Ini Kiat Pelaku Bisnis Andal dalam Menghadapi Masa Pandemi

Ini Kiat Pelaku Bisnis Andal dalam Menghadapi Masa Pandemi
Jakarta, Obsessionnews.com - Obsession Media Group (OMG) sukses menggelar webinar yang bertajuk ‘Kiat Pelaku Bisnis dalam Mendorong Perekonomian Bangsa’. Webinar tersebut disiarkan secara live melalui platform Zoom dan Youtube, pada Jumat (11/9/2020) mulai pukul 16.00-17.30 WIB. Dalam kesempatan tersebut, dihadiri sejumlah narasumber yang dikenal luas sebagai pelaku bisnis yang andal, yakni Ketua Bidang Kebijakan Publik APINDO Sutrisno Iwantono, CEO/Founder PT Maspion Alim Markus, dan CEO PT Eiger MPI Ronny Lukito. Sementara itu, Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI Susiwijono Moegiarso yang rencananya sebagai pembicara di acara webinar tersebut tidak dapat hadir, dikarenakan ada urusan yang sangat penting. Meski begitu, dia memberikan kiat-kiatnya melalui video yang di putar di acara tersebut. Susiwijono menyampaikan, dalam menghadapi masa pandemi Covid-19 ini, Pemerintah telah menyiapkan berbagai kebijakan berupa program yang mengedepankan kesehatan, namun juga menjaga keseimbangannya dg aspek ekonomi. “Pemerintah telah membentuk komite penanganan Covid-19 dan pemulihan perekonomian dengan menerbitkan Perpres 82 tahun 2020,” ujar Susiwijono. Melalui program ini, pemerintah berkomitmen untuk selalu menjaga perekonomian dengan mengedepankan aspek kesehatan melalui upaya mempertahankan daya beli masyarakat. Selain itu, pemerintah memberikan bantuan sosial dan juga beberapa program dalam langkah menjaga permintaan dalam negeri untuk memberi dukungan kepada para pelaku UMKM dan dunia usaha. “Pemerintah juga memberikan kebijakan kur khusus di dunia usaha, pemberian subsidi bunga dan sebagainya. Kita yakin program tersebut akan memberikan dampak meringankan beban yang dirasakan oleh dunia usaha kita,” ucapnya. Halaman selanjutnya Sementara itu, Sutrisno mengungkapkan, kondisi yang dihadapi pelaku usaha di tengah pandemi adalah bagaimana pelaku usaha harus bisa bertahan. Sebab sektor-sektor yang tercatat paling terdampak oleh Pandemi ini bersifat universal. “Semua sektor terdampak, kategorinya adalah parah dan sangat parah,” ujar Sutrisno. Misalnya kalau di sektor pariwisata, khususnya Hotel dan Restoran. Sektor retail, khususnya di pasar-pasar, mall dan perdagangan lain, lalu sektor transportasi, sektor manufaktur, ektor makanan dan minuman, dan sektor otomotif/elektronik. Untuk itu, APINDO akan melakukan konsolidasi dengan anggota untuk mengadakan rapat, diskusi, dan komunikasi secara rutin. “Memetakan berbagai persoalan yang dihadapi anggota, menurut sector, Asosiasi, dan daerah,” ungkapnya. Selain itu, APINDO akan membangun komunikasi dengan pemerintah, sama-sama mencari solusi, menyampaikan aspirasi, melakukan advokasi kepada berbagai pihak. Halaman selnjutnya Sedangkan kalau menurut Alim Markus soal pelaku bisnis dalam keadaan pandemi covid-19, perusahaan harus ada persiapan yang matang, baik itu jangka pendek maupun panjang. Sebab di masa pandemi ini beberapa industri ada yang terpukul berat dan ada yang ringan. “Baik itu berat atau ringan, kalau perusahaannya dari dulu ada persiapan, saya pikir itu tidak jadi soal,” ujar Alim. “Yang terpenting itu koperasinya sehat, cash flownya dan yang mengelola itu juga sehat,” tambahnya. Dia beranggap dalam mengelola bisnis itu merupakan kompetisi atau lomba maraton. Bagaimana dalam waktu 3 tahun harus menang dari pesaing. “Maka dari itu harus ada market shere yang besar. Karena market shere yang besar dapat menikmati jumlah yang besar,” Dalam berbisnis dia selalu mementingkan kualiti, mementingkan market shere, sehingga dapat menggeser market shere  orang lain. Selain itu, di masa Pandemi ini, dia lebih suka memakai brand atau merek. Dia juga memastikan kalau brand ini bukan secara komoditi. Sebab kalau komoditi selalu gampang ‘digoyang’. “Dalam keadaan pandemi brand selalu di cari. Karena dalam keadaan pandemi, orang-orang tidak ingin ke sana kemari. Sukanya di rumah tinggal order,” ungkapnya. Halaman selanjutnya Lain halnya yang dilakukan oleh Ronny Lukito di masa pandemi Covid-19 ini. Menurutnya situasi seperti ini sebuah momentum, sebuah peluang dan kesempatan untuk bisa melakukan persiapan untuk merubah funda mental dan berfokus bagaimana bisa memperbaiki, membenahi hal-hal yang sebelumnya kurang perhatian dan kurang waktu. “Kita tahu dan tertarik yang sifatnya bisnis, itu tidak salah. Justru kesempatan ini katakanlah kita konsilidasi untuk menyadari kondisi yang sebenarnya perusahaan kita,” ujar Ronny. Menurut dia, ada lima kiat pelaku bisnis atau usaha dalam menghadapi pandemi ini. Yang pertama pelaku usahanya sendiri harus sehat dulu, apalagi dalam kondisi pandemi ini. “Kalau kita tidak sehat bagaimana kita bisa melakukan strategi-strategi seoptimal mungkin. Selain itu, pelaku usaha yang pasti harus optimis, antusias. “kaaul tidak optimis dan antusias, selesailah kita,” tegasnya. Kedua, cash flow itu sangatlah penting. Yang dilakukannya di Eiger melakukan persiapan. Karena kondisi seperti ini bisa berubah dengan perencanaan yang sudah dibuat. Selain itu pengeluaran dan pemasukan uang harus jelas. Ketiga, dalam situasi seperti ini, pengusaha harus mempersiapkan bisnis itu bukan jangka pendek saja, namun jangka pendek, menengah, dan panjang. “Jadi kita sudah melakukan persiapan itu dari jauh-jauh hari,” tuturnya. Dia pun bersyukur apa yang dilakukan Eiger lima tahun lalu. Yang dilakukan Eiger lima tahun lalu berhasil dan berbuah nyata, sehingga funda mental dasar yang dibangun sudah lumayan dan cukup mumpuni. “Sehingga pada saat terjadinya pandemi ini, bersyukur Eiger tidak terlalu berdampak,” katanya. Contohnya, lanjut Ronny, merubah bisnis model sudah dilakukan lima tahun yang lalu. Yang dulu Eiger mengandalkan pasar tradisional, menjual kepada super market, pengencer-pengecer, itu semua sudah dilakukan. “Kita membuka Chanel bisnis sendiri, karena ini jauh lebih menguntungkan. Nah itu buahnya, saat ini kita tidak terlalu terpuruk,” ungkapnya. Selanjutnya yang keempat, dia sering lupa dalam mengembangkan people deplovment atau memanusiakan manusia secara utuh. Sebab Ronny masih menganggap manusia itu sebagai sumber daya perusahaan, sebagai aset, itu adalah cara lama. Dia mengaku untuk ke depannya dia harus konsen ke human eksperen. Di mana tim kerja sudah menjadi keluarga, menjadi partner. “Nah ini yang sedang kita menuju ke sana. Menurut saya di situasi pandemi ini mengejar ketertinggalan kita dengan konsen to people,” ucapnya. Dan yang kelima, digitalisasi harus diperhatikan. Sebab masyarakat sekarang ini untuk melakukan apa saja menggunakan sistem digitalisasi. (Poy)