Sabtu, 22 September 18

Parmusi Jateng Akan Selenggarakan Diklat dan Orientasi Dai

Parmusi Jateng Akan Selenggarakan Diklat dan Orientasi Dai
* Ketua Pengurus Wilayah (PW) Persaudaraan Muslimin Indonesia (Parmusi) Jawa Tengah  Anding Sukiman. (Foto: dok. Pribadi)

Jakarta, Obsessionnews.com – Pengurus Wilayah (PW) Persaudaraan Muslimin Indonesia (Parmusi) Jawa Tengah (Jateng) akan menyelenggarakan pendidikan dan latihan (diklat) dan orientasi dai di kompleks Masjid Majelis Ulama Indonesia (MUI) Surakarta pada Sabtu (15/9/2018). Direncanakan diklat tersebut akan diikuti 350 dai se-Jateng. Dalam diklat tersebut Parmusi akan membeberkan langkah strategis kepada para dai dalam berjuang di tengah masyarakat.

Ketua PW Parmusi Jateng Anding Sukiman mengatakan, pihaknya sengaja memilih lokasi kompleks Masjid MUI dengan maksud untuk lebih menyatukan seluruh potensi umat Islam di Jateng yang berlatar belakang berbagai mazhab.

“MUI adalah wadah bersatunya para ulama dari berbagai kalangan Islam, dan Parmusi adalah conection muslim yang akan menjadi perekat perjuangan umat Islam yang bergerak bidang dakwah, ekonomi, sosial dan pendidikan. Sehingga pemilihan lokasi sangat tepat,” tutur Anding dalam keterangan tertulisnya, Rabu (12/9).

Bidang Dakwah

Parmusi memilih menggarap bidang dakwah, ekonomi, sosial dan pendidikan. Menurut Anding bidang garapan Parmusi itu  sudah sangat tepat. Ia mengemukakan alasannya, karena saat ini kondisi umat Islam sangat memprihatinkan.

“Secara akidah dapat kita cermati bahwa sesungguhnya meskipun mayoritas penduduk ber-KTP Islam, tetapi yang menjalankan salat tidak lebih dari 50% dari jumlah penduduk yang ber-KTP Islam. Coba cermati dengan seksama di kampung anda yang beragama Islam berapa banyak, dan di antara yang ber-KTP Islam tersebut berapa banyak yang menjalankan salat? Adakah 50% yang menjalanjan salat di antara warga yang berktp Islam tersebut?  Apakah mereka yang salat juga selalu salat berjamaah di masjid?” kata Anding.

Lebih lanjut ia mempertanyakan secara ekonomi apakah umat Islam dalam kondisi hidup sejahtera? Kalau dihitung angka perkapita muslim per hari Rp.40.000,  artinya jika di dalam keluarga ada suami, istri dan dua  anak dan keluarga tersebut berpenghasilan Rp.160.000/hari atau Rp.5.400.000/bulan, ada berapa persen dari jumlah penduduk yang ada?

“Padahal secara fisik dengan pendapatan Rp.5.400.000/ bulan dalam keluarga  beranggotakan empat orang sesungguhnya hanya mampu memenuhi kebutuhan fisik minimum. Jika dalam keluarga beranggotakan empat orang berpenghasilan kurang dari Rp 2 juta, maka jelas  kondisi ekonominya sangat berat,” tandasnya.

Karena itu dalam komunitas umat Islam di sebuah kampung yang salat  kurang dari 50 % dari warga yang ber-KTP Islam, serta pendapatan keluarga beranggotakan empat orang kurang dari Rp 2 juta dapat Anding menyimpulan akidah umat Islam dalam kampung tersebut rawan.

“Jangan berharap ada perubahan yang lebih baik, jika akidah umat dan ekonomi umat tidak diperbaiki,” tegasnya.

 

Menurutnya, Parmusi dengan paradikma baru yang bergerak di bidang dakwah, ekonomi, sosial dan pendidikan, bertekad untuk mengubah kondisi tersebut dengan meningkatkan kualitas akidah umat dan memberdayakan ekonomi berdasar pada potensi ekonomi yang ada.

“Apakah bisa? Jika optimisme dikedepankan dengan berdoa dan berusaha, Allah pasti memberikan jalan bagi kesuksesan perjuangan ini,” tutur Anding. (arh)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.