Jumat, 6 Desember 19

Rangkul Pemilih Milenial, Golkar Tak Lagi Berpangku pada 3 Jalur ABG

Rangkul Pemilih Milenial, Golkar Tak Lagi Berpangku pada 3 Jalur ABG
* Diskusi peluncuran buku Ridwan Hisjam yang berjudul 'Reformasi Paradigma Baru Partai Golkar' di Hotel Indonesia Kempiski, Jakarta Pusat, Minggu (10/11/2019). (Foto: Edwin B/OMG)

Jakarta, Obsessionnews.comPolitisi senior Partai Golkar (PG) Ridwan Hisjam mengatakan,  PG harus mempunyai paradigma baru dalam berpolitik. Hal tersebut dia tuangkan dalam pemikiran yang menjadi buku dengan judul Reformasi Paradigma Baru Partai Golkar. Buku ini diluncurkan pada Minggu (10/11/2019) di Hotel Indonesia Kempiski, Jakarta Pusat.

 

Baca juga:

FOTO: Ridwan Hisjam Luncurkan Buku ‘Reformasi Paradigma Baru Partai Golkar’

Ridwan Hisjam: Golkar Perlu Reformasi Jilid 2

Ridwan Hisjam: Hasil Laut Indonesia Masih Kalah Jauh dari China

 

Menurutnya, dalam menuju proyeksi Indonesia menjadi negara maju 2045, menapaki Revolusi Industri 4.0, dan merangkul basis pemilih generasi milenial, PG tidak cukup lagi hanya bermodal paradigma 1999.

“Tidak lagi berpangku pada tiga jalur ABG (ABRI-Birokrasi-Kader Golkar), mengadakan konvensi kader untuk maju menjadi capres, dan Kompetisi bebas liberal untuk maju menjadi caleg, calon gubernur (cagub), atau calon bupati (cabup),” ujar Ridwan.

Paradigma baru PG ini berisi pokok-pokok doktrin, visi, misi, dan platform politik. Dalam perumusan paradigma baru ini terkandung aspek pembaruan sekaligus kesinambungan. Aspek pembaruan ditunjukkan melalui perubahan struktur atau kelembagaan, sedangkan aspek kesinambungan tampak pada kekukuhan PG untuk tetap berideologi Pancasila dan doktrin karya kekaryaan.

Pembaruan ini dimaksudkan untuk meluruskan sejumlah kekeliruan lama. Hal itu juga diarahkan untuk mewujudkan PG yang mandiri, demokratis, kuat, solid, berakar, dan responsif.

Dengan paradigma baru PG ini diharapkan menjadi partai politik modern dalam pengertian yang sebenarnya. Yakni tidak lagi sebagai ‘partainya penguasa’ (the ruler’s party) yang hanya menjadi mesin pemilu atau alat politik untuk melegitimasi kekuasaan sebagaimana dalam paradigma lama.

Untuk diketahui, Pemilu 2019 untuk yang kesekian kali PG ada di posisi kedua (runner up) perolehan suara pemilih. Di bawah Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Pada 2014, PG juga berada di posisi kedua raihan suara pemilih. Dan juga di bawah PDIP.

Berikut data dari buku ‘Reformasi Paradigma Baru Partai Golkar’ terkait suara partai Golkar pada pemilu 1999-2019:

Pada pemilu 1999 PG memiliki suara partai sebesar 22,30 %. Sedangkan di Pemilu 2004 menurun sebesar 21,58 %. Memasuki Pemilu 2009 jumlah suara PG turun drastis, yakni sebesar 14,55 %. Namun pada Pemilu 2014 PG mendapat sedikit angin segar dengan memiliki jumlah suara sebanyak 14,75%. Ternyata angin segar itu tak berlaku lama, pada Pemilu 2019, jumlah suara PG kembali menurun, yakni sebanyak 12,31%. (Poy)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.