Wangsit Raja Jawa

Oleh: Hendrajit, Pengkaji Geopolitik, dan Direktur Eksekutif Global Future Institute SAYA percaya para raja Jawa bisa memerintah rakyat karena dapat wangsit, karena yang pernah cerita ke saya itu almarhum Doktor Sujatmoko yang nan rasional. Dulu Pak Koko, panggilan akrabnya, tinggal di jalan Tanjung, kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Sehingga saya yang waktu mahasiswa aktif di ISAFIS, Jalan Banyumas, berdekatan. Dan sering mampir ke rumahnya. Atau sebaliknya, beliau kami undang bertandang ke markas ISAFIS. Menurut Pak Koko, apabila wangsit sang raja Jawa lepas darinya, maka sang raja tidak berkuasa lagi. Maka untuk memelihara dan mempertahankan kekuasaannya, dia menggunakan bantuan dukun-dukun atau guru mistik untuk membela dan melindunginya. Begitu penuturan mantan Rektor Universitas PBB dan mantan Dubes RI di AS itu. Waktu Pak Koko cerita ini, saya belum ngeh rupanya Pak Koko juga pernah jadi pelaku mistik juga. Saya baru dapat informasi ini dari sahabat karibnya, wartawan senior Rosihan Anwar. Menurut Pak Ros, panggilan akrab Rosihan Anwar, yang beliau kisahkan dalam sebuah tulisannya yang terangkum dalam buku berjudul Guru-guru Keluhuran, yang dimaksud Pak Ros dengan pelaku mistik itu, Pak Koko ini punya kemampuan menyaksikan suatu kejadian mistik melalui mimpi. Pada suatu hari Sujatmoko, begitu menurut kisah Pak Ros, menceritakan kesaksiannya melalui mimpinya. Rupanya ini terkait dengan wangsit sang raja itu tadi. Bersama guru mistik beliau mengadakan pertemuan di mana diusahakan menembus pertahanan yang dipasang oleh sang raja. Ini berarti adu kekuatan siapa raja lebih kuat ilmunya, di alam maya. Ternyata dukun sang raja lebih kuat, karena berkali-kali si guru mistik terpental jatuh dipukul kembali. Benteng dukun sang raja masih terlalu kuat. Jadi mundur teratur dulu, saatnya belum tepat. Masih ada lagi satu cerita soal mistik ini.Sekitar setahun sebelum meletus G-1965, Sujatmoko dalam mimpinya melihat keris Bung Karno terjatuh di atas lantai pualam. Meski Pak Ros menepis cerita sohib karibnya ini yang menurutnya orang waras pun bisa memprediksi bahwa ambruknya Sukarno hanya soal waktu, namun cerita Sujatmoko yang doktor dan orang rasional ini tetap menarik menurut saya. Akhir hidup Pak Koko sendiri menurut saya cukup mengagumkan. Menggambarkan passion atau hasrat sejatinya sebagai ilmuwan dan guru. Beliau wafat secara mendadak, ketika sedang menyampaikan seminar di depan banyak kalangan peserta. Dan Pak Ros, sohib karibnya sejak sama sama jadi wartawan dan pernah sama sama mendirikan sebuah majalah, berada di sampingnya saat Pak Koko mengembuskan napasnya yang terakhir.





























