HNW Tegaskan Pancasila Jangan Sampai Dipakai Sebagai Alat Represif untuk Mencelakai Ulama

HNW Tegaskan Pancasila Jangan Sampai Dipakai Sebagai Alat Represif untuk Mencelakai Ulama

Jakarta, Obsessionnews.com -  Para ulama, termasuk habaib, ikut berperan memperjuangkan Indonesia merdeka. Mereka berperan besar dalam merumuskan, berkompromi, menyepakati, dan menyelamatkan Pancasila sebagai dasar negara Indonesia.

Baca juga:

Sri Mulyani: Jadikan Pancasila Sebagai Sumber Energi Positif untuk Bersatu Melawan Covid-19

STAI-PIQ Sumbar Diharapkan Dapat Jadi Kawah Candradimuka Bagi Proses Produksi Ulama

Oleh karena itu sudah semestinya jika Pancasila yang dibuat dengan kompromi dari tokoh-tokoh umat Islam bersama tokoh-tokoh bangsa lainnya tersebut sejak semula tidak dibuat dalam rangka memusuhi umat Islam. Dan jangan sampai pada akhirnya justru dipakai sebagai alat represif untuk memecah belah bangsa dengan mencelakai habaib, ulama dan umat Islam.

Pernyataan itu disampaikan Wakil Ketua MPR RI  Hidayat Nur Wahid (HNW) dalam acara sosialisasi Empat Pilar, kerja sama antara MPR dengan Yayasan Silaturahim Kumpul Bareng Anak Tenabang (Sikumbang), Kamis (19/11/2020) malam. Sikumbang adalah organisasi yang menaungi para pendekar, guru silat, dan tokoh masyarakat yang ada di wilayah Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Halaman selanjutnya

Dikutip obsessionnews.com dari situs MPR, Senin (23/11), dalam acara itu HNW menjelaskan, peran ulama dalam perumusan Pancasila sebagai dasar negara terjadi saat Panitia Sembilan menyepakati lima sila sebagai dasar negara Indonesia yang merdeka. Selain itu ulama juga berjasa besar dalam menyelamatkan Pancasila dan proklamasi Indonesia merdeka dengan mengakomodasi tuntutan masyarakat Indonesia Timur untuk mengubah sila pertama menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa. Keterlibatan ulama itu dibuktikan dengan banyaknya istilah bahasa Arab yang merujuk ke Al Quran dan hadits di dalam sila-sila Pancasila.

“Maka wajar saja bila ada beberapa kata kunci dalam Pancasila, seperti adil (sila kedua dan kelima);beradab, hikmat, permusyawaratan, perwakilan, dan rakyat (sila keempat dan kelima) berasal dari bahasa Arab yang ada di Al Quran dan hadits Nabi Muhammad SAW,” ujarnya.

Halaman selanjutnya

Ia menambahkan, dalam perumusan Pancasila dan menyepakatinya hingga finalnya pada 18 Agustus 1945, di situ ada peran ulama-ulama yang sangat besar.

"Sehingga jadi tidak wajar bila Pancasila dibuat untuk menjadi dalih memusuhi umat Islam (Islamophobia). Tapi juga tidak wajar bila umat Islam malah menolak Pancasila (Indonesia pobhia),” tegasnya.

Oleh karena itu HNW mengimbau kepaada para pendekar dan guru silat di Tanah Abang untuk bersama-sama memahami dan mengamalkan dasar negara Pancasila itu dalam kehidupan sehari-hari.

“Apalagi Pancasila itu merupakan salah satu dari Empat Pilar MPR RI bersama dengan UUD NRI 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika,” ujarnya.

Halaman selanjutnya HNW berharap sosialisasi Empat Pilar MPR RI ini akan memperkuat langkah para pendekar dan guru silat di Tanah Abang untuk tetap berbuat hal-hal yang positif bagi bangsa dan negara.

“Para pendekar ini sudah hebat dari segi kekuatan fisik dan jurus-jurusnya. Oleh karena itu perlu selalu dijaga semangatnya agar berjalan pada rel yang bermanfaat dan baik bagi masyarakat, dan negara, dengan dilaksanakannya ketentuan-ketentuan dari Empat Pilar MPR RI ini,” tandasnya.

Anggota Fraksi PKS DPR itu mengingatkan peran ulama bukan hanya dilakukan pada saat pembahasan Pancasila, tetapi juga saat memperjuangkan dan mempertahankan Indonesia merdeka. Salah satunya adalah Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945 yang dikumandangkan oleh KH Hasyim Asyari. Resolusi itu mampu memperkuat semangat para santri, kiai, guru silat, dan pendekar untuk membentuk Laskar Kiai, Laskar Santri, Laskar Hizbullah, berjuang bersama Rakyat dan TRI, melawan kembalinya penjajah Belanda.

“Sejarah mencatat suksesnya perjuangan Resolusi Jihad-nya KH Hasyim Asy’ari, dan kedekatan KH Subchi Parakan dengan Jendral Sudirman, bapak TNI,” ucapnya.

Halaman selanjutnya

Menurut HNW,  para habaib juga memiliki peran yang besar bagi bangsa ini. Misalnya Habib Husein Al Mutahhar yang menciptakan lagu-lagu seperti Hari Merdeka, dan Syukur Umat, tulus ikhlas dan tetap bersemangat mencintai dan membela Indonesia merdeka. Lalu ada pula Habib Ali Kwitang yang melalui jaringan jemaah dan majlis taklimnya menyosialisasikan dan mendukung proklamasi Indonesia merdeka.

“Dan yang tak kalah penting adalah, peran ulama sekaligus pimpinan Partai Islam Masyumi M Natsir yang melalui Mosi Integral 3 April 1950 berjasa besar mengembalikan Republik Indonesia menjadi NKRI, setelah sebelumnya diubah oleh penjajah Belanda menjadi Republik Indonesia Serikat (RIS),” tuturnya.

HNW berharap pemahaman sejarah yang benar itu terus dipertahankan oleh para guru silat dan pendekar silat di Tanah Abang.

“Seluruh potensi yang kita miliki, jurus-jurus silat yang hebat dan lain-lain, bukan untuk meneror, menghadirkan keonaran yang meresahkan masyarakat, atau membuat Jakarta jadi ambaradul,. Tapi untuk mengamalkan dan menyelamatkan Pancasila, UUD NRI 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika,” ujarnya.

Apabila ada kelompok komunis atau pihak lain, yang ingin membegal atau membelokkan perjalanan kehidupan berbangsa dan bernegara, keluar dari dari kompromi dan cita-cita Indonesia Merdeka, yang disepakati para bapak dan ibu bangsa seperti di atas, maka wajar bila warga Indonesia menolaknya, dengan tetap mempertahankan NKRI dan Pancasila.

“Karena Indonesia dan Jakarta faktanya adalah warisan ijihad/ijtihad/mujahadah/musyawarah/tadhiyyah dan hadiah para ulama dan habaib,” kata HNW. (arh)