Perjuangan Parmusi Sejahterakan Umat Islam Melalui Desa Madani

Perjuangan Parmusi Sejahterakan Umat Islam Melalui Desa Madani
Jakarta, Obsessionnews.com – Organisasi kemasyarakatan (ormas) Persaudaraan Muslimin Indonesia (Parmusi) akan berusia 19 tahun pada Rabu, 26 September 2018. Dalam rangka memperingati miladnya ke-19 Parmusi akan menggelar Jambore Nasional Dai Parmusi di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Desa Cimacan, Kecamatan Cipanas, Kabupaten  Cianjur, Jawa Barat, 24-27 September 2018. Jambore ini akan diikuti 5.000 dai. Dalam Jambore tersebut Ketua Umum Parmusi Usamah Hisyam akan mencanangkan Gerakan Nasional Dakwah Parmusi, yang dilanjutkan dengan ekspedisi dakwah para dai ke seluruh pelosok tanah air. Usamah mengatakan, para dai Parmusi ini nantinya akan bergelut berdakwah di daerah asalnya dengan manhaj atau metode Desa Madani, di mana para dai akan berdakwah dalam rangka menyejahterakan warga masyarakat, khususnya umat Islam. “Metode dakwah yang dirancang untuk menjawab peluang, tantangan dan problematika dakwah dalam rangka membentengi akidah umat Islam Indonesia di berbagai daerah,” kata Usamah dalam keterangan tertulisnya, Senin (17/9/2018). [caption id="attachment_260775" align="alignnone" width="496"] Ketua Umum Persaudaraan Muslimin Indonesia (Parmusi) Usamah Hisyam.[/caption]   Baca juga:Jambore Nasional Dai Parmusi Bukan Kegiatan Dukung Capres Ikuti Festival Jambore Nasional Dai Parmusi Berhadiah UmrohParmusi Bentengi Akidah Umat Islam dengan Dakwah Bermanhaj Desa Madani5.000 Dai Siap Ramaikan Jambore Nasional Dai Parmusi 2018 Parmusi telah menetapkan arah perjuangan organisasi melalui jalan dakwah. Tak lagi ada istilah political oriented, melainkan dakwah oriented. Oleh karenanya kini Parmusi tak lagi eksklusif dan menjadi underbow sebuah partai politik manapun. Parmusi bersifat inklusif, terbuka bagi seluruh umat Islam. Konsep ini ditegaskan berkali-kali oleh Ketua Umum Parmusi, H. Usamah Hisyam, dalam setiap kesempatan berkunjung ke berbagai daerah. Menurutnya, asal dia muslim, Parmusi akan membuka diri dan menerima dengan suka hati. Pada konteks itu Parmusi membangun paradigma baru, yakni menjadi organisasi Islam yang melakukan connecting muslim atau wadah persaudaraan bagi umat Islam. Melalui paradigma baru ini Parmusi fokus untuk berdakwah di bidang sosial, ekonomi, dan pendidikan. “Tema tersebut memiliki implikasi bahwa Parmusi tak lagi bersifat eksklusif dalam semua dimensi, tetapi akan mengembangkan inklusifitas sebagai saluran aspirasi umat Islam Indonesia,” kata Usamah dalam Pembekalan dan Orientasi Perkaderan Parmusi yang bertema “Paradigma Baru Parmusi Sebagai Connecting Muslim Berbasis Sosial, Ekonomi, dan Dakwah” di Jakarta, Jumat (3/7/2015).   Baca juga:142 Dai se-Jateng Ikuti Orientasi Dai ParmusiFOTO Silaturahim Parmusi dan PPPParmusi Kecam Keras Pelaku Politik Islam yang Tak Berdakwah   Usamah meyakini dengan paradigma baru tersebut, Parmusi akan mampu mencetak kader-kader sosial, politik, dan dakwah yang memiliki sociopreneurship tangguh. Sehingga lebih siap ketika terjun di legislatif maupun eksekutif untuk mewarnai berbagai kebijakan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Dalam perjalanannya, Parmusi perlu segera mewujudkan visi organisasi. Yakni mewujudkan masyarakat madani yang Islami sejahtera lahir dan batin dalam kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia, yaitu masyarakat Indonesia yang berorientasi pada keimanan dan ketakwaan, keilmuan, keadilan, kemajuan dan kebersamaan. Upaya percepatan itu dilakukan secara masif di berbagai sektor, baik pembinaan organisasi bagi kader dan dai, maupun penyiapan lahan pekerjaan dan fasilitas pendidikan. Termasuk di antaranya merealisasikan program One District Five Dais (ODFD) dan Desa Madani pada tahun 2018 ini. Program ODFD dan Desa Madani ini berjalan seiringan. Para dai yang telah mendapatkan pelatihan inilah nantinya yang akan berperan penting dalam keberhasilan Desa Madani. Para dai tak melulu dilatih berceramah dan menguasai ilmu agama, tetapi juga harus tampil sebagai seorang leader yang memiliki karakter sociopreneurship dan piawai bermasyarakat. Desa Madani Bentengi Akidah Umat Islam Program Desa Madani ini adalah sebuah manhaj atau jalan atau metode dakwah yang dirancang untuk menjawab peluang, tantangan dan problematika dakwah dalam rangka membentengi akidah umat Islam Indonesia di berbagai daerah. Khususnya di daerah pedalaman, perbatasan, dan pulau terluar yang masyarakatnya terbelenggu dalam kemiskinan serta kehidupannya di bawah garis kemiskinan. Dalam jangka pendek pada tahun 2018 ini diharapkan setiap provinsi setidaknya memiliki  pilot project satu Desa Madani. Sementara dalam program jangka menengah pada tahun 2019 di setiap kabupaten/kota memiliki satu Desa Madani, serta jangka panjang pada tahun 2020 setiap kecamatan setidaknya memiliki satu Desa Madani. “Harapan saya dalam kurun waktu 5-10 tahun ke depan, di setiap desa sudah terbangun Desa Madani Parmusi,” ujar Usamah. Menurut perhitungannya, jika Desa Madani Parmusi dapat terbentuk setidaknya di sekitar 50-70 persen desa yang ada di seluruh Indonesia, maka pada saatnya Parmusi dapat segera mewujudkan cita-cita dan tujuan organisasi, yakni terwujudnya masyarakat madani yang sejahtera lahir dan batin dalam kehidupan bangsa Indonesia yang diridhai Allah Swt. “Dan pada akhirnya segera menjadikan Indonesia sebagai baldatun thoyyibatun warabbun ghafur dengan mayoritas kepemimpinan daerah, provinsi, dan nasional dijabat oleh para pemimpin yang islami serta memihak pada kepentingan umat Islam,” harap Usamah. Desa Madani tak sekadar impian di siang bolong. Nyatanya, Parmusi memiliki rancangan sistemik untuk meujudkannya. Ada empat aspek yang harus dilakukan dan diprioritaskan untuk membangun Desa Madani Parmusi. Pertama, peningkatan iman dan takwa masyarakat untuk membentuk akhlak mulia, sehingga dapat mencapai rida Allah. Pada aspek ini Parmusi menempatkan setidaknya satu dai tetap di desa tersebut. “Tugas utama dai adalah mengajar warga masyarakat untuk bisa membaca Al-Quran, mengaji, tata cara wudlu dan shalat, shalat lima waktu, menggerakkan pengajian-pengajian dan majelis taklim, mengisi kultum shalat subuh, menjadi imam masjid, Shalat Tarawih, Idul Fitri dan Idul Adha, khatib Shalat Jumat, mengajar memandikan jenazah, serta kegiatan peribadatan wajib dan sunnah lainnya,” jelas Usamah. Dalam pengertian lain, kata mantan anggota DPR RI ini, tugas utama dai adalah memberikan ilmu pengetahuan syariat Islam kepada warga masyarakat berdasarkan Alquran dan sunah, sesuai dengan panduan dakwah dari Lembaga Dakwah Parmusi (LDP). Tujuannya agar setiap umat Islam memahami dan mengamalkan ajaran serta menjadi Islam, iman, dan ihsan yang kafah. Kedua, pembangunan kemandirian ekonomi masyarakat yang dilakukan oleh Pengurus Daerah dan Pengurus Wilayah, baik melalui program SKSP, Pedes, maupun program lahan sosial yang dikelola Koperasi Desa Madani dengan supervisi Parmusi Bisnis Center di setiap wilayah atau daerah. “Aspek membangun kemandirian ekonomi ini, pengurus Parmusi di daerah, wilayah, maupun pusat dapat berperan sebagai manajemen supervisor dari usaha warga, atau sebagai pengelola usaha dengan badan usaha yang melibatkan warga dan disepakati bersama warga,” sambungnya. Ketiga, menggerakkan Parmusi SaveHelp sebagai bentuk kepedulian atau pemberdayaan sosial dan aksi kemanusiaan Parmusi terhadap korban musibah bencana alam atau kemanusiaan. Aspek ini juga berlaku untuk membantu warga sekitar desa yang sudah tidak produktif, hidup di bawah garis kemiskinan, terutama orang tua jompo, anak yatim, dan para janda yang tak berdaya. Caranya dengan memberikan santunan secara berkala atau bantuan sosial lainnya, yang bersumber dari keuntungan hasil usaha atau zakat, infak, dan sedekah bersumber dari Lazis Muslimin. Keempat, peningkatan pendidikan dan pengetahuan warga, baik secara formal maupun informal dengan memanfaatkan dan atau membangun prasarana atau sarana pendidikan, membantu meningkatkan kualitas sarana pendidikan yang sudah ada, atau mengirim tenaga guru honorer bagi wilayah pedalaman yang sulit terjangkau dan belum memiliki sarana pendidikan. “Pada pelaksanaannya, Parmusi bisa bekerja sama dengan pihak ketiga yang menggulirkan program corporate social responsibility (CSR) perusahaan dan pihak lainnya yang halal dan tidak mengikat. Dalam pengembangan pendidikan informal, setidaknya akan didirikan sebuah TPA (Taman Pendidikan Al-Quran) yang dikelola oleh Dai-dai Parmusi,” pungkas Usamah. (arh)   Baca juga:Parmusi dan PPP Gelar SilaturahimMelalui ‘Connecting Muslim’ Parmusi Wujudkan Masyarakat MadaniParmusi Jateng Akan Selenggarakan Diklat dan Orientasi DaiDai Parmusi Dapat Menyatukan Umat