Selasa, 10 Desember 19

Ridwan Hisjam: Golkar Perlu Reformasi Jilid 2

Ridwan Hisjam: Golkar Perlu Reformasi Jilid 2
* Ridwan Hisjam bersama Menko Polhukam Mahfud MD. (Foto: Albar/ OMG)

Jakarta, Obsessionnews.com – Dalam buku Paradigma Golkar dengan Platform Revolusi Industri 4.0 dan Konten Pemilih Milenial yang ditulis politisi senior Golkar Ridwan Hisjam menekankan bahwa Golkar harus mengubah paradigma barunya tidak cukup lagi hanya bermodal paradigma baru 1999.

 

Baca juga: Golkar Harus Rangkul Milenial

 

Saat itu paradigma baru Golkar yang disahkan dalam Rakernas Golkar 2000 lebih menekankan pada otonomi parpol. Pertama, tidak lagi berpangku pada tiga jalur ABG (ABRI-Birokrasi-Kader Golkar). Kedua, mengadakan konvensi kader untuk maju menjadi capres. Ketiga, kompetisi bebas liberal untuk maju menjadi calcg, calon gubernur cagub), atau calon bupati (cabup).

Namun, menurut Ridwan, paradigma ketiga ini lebih banyak memunculkan konflik dan perpecahan antarkader. juga bertentangan dengan asas musyawarah mufakat berbasis hikmat berdasarkan nilai-nilai dan moralitas dalam sila keempat. Karena dalam praktiknya pasca reformasi Golkar selalu menjadi partai pemenang kedua kecuali pada Pemilu 2004.

“Jadi setelah reformasi Golkar perlu reformasi jilid 2. Golkar tidak bisa lagi menggunakan paradigma reformasi karena ruang dan waktunya sudah berbeda,” ujar Ridwan, di Hotel Indonesia, Kempinski, Minggu (10/11/2019).

Lebih lanjut Ridwan mengatakan, untuk bisa menjadi partai pemenang pemilu maka perlu pembaruan struktur atau kelembagaan partai, sekaligus budaya politik segenap kader Partai Golkar. Misalnya konten politik Partai Golkar harus menyasar kalangan milenial. Sebab pada Pemilu 2019, jumlah pemilih milenial mencapai 50%.

“Untuk itu, Golkar perlu aware. Setidaknya ada tiga hal yang perlu dijadikan acuan. Pertama, jumlah pemilih generasi milenial maupun generasi Z akan bertambah secara signifikan. Jumlah mereka akan lebih dari 50% dari total pemilih Indonesia. Itu artinya suara mereka sangat signifikan memengaruhi kemenangan entitas politik peserta pemilu,” jelasnya.

“Kedua, generasi milenial dan generasi Z, akibat media sosial, akan memiliki intensitas yang kuat terhadap politik. Mereka semakin sensitif terhadap politik dan Ketiga, preferensi politik generasi ini sangat dipengaruhi oleh arus informasi yang berkembang di media internet. Pilihan politik mereka adalah buah kreasi kesadaran yang terbangun dari simpulan informasi di internet,” tambah pria yang karib disapa Mas Tatok tersebut. (Albar)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.