Direktur Konsumer Bank Bukopin Blak-blakan Ungkap Kiat Sukses

Yogyakarta, Obsessionnews.com - Kesuksesan tidak mungkin dapat diraih tanpa menjaga rekam jejak. Bahkan di setiap posisi yang dilalui, setiap orang harus dapat menciptakan rekam jejak yang bagus. Karena itu tidak mengherankan jika setahun diangkat sebagai Direktur Konsumer di PT Bank Bukopin Rivan Achmad Purwantono mampu mengubah tata kelola keuangan. Baca juga:FOTO Direksi Bank Bukopin Berkunjung ke Both Bank BukopinTingkatkan Layanan, BPJS Ketenagakerjaan Gandeng Bank BukopinGlen Glenardi Sukses Tingkatkan Kinerja Gemilang Bank Bukopin Rivan mengemukakan, hanya meyakini saja bisa mempelajari apa pun. “Keberhasilan memimpin tidak hanya bergantung pada jaringan eksternal, namun juga karena jaringan internal," ujar Rivan ketika memberikan bekal kepada 1.277 calon lulusan Program Sarjana dan Diploma Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, pada Wisuda Periode III Tahun Akademik 2018/ 2019 di GSP UGM, Selasa (21/5/2019). Dikutip obsessionnews.com dari keterangan tertulis Humas UGM, dalam acara itu Rivan blak-blakan mengungkapkan kiat agar bisa sukses setiap orang tidak hanya dituntut srawung (pergaulan), namun juga harus srawung dan laden (melayani), karena keduanya saling melengkapi. “Ada teman baik, bisa melayani dengan baik, dampaknya pasti baik. Pertemanan (relationship) pasti akan dikenal dengan baik. Tapi kalau Anda punya network sangat baik, tapi nilai dari laden (melayani) tidak ada, maka tidak dianggap oleh networking, seseorang harus ada yang istimewa untuk ditampilkan," ujar alumnus Fakultas Filsafat UGM ini. Baca juga:Laba Bank Bukopin Tumbuh 38,5 Persen di Kuartal I 2016Bukopin Masuk Bank Menengah IndonesiaHari Pelanggan Nasional, Bank Syariah Bukopin Gelar Service Day Rivan menuturkan, dari pengalamannya berkarier maka dalam segala aktivitas ia selalu menekankan pada tindakan atau contoh. Sebab, jika pola pikir yang ditekankan maka tidak akan diikuti oleh orang lain. Menurutnya, dengan tindakan maka orang lain akan melihat dan pada akhirnya mengikuti. Sebaliknya, jika setiap pribadi menekankan pola pikir dibandingkan tindakan biasanya akan berujung pada kegagalan. “Karena gerakannya tidak diikuti. Yang perlu dilakukan oleh orang yang akan melakukan perubahan mestinya pola pikir sedikit, tapi tindakannya langsung. Meski begitu, jangan sampai tindakan doang tanpa pola pikir, sebab bagaimanapun yang bagus adalah kombinasi antara pola pikir dan tindakan yang komposisi mayoritasnya berupa tindakan," ucapnya. Baca juga:Mahasiswa UGM Sabet Juara SENWIC 2019Kisah Anak Penjual Mainan Peraih Nilai Sempurna UNBK Masuk UGMLangganan Juara, Azkal Diterima Kuliah di Geodesi UGMKhamal, Anak Pengamen yang Diterima Kuliah di UGM Rivan menjelaskan, pada 2019 ini jumlah pengusaha di Indonesia hanya 1,6 persen. Kondisi ini tentu membuka kesempatan pada siapa saja untuk berbisnis, tak terkecuali lulusan UGM. Menurutnya, di tahun 2018 dan 2019 siapa saja bisa berbisnis, sebab ketika berbicara soal startup, siapa pun bisa melakukan bisnis ini. Maka sangat disayangkan jika tidak ada keberanian menjadi pengusaha di era sekarang ini. “Era saat ini yang penting seseorang menjadi orang yang mandiri, itu jauh lebih penting,” ujarnya. Generasi milenial, lanjutnya, saat ini mencapai 23 persen. Hal ini tentu meyangkut pola pikir dan pola kerja. “Kita tahu cara pikir generasi saat ini berubah luar biasa, dan mereka adalah pasar yang hebat dan harus dinikmati oleh negeri sendiri karena 10 tahun ke depan tonggak ekonomi ada di kaum milenial ini," tegasnya. (arh)





























