Gus Sholah: Saya NU yang Masyumi

Oleh: Lukman Hakiem, Peminat Sejarah, dan Sekretaris Majelis Pakar Persaudaraan Muslimin Indonesia (Parmusi) INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI. Bangsa Indonesia kembali kehilangan salah seorang putra terbaiknya. Tokoh senior Nahdlatul Ulama dan pemimpin Pondok Pesantren Tebuireng, Jawa Timur, K.H. Salahuddin Wahid wafat pada 2 Februari 2020. Menurut H. Aboebakar (1957:160), Salahuddin Wahid yang akrab dengan sapaan Gus Sholah terlahir dengan nama Sholahuddin Al-Ayyubi di Denanyar, Jombang, pada 11 September 1942 sebagai putra ketiga K.H. A. Wahid Hasjim. K.H.A. Wahid Hasjim adalah Pahlawan Nasional yang tercatat sebagai salah seorang penandatangan Piagam Jakarta 22 Juni 1945, pernah menjabat Ketua Umum Pengurus Besar NU, dan Menteri Agama di masa RIS dan RI. Hubungan NU dengan Masyumi SETELAH selesai menulis naskah buku Biografi Mohammad Natsir saya terpikir untuk meminta endorsement dari beberapa tokoh. Di antaranya yang --menurut saya-- wajib diminta ialah Gus Sholah. Natsir yang biografinya baru selesai saya tulis adalah tokoh dan Ketua Umum Partai Masyumi (1949-1958). Di masa kepemimpinan Natsir, NU yang pada 7-8 November 1945 turut mendirikan Masyumi sebagai satu-satunya wadah perjuangan politik umat Islam Indonesia, keluar dari Masyumi dan menyatakan diri sebagai partai politik. Fakta keluarnya NU dari Masyumi, menyebabkan banyak kalangan menyimpulkan bahwa antara NU dengan Masyumi terbentang jarak yang tidak mungkin dijembatani. Melihat berbagai fakta sesudah NU keluar dari Masyumi, kesimpulan itu tidak sepenuhnya benar. Menurut juru bicara Partai Masyumi, Anwar Harjono, di antara NU dengan Masyumi memang pernah terdapat perbedaan, tetapi lebih banyak lagi persamaannya. Dalam tulisan di majalah Media Dakwah, Mei 1994, Harjono yang pernah menjadi Wakil Sekretaris Jenderal Masyumi mengungkapkan, bahwa sesudah menyatakan keluar dari Masyumi dan berdiri sebagai partai politik, kerja sama di antara Masyumi dan NU tetap terjalin baik. Ketika terbentuk Kabinet Boerhanoeddin Harahap (Masyumi), terdapat kerja sama yang baik dengan NU. Dua posisi strategis diberikan kepada NU, yaitu Menteri Dalam Negeri Mr. Soenarjo dan Menteri Agama K.H.M. Iljas. Menjelang pemilihan umum 1955, pemimpin empat partai politik Islam: Masyumi, NU, PSII, dan Perti mengeluarkan Pernyataan Bersama yang intinya menyerukan umat Islam pengikut dan pendukung keempat partai agar sungguh-sungguh menjaga supaya perbedaan paham di lapangan politik jangan sampai merusak ukhuwah Islamiyah. Sesudah terbentuk kabinet hasil pemilu 1955, kerja sama Masyumi dengan NU tercermin di dalam Kabinet Ali-Roem-Idham yang merupakan koalisi antara PNI, Masyumi, dan NU. Di Konstituante yang bertugas menyusun konstitusi definitif, kerja sama antara Masyumi, NU, dan semua partai politik Islam, juga terjalin dengan sangat baik. Di masa pergolakan daerah dan ekses sesudahnya, kerja sama NU dengan Masyumi juga tidak mengalami masalah. Masyumi, NU, dan partai-partai pembela demokrasi bersama-sama membentuk Liga Demokrasi menolak pembubaran DPR hasil pemilihan umum 1955 oleh Presiden Sukarno. Menurut Harjono, agar lebih objektif, hubungan NU dan Masyumi hendaknya jangan hanya dilihat perbedaannya. "Lagi pula," tulis Harjono, "penilaian-penilaian negatif terhadap Masyumi tidak mempunyai dasar sejarah. Memahami hal itulah, Musyawarah Nasional Perhimpunan Sarjana Hukum Indonesia, pada 3 Desember 1966 di Jakarta, mendesak pemerintah agar segera merehabilitasi Masyumi, karena secara yuridis-formal pembubarannya tidak sah. Dan secara yuridis-material, tidak beralasan. Masyumi adalah korban politik rezim Orde Lama." Halaman selanjutnyaSilaturahmi tokoh NU dan Masyumi DARI berbagai catatan, terlihat hubungan akrab antara M. Natsir dengan Kiai Wahid Hasjim. Anwar Harjono bercerita, menjelang Muktamar Masyumi 1949, Gus Wahid memasarkan gagasan pergantian Ketua Umum Masyumi dengan figur yang lebih muda. Ketua Umum Masyumi dr. Soekiman Wirjosandjojo (lahir 1898) yang memimpin sejak 1945 dianggap sudah tua dan harus diganti. Gagasan Gus Wahid mendapat dukungan. Diajukanlah M. Natsir (lahir 1908) menjadi calon Ketua Umum untuk menggantikan Soekiman. Sejarah mencatat, Natsir berhasil mengungguli Soekiman. Ketika Presiden Sukarno menunjuk Natsir menjadi formatur pembentukan kabinet, Natsir meminta bantuan Kiai Wahid Hasjim dan Mr. Sjafruddin Prawiranegara. Dalam kabinet pertama di masa Negara Kesatuan itu, Gus Wahid diberi amanah menjadi Menteri Agama. Lazimnya hubungan sesama anak Adam, tentulah ada dinamika, ada pasang naik, dan pasang surut. Pasang surut dalam hubungan Natsir dengan Gus Wahid, tentulah pada saat krisis hubungan NU-Masyumi yang berujung keluarnya NU dari Masyumi. Apakah krisis itu mengakhiri hubungan insani Natsir dengan Gus Wahid? Halaman selanjutnya Dalam percakapan di kediamannya pada 1 Juli 2019, Gus Sholah menuturkan kisah yang sangat dramatis. Muktamar NU di Palembang pada 1952, akhirnya memutuskan NU keluar dari Masyumi, menjadi partai politik yang berdiri sendiri, dan menunjuk Gus Wahid menjadi Ketua Umum Partai NU. Sekembalinya di Jakarta, menurut Gus Sholah, orang pertama yang ditemui oleh ayahandanya adalah Ketua Umum Masyumi, M. Natsir. Gus Wahid meminta maaf kepada Natsir karena tidak bisa menolak takdir perpisahan itu, dan mengajak Natsir untuk membangun kerja sama antara NU dengan Masyumi. Kerja sama itu diwujudkan seperti digambarkan dalam tulisan Anwar Harjono di atas. Natsir juga menjalin kerja sama dengan tokoh NU yang lain, seperti K.H. Masjkur. Saat menjadi Perdana Menteri, menghadapi protes pemimpin dan rakyat Aceh yang statusnya diturunkan dari provinsi yang berdiri sendiri menjadi bagian dari provinsi Sumatera Utara, Natsir mengajak Kiai Masjkur menemui pemimpin Aceh, Tengku M. Daud Beuru-eh. Suatu hari di tahun 1989, Kiai Masjkur bermaksud menemui M. Natsir di kantor Dewan Da'wah Islamiyah Indonesia. Setibanya di pelataran parkir, Kiai Masjkur meminta putranya, Sjaiful Masjkur, untuk lebih dulu melihat apakah masih banyak tamu yang mengantri untuk bertemu dengan M. Natsir. Setelah ternyata tamu masih banyak, Kiai Masjkur membatalkan rencananya bertemu Natsir. "Lain kali saja," ujarnya kepada Sjaiful. Natsir yang dilapori oleh sekretarisnya, Misbah Malim, tentang kedatangan putra Kiai Masjkur, sesudah tamu terakhir diterima, segera meluncur menuju kediaman sahabatnya itu. "Jika Kiai Masjkur datang, pasti ada soal penting yang akan dibicarakan," kata Natsir kepada Misbah. Demikianlah, dengan segala perbedaan di antara mereka, tokoh-tokoh NU dan Masyumi tidak pernah memutus tali silaturrahim. Sebagaimana Natsir yang biasa mengunjungi kediaman Masjkur, Kiai Masjkur juga tidak sungkan bertandang ke rumah Natsir. Adik Gus Wahid, K.H.M. Jusuf Hasjim (Pak Ud), juga tidak canggung datang dan bertemu dengan Natsir. Yang khas dari Pak Ud, dia selalu mencium tangan Natsir. [gallery link="file" columns="1" size="full" ids="303352"] Seakan mengikuti jejak pendahulunya, pada 10 Januari 2020, Gus Sholah datang ke kantor Dewan Da'wah di Jl. Kramat Raya 45, untuk membicarakan pembuatan film tentang kekejaman komunis di Indonesia. Gus Sholah hadir bersama budayawan Taufiq Ismail, dan mantan KSAD Jenderal TNI (Purn) Agustadi. Halaman selanjutnyaMengapa Gus Sholah? DENGAN berbagai fakta di atas, makin keras kehendak saya untuk meminta endorsement dari Gus Sholah. Sebagai penulis buku Biografi Dr. Anwar Harjono, S.H., saya mengetahui bagaimana eratnya hubungan antara Anwar Harjono dengan K.H. A. Wahid Hasjim dan keluarganya. Harjono pernah nyantri di pesantren Tebuireng, dan berkesempatan mengaji langsung kepada Hadratus Syaikh Hasjim Asj'ari, dan Gus Wahid. Selain nyantri, Harjono juga diminta untuk mengajar bahasa Jepang di Madrasah Tebuireng. Ketika ada pejabat Jepang berkunjung ke Tebuireng, Harjono dipercaya menjadi penerjemah. Saya percaya, Gus Sholah memiliki pemahaman lebih mengenai Natsir dan Masyumi. Melalui sahabat saya, Dr. K H. Endin AJ Soefihara, saya mendapat nomor kontak Gus Sholah. Pada 25 Juni 2019 saya mengontak, dan menyampaikan maksud meminta endorsement untuk Biografi Mohammad Natsir. Tidak terlalu lama, datang balasan Gus Sholah, sebagai berikut (dengan penyempurnaan penulisan): "Sabtu malam saya ke Jakarta. Bisa ketemu saya pada Ahad atau Senin setelah maghrib, sekitar jam 19. Rumah saya di Jalan Bangka Raya No. 2C, ujung Jalan Bangka dekat Jalan Tendean. Tandanya: ada hotel Flat 06, belok kiri." Halaman selanjutnya Sesuai kesepakatan, Senin malam, ditemani anak sulung M. Almanfaluthi Hakiem, saya datang di kediaman Gus Sholah. Beliau menyambut kami dengan ramah. Dalam obrolan, Gus Sholah mengaku senang diminta memberi endorsement untuk tokoh yang dikaguminya. "Gambaran tentang Pak Natsir dalam ingatan saya adalah seorang tokoh sederhana dengan baju koko putih, dan sorban putih melilit di lehernya," kata Gus Sholah sambil menambahkan, "Saya ini NU yang Masyumi." Keesokan harinya, sesudah subuh, masuk endorsement dari Gus Sholah sebagai berikut: "Pak Natsir adalah pemimpin Islam terkemuka pada tahun 1950-an, yang mengusulkan supaya negara Republik Indonesia Serikat (RIS) diubah menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pak Natsir adalah tokoh pemikir Islam yang menonjol pada masanya, yang pernah berpolemik dengan Bung Karno tentang hubungan negara dan Islam. Tokoh muda Islam yang menonjol, seperti Nurcholish Madjid dan Yusril Ihza Mahendra, pernah disebut sebagai Natsir muda. Seperti tokoh-tokoh masa lalu, Pak Natsir adalah tokoh yang sederhana, berani dan jujur. Ucapan beliau sejalan dengan tindakan. Buku ini menampilkan Pak Natsir sebagai salah satu teladan bagi generasi milenial dalam hal kepemimpinan yang bersih, santun, punya prinsip, dan berani memperjuangkan prinsip itu." -- Salahuddin Wahid, Pengasuh Pesantren Tebuireng. Tidak lama kemudian masuk lagi pesan dari Gus Sholah yang berharap agar endorsement sesuai dengan harapan. Saya jawab bahwa endorsement Gus Sholah jauh melampaui harapan. Jawaban saya direspons oleh Gus Sholah: "Alhamdulillah. Sebelum subuh adalah saat yg tepat untuk menulis. Saya ingin hadir kalau buku itu diluncurkan." Menjelang peluncuran buku, saya usulkan kepada penerbit Pustaka Al-Kautsar supaya mengundang Gus Sholah, dan meminta beliau memberi sambutan peluncuran. Secara pribadi, saya kirim undangan melalui pesan WA. Sayang, karena alasan kesehatan, Gus Sholah tidak bisa hadir. "Terima kasih undangannya. Sayang sekali sedang kurang sehat. Harus banyak istirahat di rumah." Saya merasa sudah sangat tepat mengundang Gus Sholah memberi endorsement untuk Biografi Mohammad Natsir, dan Gus Sholah sudah memberi endorsement yang jauh melampaui harapan saya. Oleh karena endorsement yang sangat mengena, saya dan penerbit sepakat menempatkan penggalan endorsement Gus Sholah di kulit depan. Itulah tanda terima kasih dan penghormatan kami kepada Gus Sholah. Selamat jalan Gus. Surga menantimu. Allahummaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fu'anhu. []





























