Terungkap! Ini Alasan Kenapa Ma'ruf Amin Lebih Banyak Diam Saat Debat Capres

Terungkap! Ini Alasan Kenapa Ma'ruf Amin Lebih Banyak Diam Saat Debat Capres
Jakarta, Obsessionnews.com - Ada yang berbeda dari debat capres pada 17 Januari 2019. Dalam menjawab sejumlah pertanyaan, calon presiden no urut 01 Joko Widodo (Jokowi) terlihat lebih dominan menjawab. Sementara calon wakilnya, Ma'ruf Amin, lebih banyak diam. Lantas apa penyebabnya? Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf, Erick Thohir mengungkapkan, penampilan cawapres bernomor urut 01 Ma'ruf Amin yang lebih banyak diam dalam debat perdana Pilpres 2019 merupakan bagian dari skenario yang sudah dirancang demikian rupa. "Kalau ditanya, cawapres kok tidak banyak bicara? Itu sesuai dengan skenario," ujar Erick dalam diskusi dengan redaksi VIVA di Kantor VIVA, Pulogadung, Jakarta Timur, Kamis (24/1/2019). Baca juga:Pilih Jokowi Pilih Orang BaikMa’ruf Amin akan Bangkitkan Sel NU yang TertidurBertemu Para Kiai Madura, Ma’ruf Optimistis MenangPendarat Tuban Siap Menangkan Jokowi-Ma’ruf   Baca halaman selanjutnya Menurut Erick, TKN ingin capres maupun cawapres, berbicara sesuai dengan tupoksinya. Latar belakang Ma'ruf yang merupakan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) sangat tepat jika Ma'ruf hanya berbicara dalam topik keislaman, juga ideologi keagamaan. Lantas Ma'ruf hanya memberi jawaban dalam pertanyaan seputar terorisme dan radikalisme. Itu pun diberi ruang sedikit. "Yang pasti, beliau bisa bicara banyak mengenai terorisme. Kalau bicara mengenai hukum, mengenai misalnya korupsi, kan beliau belum pernah menjabat," ujar Erick. Erick membantah penampilan Ma'ruf yang lebih banyak diam menandakan bahwa Ma'ruf tidak mampu menjawab atau tidak paham mengenai berbagi isu sosial, politik, dan hukum. "Bukan beliau enggak mampu, tapi memang strateginya seperti itu," ujar Erick. Selain itu, mantan Ketua INASGOC ini menekankan TKN juga ingin Jokowi lebih banyak berbicara. Sebab, seorang capres dinilai lebih tepat banyak memaparkan visi dan misi sebagai calon kepala pemerintahan utama dibanding calon wakilnya. "Kita itu juga kan melakukan pemilihan presiden, bukan memilih wapres untuk jadi presiden. Sudah seyogyanya proporsional sebagai presiden harus besar, apalagi kalau bicara tentang visi, misi, dan solusi," ujar Erick. (Albar)