PMI Indonesia Fluktuatif Akibat Pandemi Covid-19

Jakarta,Obsessionnews - Kinerja sektor industri manufaktur benar-benar terpukul oleh pandemi Covid-19. Padahal di awal tahun sebelum Covid-19 masuk Indonesia tingkat purchasing manager index (PMI) berada di level 49,3 pads Januari 2020. Kemudian di bulan Februari mencatat rekor sebesar 51,9. Namun ketika pandemi masif menyebar di Indonesia yang diikuti oleh kebijakan pengetatan atau pembatasan sosial berskala besar, PMI langsung drop di level terendah 27,5 pada April 2020. Hal ini terjadi karena industri banyak melakukan pengurangan aktifitas produksi demi mengantisipasi agar wabah tidak semakin meluas. Seketika demand dan supplai juga tergerus yang membuat perekonomian jatuh di level negatif. "Kita catat rekor PMI pada Februari 2020 di level 51,9 dan ada harapan yang sangat cerah pada industri manufaktur, padahal Januari - Februari kita udah ikuti bahwa di China ada kasus besar dan kemudian kasusnya bergerak ke negara tetangga. Dan Indonesia mulai diserang masif pada Maret maka PMI langsung drop di level 45,3 dan April turun ke 27,5," kata Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita dalam paparan kinerja Kemenperin secara virtual, Senin (28/12). Dijelaskan bahwa industri manufaktur mengalami pelemahan utilisasi. Tercatat setelah serangan masif virus Covid-19 tingkat utilisasi industri pengolahan non migas rata-rata anjlok hingga 59 persen pada periode April - November 2020. Hal ini berakibat pada banyaknya pekerja atau karyawan terkena PHK. "Bahkan pada April, Mei hingga Agustus rata - rata utilisasi di bawah 50 persen. Ini ketika dibandingkan tahun lalu utilisasi industri rata - rata turun 76,29 persen. Memang turunnya masif sekali setelah ada Covid-19," sambungnya. Dengan berbagai kebijakan pemerintah dalam mengatasi dampak lebih buruk dari pandemi Covid-19, PMI mulai bertahap mengalami perbaikan. Bahkan pada November 2020 PMI sudah kembali pulih meskipun belum maksimal yaitu di level 50,6. Hal ini menandakan bahwa sektor industri mulai ekspansif. "Secara perlahan mulai meningkat bahkan pada Agustus itu sebenarnya kembali pada titik ekspansif di atas 50 yaitu di level 50,8, tapi karena adanya dugaan kebijakan PSBB ketat oleh DKI kembali anjlok pada September Oktober 2020 kemudian pada November kembali bangkit," pungkasnya. (Has)





























