Mengapa Muslim Serukan Boikot Produk Prancis?

Berbagai negara berpenduduk muslim lakukan boikot terhadap produk-produk asal Prancis serta mengecam Presiden Prancis Emmanuel Macron anti-Islam yang menghina Islam dan memajang karikatur Nabi Muhammad. Mulai dari Turki hingga Bangladesh serta dari Yordania hingga Malaysia, rangkaian demonstrasi besar menyerukan agar umat Muslim memboikot produk Prancis. [caption id="attachment_327740" align="alignnone" width="480"]
Aktris Pakistan, Mishi Khan. (Foto: BBC)[/caption] Sejumlah supermarket telah mengosongkan semua rak yang biasanya terisi produk-produk berlabel 'Made in France' atau 'Buatan Prancis'. Tagar seperti BoycottFrenchProducts tercatat dicuitkan lebih dari 100.000 kali dan menjadi topik yang sedang tren di media sosial selama sepekan terakhir. [caption id="attachment_327742" align="alignnone" width="480"]
Pelajar asal Turki, Latife Ozdemir. (Foto: BBC)[/caption] Macron mendukung kartun bergambar Nabi Muhammad yang diterbitkan oleh majalah satire Charlie Hebdo pada 2006, yang memicu kemarahan umat Muslim di seluruh dunia. Mereka menganggap penggambaran Nabi Muhammad sebagai serangan terhadap agama mereka. Namun anehnya, Presiden Prancis ini menyatakan ejekan berupa kartun Nabi Muhammad itu sebagai kebebasan berbicara/berekspresi. Presiden Macron selama ini dipuji karena membela sekularisme dan kebebasan berekspresi di negaranya sendiri. [caption id="attachment_327743" align="alignnone" width="480"]
Hiba Mohamed Moussa - Pelajar - Nouakchott, Mauritania. (Foto: BBC)[/caption] Kini, Macron telah menjadi sosok yang dibenci di negara-negara mayoritas Muslim seperti Bangladesh. Pada Rabu (28/10), puluhan ribu orang turun ke jalan untuk menyerukan boikot barang-barang buatan Prancis.m BBC berbicara kepada tiga orang yang mengatakan bahwa hal ini membuat mereka memutuskan untuk tidak lagi membeli produk Prancis: Mishi Khan - Aktris - Islamabad, Pakistan Saya biasa menggunakan kosmetik Prancis, seperti L'Oreal, yang banyak dijual di sini, di Pakistan. Saya sekarang membaca semuanya mulai dari label pada makanan hingga barang-barang mewah, memastikan tidak ada tulisan 'Buatan Prancis'. Saya mengganti produk Prancis saya dengan produk Pakistan. Mengapa? Karena presiden suatu negara tidak bisa begitu saja memutuskan untuk menghina seluruh penduduk Muslim. Saya telah mendesak semua orang di platform media sosial saya untuk memboikot produk Prancis. Hati nurani saya jernih karena saya melakukan sesuatu untuk membela Islam. Kami sudah bosan banyak orang mengolok-olok agama kami dan Nabi kami. Sudah cukup. Kami terus memaafkan orang-orang yang menghina Islam tapi sekarang kami mengambil tindakan. Saya merasa Macron mencoba dengan sengaja menyakiti kita. Ini seperti mencubit seseorang lalu bertanya kepada mereka: "Hei, apakah kamu merasakan sakitnya?" Saya pikir ini adalah bagian dari sesuatu yang lebih besar - Saya rasa dia menciptakan kebencian, dia memprovokasi dan memecah belah orang-orang. Pernyataannya bisa mengobarkan Islamofobia. Apa yang dikatakan presiden suatu negara memengaruhi rakyatnya. Dia seharusnya menyatukan semua warga negaranya dan menghormati mereka semua dengan setara. Ketika saya pertama kali melihat kartun Charlie Hebdo, saya tidak bisa berkata-kata. Saya menghindari melihatnya untuk waktu yang sangat lama, tetapi ketika saya melihatnya, saya terkejut. Saya menangis. Saya bertanya kepada Tuhan, "Mengapa saya melihat sesuatu seperti ini?" Latife Ozdemir - Pelajar - Istanbul, Turki Saya biasa menggunakan kosmetik Prancis, seperti L'Oreal, yang banyak dijual di sini, di Pakistan. Saya sekarang membaca semuanya mulai dari label pada makanan hingga barang-barang mewah, memastikan tidak ada tulisan 'Buatan Prancis'. Saya mengganti produk Prancis saya dengan produk Pakistan. Mengapa? Karena presiden suatu negara tidak bisa begitu saja memutuskan untuk menghina seluruh penduduk Muslim. Saya telah mendesak semua orang di platform media sosial saya untuk memboikot produk Prancis. Hati nurani saya jernih karena saya melakukan sesuatu untuk membela Islam. Kami sudah bosan banyak orang mengolok-olok agama kami dan Nabi kami. Sudah cukup. Kami terus memaafkan orang-orang yang menghina Islam tapi sekarang kami mengambil tindakan. Saya merasa Macron mencoba dengan sengaja menyakiti kita. Ini seperti mencubit seseorang lalu bertanya kepada mereka: "Hei, apakah kamu merasakan sakitnya?" Saya pikir ini adalah bagian dari sesuatu yang lebih besar - Saya rasa dia menciptakan kebencian, dia memprovokasi dan memecah belah orang-orang. Pernyataannya bisa mengobarkan Islamofobia. Apa yang dikatakan presiden suatu negara memengaruhi rakyatnya. Dia seharusnya menyatukan semua warga negaranya dan menghormati mereka semua dengan setara. Ketika saya pertama kali melihat kartun Charlie Hebdo, saya tidak bisa berkata-kata. Saya menghindari melihatnya untuk waktu yang sangat lama, tetapi ketika saya melihatnya, saya terkejut. Saya menangis. Saya bertanya kepada Tuhan, "Mengapa saya melihat sesuatu seperti ini?" Presentational grey line Latife Ozdemir - Pelajar - Istanbul, Turki Saya turut serta dalam unjuk rasa di Nouakchott bersama dengan keluarga dan teman-teman saya untuk mengutuk apa yang terjadi di Prancis. Kami memboikot semua produk Prancis supaya ekonomi Prancis hancur dan Macron meminta maaf kepada dua miliar umat Muslim yang tersinggung dengan ujaran kebenciannya. Ketimbang mengonsumsi keju The Laughing Cow - salah satu merk keju buatan Prancis - kami mengonsumi produk Turki. Saya punya parfum Prancis seperti Lacoste, tapi ketika parfum itu nanti habis, saya tidak mau membelinya lagi. Saya telah menulis surat kepada Presiden Macron untuk menuntut permintaan maaf. Di surat itu, saya bertanya kepadanya apakah guru itu layak dihormati, bagaimana dengan nabi kami, yang juga guru? Yang paling membuat kami marah adalah pidatonya tentang Islamofobia yang mengaitkan Islam dengan barbarisme. Ini adalah ketidakadilan dan provokasi yang tidak bisa kami toleransi. Fakta bahwa seorang presiden negara seperti Prancis menggunakan gambar yang menghina kelompok tertentu dan memberikan propaganda dan liputan yang tidak semestinya bukan lagi kebebasan berbicara, melainkan serangan terhadap kelompok agama tertentu. Itu cara yang murah untuk meningkatkan poin apa pun yang dia rencanakan dan raih dalam persaingan politik. Saya masih terlalu muda untuk mengingat kapan kartun Nabi Muhammad pertama kali diterbitkan oleh Charlie Hebdo, tetapi saya ingat serangan di kantor majalah itu. Semua orang mengubah foto profil mereka di media sosial menjadi 'Je suis Charlie'. Saya menghindari melihat kartun itu sepanjang waktu, tetapi saya melihatnya ketika saya menggulir Twitter beberapa hari yang lalu. Saya merasa terhina dan tidak dihargai. Mengapa Islam tidak dihormati seperti Yudaisme atau Kristen? (Red) Sumber: BBC News https://youtu.be/1sDOMwKbtyM
Aktris Pakistan, Mishi Khan. (Foto: BBC)[/caption] Sejumlah supermarket telah mengosongkan semua rak yang biasanya terisi produk-produk berlabel 'Made in France' atau 'Buatan Prancis'. Tagar seperti BoycottFrenchProducts tercatat dicuitkan lebih dari 100.000 kali dan menjadi topik yang sedang tren di media sosial selama sepekan terakhir. [caption id="attachment_327742" align="alignnone" width="480"]
Pelajar asal Turki, Latife Ozdemir. (Foto: BBC)[/caption] Macron mendukung kartun bergambar Nabi Muhammad yang diterbitkan oleh majalah satire Charlie Hebdo pada 2006, yang memicu kemarahan umat Muslim di seluruh dunia. Mereka menganggap penggambaran Nabi Muhammad sebagai serangan terhadap agama mereka. Namun anehnya, Presiden Prancis ini menyatakan ejekan berupa kartun Nabi Muhammad itu sebagai kebebasan berbicara/berekspresi. Presiden Macron selama ini dipuji karena membela sekularisme dan kebebasan berekspresi di negaranya sendiri. [caption id="attachment_327743" align="alignnone" width="480"]
Hiba Mohamed Moussa - Pelajar - Nouakchott, Mauritania. (Foto: BBC)[/caption] Kini, Macron telah menjadi sosok yang dibenci di negara-negara mayoritas Muslim seperti Bangladesh. Pada Rabu (28/10), puluhan ribu orang turun ke jalan untuk menyerukan boikot barang-barang buatan Prancis.m BBC berbicara kepada tiga orang yang mengatakan bahwa hal ini membuat mereka memutuskan untuk tidak lagi membeli produk Prancis: Mishi Khan - Aktris - Islamabad, Pakistan Saya biasa menggunakan kosmetik Prancis, seperti L'Oreal, yang banyak dijual di sini, di Pakistan. Saya sekarang membaca semuanya mulai dari label pada makanan hingga barang-barang mewah, memastikan tidak ada tulisan 'Buatan Prancis'. Saya mengganti produk Prancis saya dengan produk Pakistan. Mengapa? Karena presiden suatu negara tidak bisa begitu saja memutuskan untuk menghina seluruh penduduk Muslim. Saya telah mendesak semua orang di platform media sosial saya untuk memboikot produk Prancis. Hati nurani saya jernih karena saya melakukan sesuatu untuk membela Islam. Kami sudah bosan banyak orang mengolok-olok agama kami dan Nabi kami. Sudah cukup. Kami terus memaafkan orang-orang yang menghina Islam tapi sekarang kami mengambil tindakan. Saya merasa Macron mencoba dengan sengaja menyakiti kita. Ini seperti mencubit seseorang lalu bertanya kepada mereka: "Hei, apakah kamu merasakan sakitnya?" Saya pikir ini adalah bagian dari sesuatu yang lebih besar - Saya rasa dia menciptakan kebencian, dia memprovokasi dan memecah belah orang-orang. Pernyataannya bisa mengobarkan Islamofobia. Apa yang dikatakan presiden suatu negara memengaruhi rakyatnya. Dia seharusnya menyatukan semua warga negaranya dan menghormati mereka semua dengan setara. Ketika saya pertama kali melihat kartun Charlie Hebdo, saya tidak bisa berkata-kata. Saya menghindari melihatnya untuk waktu yang sangat lama, tetapi ketika saya melihatnya, saya terkejut. Saya menangis. Saya bertanya kepada Tuhan, "Mengapa saya melihat sesuatu seperti ini?" Latife Ozdemir - Pelajar - Istanbul, Turki Saya biasa menggunakan kosmetik Prancis, seperti L'Oreal, yang banyak dijual di sini, di Pakistan. Saya sekarang membaca semuanya mulai dari label pada makanan hingga barang-barang mewah, memastikan tidak ada tulisan 'Buatan Prancis'. Saya mengganti produk Prancis saya dengan produk Pakistan. Mengapa? Karena presiden suatu negara tidak bisa begitu saja memutuskan untuk menghina seluruh penduduk Muslim. Saya telah mendesak semua orang di platform media sosial saya untuk memboikot produk Prancis. Hati nurani saya jernih karena saya melakukan sesuatu untuk membela Islam. Kami sudah bosan banyak orang mengolok-olok agama kami dan Nabi kami. Sudah cukup. Kami terus memaafkan orang-orang yang menghina Islam tapi sekarang kami mengambil tindakan. Saya merasa Macron mencoba dengan sengaja menyakiti kita. Ini seperti mencubit seseorang lalu bertanya kepada mereka: "Hei, apakah kamu merasakan sakitnya?" Saya pikir ini adalah bagian dari sesuatu yang lebih besar - Saya rasa dia menciptakan kebencian, dia memprovokasi dan memecah belah orang-orang. Pernyataannya bisa mengobarkan Islamofobia. Apa yang dikatakan presiden suatu negara memengaruhi rakyatnya. Dia seharusnya menyatukan semua warga negaranya dan menghormati mereka semua dengan setara. Ketika saya pertama kali melihat kartun Charlie Hebdo, saya tidak bisa berkata-kata. Saya menghindari melihatnya untuk waktu yang sangat lama, tetapi ketika saya melihatnya, saya terkejut. Saya menangis. Saya bertanya kepada Tuhan, "Mengapa saya melihat sesuatu seperti ini?" Presentational grey line Latife Ozdemir - Pelajar - Istanbul, Turki Saya turut serta dalam unjuk rasa di Nouakchott bersama dengan keluarga dan teman-teman saya untuk mengutuk apa yang terjadi di Prancis. Kami memboikot semua produk Prancis supaya ekonomi Prancis hancur dan Macron meminta maaf kepada dua miliar umat Muslim yang tersinggung dengan ujaran kebenciannya. Ketimbang mengonsumsi keju The Laughing Cow - salah satu merk keju buatan Prancis - kami mengonsumi produk Turki. Saya punya parfum Prancis seperti Lacoste, tapi ketika parfum itu nanti habis, saya tidak mau membelinya lagi. Saya telah menulis surat kepada Presiden Macron untuk menuntut permintaan maaf. Di surat itu, saya bertanya kepadanya apakah guru itu layak dihormati, bagaimana dengan nabi kami, yang juga guru? Yang paling membuat kami marah adalah pidatonya tentang Islamofobia yang mengaitkan Islam dengan barbarisme. Ini adalah ketidakadilan dan provokasi yang tidak bisa kami toleransi. Fakta bahwa seorang presiden negara seperti Prancis menggunakan gambar yang menghina kelompok tertentu dan memberikan propaganda dan liputan yang tidak semestinya bukan lagi kebebasan berbicara, melainkan serangan terhadap kelompok agama tertentu. Itu cara yang murah untuk meningkatkan poin apa pun yang dia rencanakan dan raih dalam persaingan politik. Saya masih terlalu muda untuk mengingat kapan kartun Nabi Muhammad pertama kali diterbitkan oleh Charlie Hebdo, tetapi saya ingat serangan di kantor majalah itu. Semua orang mengubah foto profil mereka di media sosial menjadi 'Je suis Charlie'. Saya menghindari melihat kartun itu sepanjang waktu, tetapi saya melihatnya ketika saya menggulir Twitter beberapa hari yang lalu. Saya merasa terhina dan tidak dihargai. Mengapa Islam tidak dihormati seperti Yudaisme atau Kristen? (Red) Sumber: BBC News https://youtu.be/1sDOMwKbtyM 




























