Kasus Ratna Sarumpaet Beri Surplus Isu Positif untuk Jokowi

Jakarta, Obsessionnews.com - Isu dan program yang menjadi perhatian publik secara luas dan punya efek elektoral yang terekam dalam survei ternyata berbeda dengan isu atau program yang terekam dalam media monitoring yang dilakukan oleh Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA. Tentunya survei dan media monitoring adalah metode yang berbeda. Salah satu perbedaan utamanya adalah survei merekam opini publik terhadap sebuah isu dengan menggunakan sampling. "Sementara media monitoring adalah metode untuk merekam frekuensi pemberitaan sebuah isu dengan menggunakan aplikasi tertentu," ujar Peneliti LSI Denny JA Rully Akbar dalam keterangan tertulisnya, Jumat (7/12/2018). Baca juga:Bawaslu Putuskan Kasus Ratna Sarumpaet BesokKasus Ratna Sarumpaet Masuki Tahap PemberkasanPermohonan Tahanan Kota Ratna Sarumpaet DitolakKejaksaan Siap Tangani Kasus Ratna Sarumpaet Menurutnya, survei memang lebih akurat dalam membaca pengaruh sebuah isu terhadap pemilih secara luas. Sementara media monitoring lebih berfungsi untuk membaca sejauh mana sebuah isu dipercakapkan di berbagai media. Dari hasil media montoring yang dilakukan di dalam strategic atau situation room LSI menunjukan bahwa ada 10 isu yang paling menonjol selama masa kampanye dua bulan. Kesepuluh isu tersebut adalah antara lain (diurutkan berdasarkan frekuensi pemberitaan): Hoax Ratna Sarumpaet, pembakaran bendera tauhid, tampang Boyolali, politik sontoloyo, politik genderuwo, 4 tahun kepemimpinan Jokowi, janji esemka, games of thrones Jokowi, Sandiaga lompat makam, dan Jokowi gratiskan Suramadu. "Data situation room LSI Denny JA juga menujukan bahwa setiap isu dari 10 isu tersebut memiliki tendensi positif dan negatif terhadap masing-masing kandidat capres," ungkap Rully. Namun tendensi positif dan negatif di sini dalam arti lebih ke tone (nada) pemberitaan dari setiap isu jika dikaitkan dengan capres. Jadi bukan dalam efek elektoral seperti dalam survei. "Karena media monitoring masih punya keterbatasan dalam membaca efek elektoral sebuah isu ke pemilih yang mengakses media," jelasnya. Meski demikian, sebuah isu yang terekam di media sosial dapat dihitung surplus atau defisit sentimennya terhadap capres. Dari 10 isu yang berkembang di media sosial selama 2 bulan, ada 6 isu yang untungkan Jokowi dan ada 4 isu yang untungkan Prabowo. Isu yang menguntungkan adalah isu yang salah satu capresnya mengalami surplus positif. Enam isu yang untungkan Jokowi adalah hoax Ratna Sarumpaet (surplus 57%), games of thrones/winter is coming (surplus 29%), tampang Boyolali (surplus 20%), Jokowi gratiskan Suramadu (surplus 13%), 4 tahun kepemimpinan Jokowi (surplus 12%), dan Sandiaga lompat makam (surplus 11%). "Kasus hoax Ratna Sarumpaet memberikan surplus isu positif paling tinggi untuk Jokowi di media sosial," beber Rully. Sementara 4 isu yang untungkan Prabowo adalah antara lain, pembakaran bendera tauhid/HTI (surplus 29%), politik sontoloyo (surplus 5 %), politik genderuwo (surplus 1 %), dan janji esemka (surplus 6%). Kasus pembakaran benra/HTI paling banyak memberikan surplus isu positif terhadap Prabowo-Sandi di media sosial. (Poy)





























