Kartika Mirda Junjung Tinggi Integritas Profesi

Jakarta, Obsessionnews.com — Nama Kartika Mirda dikenal sebagai seorang professional lawyer yang telah terjun di bidang tersebut selama dua puluh tahun lamanya. Lulusan hukum Universitas Padjadjaran Bandung ini memulai karier tahun 1998 bekerja di firma hukum Amir Syamsudin and Partners.
“Saat itu saya bekerja sebagai asisten pengacara dan memperoleh banyak pengalaman di kantor Pak Amir. Kemudian, saya bergabung di beberapa lawfirm,” tutur wanita ramah dan murah senyum ini.
Berbekal pengalaman tersebut, pada tahun 2005, Kartika memberanikan diri membuka kantor hukum sendiri, Kartika Hermawan & Partners Law Offices. “Sebagai seorang istri dan ibu yang harus mempunyai banyak waktu di rumah, saya mulai mempertimbangkan mendirikan kantor pertama saya. Kebetulan, suami yang juga alumni Unpad sangat mendukung saya agar mempunyai banyak waktu luang untuk keluarga,” ujarnya.
Pada saat itu, Kartika dipercaya menjadi legal in house di kantor perusahaan milik Prabowo Subianto. Berlanjut menangani beberapa perusahaan, baik lokal maupun asing, pada bidang keahlian seputar dalam bisnis komersial, investasi hukum asing, masalah perusahaan, ketenagakerjaan, litigasi, dan lainnya.
Perlahan tapi pasti, dia mulai berani menjajaki untuk menyewa gedung sendiri untuk kanto hukum multisektornya, hingga pada tahun 2014 bergabung di International Law Firm yang berpusat di Luxemburg di Eropa. Sejak itulah dia mulai memiliki banyak klien yang mayoritas asing di bidang kegiatan bisnis di perdagangan umum, minyak dan gas, pertambangan, mekanik, kontraktor, konsultasi sipil, dan lainnya.
Dia dipercaya menangani urusan mulai dari investasi di Indonesia, semua keperluan legalitas, hingga bertindak sebagai penasehat hukum, untuk melakukan negosiasi dan penyusunan berbagai kontrak seperti perjanjian kerja sama. Kantor hukumnya juga selalu memberi tahu klien tentang hukum maupun peraturan Indonesia terkini yang terkait dengan kegiatan bisnis mereka. Seperti peraturan korelasi antara undang-undang hukum investasi dan undang-undang perburuhan.
Walaupun klien semakin bertambah, Kartika tidak sembarang langsung mengambil semua untuk ditangani. “Jumlah klien pun dibatasi, yang saya jadikan mitra hanya yang mau mengikuti aturan Indonesia. Karena tujuan utama saya bekerja untuk memanfaatkan ilmu, memberi manfaat kepada klien, tetapi tetap dalam koridor sebagai istri dan ibu rumah tangga. Saya bukan berambisi menjadi yang terbesar atau terhebat, tetapi ingin memberikan secara maksimal. Itulah yang membedakan dengan lawfirm lain,” tegas perempuan yang menjadikan pengacara Amir Syamsudin dan Kartini Muljadi sebagai sosok inspirasi karena kebijaksanaan dan kemampuan menjaga rumah tangga yang baik.
Menjadi Pengacara Profesional
Kualitas pengacara yang baik menurut Kartika adalah memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Harus yakin bisa menyelesaikan kasus sekaligus meyakinkan klien bahwa urusannya akan bisa tertangani. Kemudian, berintegritas dan menjaga amanah agar klien selalu percaya. Salah satu problemnya adalah dalam menangani masalah akibat dampak wabah pandemi kini.
“Saat ini memang semua terkena imbasnya, termasuk para klien saya. Mereka bercerita kepada saya sebagai kuasa mereka. Di masa seperti ini, pendapatan turun sehingga kebingungan bagaimana membayar tagihan, karyawan, dan lainnya. Saya berusaha membuat mereka tidak panik, karena kalau kita ikut panik tidak akan menyelesaikan masalah. Paling penting adalah bagaimana cara menghadapi supaya di masa ini kita tidak semakin jatuh. Kami membantu mengatur kondisi keuangan semaksimal mungkin tanpa harus mengorbankan suatu pihak, hingga diharapkan setelah lewat masa ini semua kembali normal,” tutur anggota Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) dan Asosiasi Kurator dan Pengurus Indonesia (AKPI) ini dengan bijak.
Dia mengakui sisi gelap dunia advokat itu memang ada tetapi kita bisa menghindarinya dengan cara tidak menjanjikan klien bahwa perkaranya pasti menang, karena yang menentukan kalah menang itu adalah hakim di pengadilan. Selain itu, advokat harus meyakinkan klien akan memberikan upaya hukum yang terbaik untuk mereka.
“Segala peristiwa up and down semuanya dijadikan pembelajaran agar kita bisa lebih tangguh menghadapi masalah. Bagi saya, jika bisa membantu klien menyelesaikan persoalannya itu merupakan kepuasan tersendiri,” katanya.
Di tengah banyaknya kantor hukum, upaya Kartika tetap bertahan selama ini adalah dengan berusaha untuk me-maintain agar klien tetap percaya. Caranya dengan memberikan solusi hukum kepada klien dan berprinsip membantu klien menyelesaikan masalahnya seefisien mungkin, tanpa perlu mengeluarkan biaya besar. Sosok perempuan keibuan ini pun berbagi kunci sukses dan semangat yang ingin ditularkan untuk generasi muda yang terjun ke dunia hukum.
“Prinsip saya adalah jika ingin menekuni suatu profesi kita perlu mempelajari dan memahami secara mendalam. Oleh karena itu, kita harus belajar dan rutin meng-upgrade skill dari buku, orang lain, maupun sumber lainnya,” tutur Kartika.
Dia juga mengungkapkan jangan merasa sudah hebat sehingga tidak mau belajar lagi karena cenderung tidak menghargai orang lain. Dalam bekerja dan berhubungan dengan orang lain, upayakan selalu menjaga sikap agar orang tidak merasa diremehkan.
“Keberhasilan itu bukan karena diri kita sendiri, pasti ada campur tangan orang di sekitar kita, antara lain tim. Tidak ada orang yang hebat sendiri,” lanjutnya menekankan.
Kartika memaparkan dirinya juga sering mendapat bantuan tim dalam mempelajari hal baru. Terkadang walaupun mengurusi jenis kasus yang sama, cara penanganannya akan berbeda karena orang yang dihadapi juga beda. Buah dari teamwork tersebut, kantor hukumnya meraih titel Leading Business and Commercial Law Adviser of the Year dari majalah Acquisition International.
Utamakan Keluarga
Dalam kesehariannya, Kartika akan selalu berupaya menyeimbangkan antara karier dan keluarga. Dia mengungkapkan keyakinannya, “Jika kita ingin berhasil di karier, kita harus membuat keluarga men-support. Karena kalau mereka mendukung, itu membuat spirit dan semangat kita bagus. Jika mereka tidak ridho atau tidak senang maka tentu akan berpengaruh pada kinerja kita,” tutur dia.
Tak heran jika dia berusaha tetap mengutamakan keluarga di atas kepentingan apa pun. Sehari-hari ibu dua anak ini akan selalu pulang ke rumah tepat waktu demi segera menjumpai suami dan putra-putri tercinta. “Bagi saya bekerja bukanlah segalanya. Kami tidak pernah overtime, karena saya selalu ingin meluangkan waktu untuk keluarga,” ulasnya.
Kartika menuturkan, dalam mendidik anak-anak dirinya bukanlah tipe yang memaksakan kehendak. "Saya dan suami adalah tipe orangtua yang demokratis. Jadi anak-anak diberi kebebasan dalam menentukan jurusan kuliah dan profesi mereka kelak. Meskipun saya dan suami sama-sama lulusan fakultas hukum, kami tidak meminta mereka untuk mengambil jurusan hukum juga," tuturnya.
Untuk memanfaatkan waktu luang, Kartika banyak menghabiskan waktu senggang di rumah bersama keluarga, seperti melakukan aktivitas memasak bersama. "Selain itu saya hobi berkebun, bermain piano, dan memelihara banyak kucing di rumah. Sehingga weekend kami sekeluarga selalu ceria dan bahagia. Alhamdulilah, ini sangat kami syukuri," ucapnya sembari tersenyum.
Mengakhiri pembicaraan, Kartika menguntai harapan untuk tahun ini maupun tahun-tahun mendatang, termasuk bermaksid mengukuhkan posisi law firm-nya di kancah internasional yang lebih luas. “Pada titik ini saya bersyukur lawfirm ini mampu bertahan dari tahun 2005 hingga sekarang, tetap dipercaya klien, tim kerja saya semua sejahtera, dan pendapatan meningkat tiap tahun. Ke depannya saya ingin kantor hukum ini tetap mampu membawa manfaat dan kepuasan baik bagi klien maupun para tim saya,” ujarnya penuh harap. (Has)




























