Melalui ‘Connecting Muslim’ Parmusi Wujudkan Masyarakat Madani

Jakarta, Obsessionnews.com - Persaudaraan Muslimin Indonesia (Parmusi) melakukan suksesi kepemimpinan pada 2015. Dalam Muktamar III Parmusi di Asrama Haji Batam, Batam Center, Kota Batam, Kepulauan Riau, Jumat (13/3/2015), Usamah Hisyam terpilih sebagai Ketua Umum dan Abdurrahman Syagaf sebagai Sekretaris Jenderal periode 2015-2020. Duet Usamah-Abdurrahman menggantikan Bachtiar Chamsyah-Imam Suhardjo. Di bawah kendali kepemimpinan Usamah wajah organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam tersebut mengalami perubahan yang drastis. Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) I Parmusi pada September 2015 memutuskan perubahan paradigma baru Parmusi dari sebelumnya berorientasi politik menjadi berorientasi dakwah. Parmusi tak lagi menjadi ormas eksklusif yang hanya menyiapkan kader-kader politik umat yang disalurkan melalui Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Namun sudah mencanangkan tagline sebagai connecting muslim atau wadah persaudaraan bagi umat Islam. Melalui paradigma baru ini Parmusi fokus untuk berdakwah di bidang sosial, ekonomi, dan pendidikan. Parmusi secara institusi tak lagi melakukan kegiatan politik praktis seperti periode sebelumnya, tetapi kader-kader Parmusi secara individu diperkenankan menjadi kader politik sesuai dengan aspirasinya. Menengok ke belakang sejarah kelahiran Parmusi memang erat kaitannya dengan kegiatan politik praktis. Parmusi adalah organisasi yang resmi menjadi pelanjut cita-cita perjuangan Partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi), pemenang kedua Pemilu 1955. Namun, sayangnya, Masyumi tak berusia panjang, karena dibubarkan oleh pemerintahan Sukarno pada 1960. Sukarno terjungkal dari kursi kekuasaannya pada 1966 sebagai buntut dari peristiwa pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) atau yang dikenal dengan sebutan Gerakan 30 September 1965 (G30S 1965). Pemerintahan Sukarno yang disebut Orde Lama kemudian digantikan oleh pemerintahan Orde Baru yang dipimpin Soeharto. Di awal pemerintahan Orde Baru sejumlah eksponen Masyumi, antara lain Mohammad Natsir, Mohammad Roem, dan dan lainnya bersepakat mendirikan Parmusi (Partai Muslimin Indonesia) sebagai reinkarnasi Masyumi. Pemilu 1971 merupakan pemilu pertama yang digelar di era Orde Baru. Sebanyak 10 partai politik menjadi peserta pemilu yang memperebutkan 360 kursi DPR itu. Parmusi menempati peringkat ketiga dengan memperoleh 24 kursi setelah Golkar (236 kursi) dan Partai Nahdlatul Ulama (58 kursi). Pada 1973 Presiden Soeharto menetapkan regulasi penyederhanaan partai politik dari 10 partai hanya menjadi dua partai dan Golkar. Partai-partai nasionalis dan Kristen difusikan menjadi PDI, sedangkan empat parpol Islam yakni NU, Parmusi, Perti dan PSII difusikan ke dalam PPP. Sejak fusi tersebut Parmusi menjadi ormas Muslimin Indonesia yang dipimpin H J Naro. Baru pada 26 September 1999 Parmusi dideklarasikan kembali menjadi ormas Islam dengan nama Persaudaraan Muslimin Indonesia yang disingkat Parmusi. Dinakhnodai Usamah Parmusi bergerak dinamis. Usamah dan para fungsionaris Pengurus Pusat (PP) Parmusi aktif berkunjung ke berbagai daerah di Indonesia untuk berdakwah, termasuk menyosialisasikan paradigma baru Parmusi sebagai connecting muslim melalui jalur dakwah. Sikap tersebut adalah jalan lurus yang diyakini kebenarannya untuk mewujudkan tujuan dan cita-cita organisasi, yakni mewujudkan masyarakat madani yang sejahtera lahir dan batin dalam bangsa Indonesia yang diridoi Allah. Parmusi telah mencanangkan program One District Five Dais, yakni satu kecamatan minimal memiliki lima dai. Pada tahun 2020 Parmusi menargetkan memiliki 35.000 dai yang tersebar di 70.000 kecamatan di seluruh Indonesia. Lebih dari dua tahun bergerak ke berbagai daerah Parmusi menargetkan tahap pertama memiliki 5.000 dai, yang akan diundang mengikuti Jambore Nasional Dai Parmusi tanggal 24-27 September 2018 di Gunung Gede Pangrango, Cibodas, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, menyongsong Milad ke-19 Parmusi yang jatuh pada 26 September 2018. Dalam Jambore tersebut Ketua Umum Parmusi akan mencanangkan Gerakan Nasional Dakwah Parmusi, yang akan dilanjutkan dengan ekspedisi dakwah para dai ke seluruh pelosok tanah air. Usamah mengemukakan, para dai Parmusi ini nantinya akan bergelut berdakwah di daerah asalnya dengan manhaj atau metode Desa Madani, di mana para dai akan berdakwah dalam rangka menyejahterakan warga masyarakat, khususnya umat Islam di berbagai pelosok tanah air. Kesejahteraan itu bukan saja melalui upaya peningkatan iman dan takwa, membangun kemandirian ekonomi, pemberdayaan sosial, kualitas pendidikan, tetapi juga rasa aman dan nyaman warga di seluruh pelosok tanah air dengan menciptakan keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas). “Program Desa Madani ini adalah sebuah manhaj atau jalan atau metode dakwah yang dirancang untuk menjawab peluang, tantangan dan problematika dakwah dalam rangka membentengi akidah umat Islam Indonesia di berbagai daerah,” kata Usamah dalam acara Orientasi Dai Parmusi di Gedung Pertemuan Komplek Balaikota Timoho, Yogyakarta, Minggu (2/9/2018). Ia menambahkan, para dai Parmusi nantinya diharapkan dapat berkontribusi untuk mengentaskan kemiskinan masyarakat setempat dan keamanan lingkungan. (Arif RH) Baca juga:Parmusi Jateng Akan Selenggarakan Diklat dan Orientasi DaiDai Parmusi Dapat Menyatukan UmatDai Parmusi Tak Perlu Terjebak Euforia Tahun PolitikDai Parmusi Harus Berjihad fi SabilillahBersama Polri dan TNI, Dai Parmusi Harus Dukung Kamtibmas





























