ زَادَ عُكُوْفُهُ حَتَّى فُوِتَ بِسَبَبِهِ بَعْضُ الْوَاجِبَاتِ عَادَ مُحَرَّماً. _“Di antara permainan ini adalah catur yang selalu menyibukkan hati dan menggerakkan akal pikiran. Tidak diragukan lagi bahwa catur tak terlepas dari faedah bagi hati dan akal. Namun apabila seseorang tersibukkan dengannya sampai melebihi kadar faedah itu, maka hukumnya makruh. Namun apabila terlalu tersibukkan sehingga berdampak menggugurkan sebagian kewajiban, maka hukumnya kembali menjadi haram.” waAllahu a’lam. (Red)