Rabu, 26 Januari 22

Golkar Harus Rangkul Milenial

Golkar Harus Rangkul Milenial
* Tokoh senior Partai Golkar Ridwan Hisjam. (Foto: Kapoy/obsessionnews.com)

Jakarta, Obsessionnews.com – Tokoh senior Partai Golkar Ridwan Hisjam meluncurkan buku bertajuk Reformasi Paradigma Baru Partai Golkar-Membangun Platform Demi Revolusi Industri 4.0 dan Konten Politik Pemilih Milenial.

Dalam kesempatan peluncuran buku ini, Ridwan mengatakan harus ada perubahan paradigma di Partai Golkar dalam merangkul pemilih milenial. “Golkar harus merangkul kaum melinial demi revolusi industri 4.0,” Ujar Ridwan di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta Pusat, Minggu (10/11/2019).

Buku ini merupakan sumbangsih pemikiran yang lahir dari kesadaran Ridwan untuk tetap menjaga, merawat dan membesarkan Partai Golkar di era milenial. “Era yang ditandai dengan mulainya revolusi Industri 4.0,” tuturnya.

Buku yang diluncurkan tepat pada 10 November 2019 ini tentu bukanlah tanpa alasan. Buku ini sebuah pesan dari Ridwan yang ingin menanamkan semangat kepahlawanan dalam tubuh kader-kader Golkar agar tetap berkobar dalam kondisi apapun demi memberikan kontribusi bagi bangsa dan negara.

Hari Pahlawan ini juga sengaja dipilih untuk mengingatkan kembali semangat dan cita-cita pahlawan yang berkobar dalam pertempuran 10 November 1945 di Surabaya.

Peluncuran buku Reformasi Paradigma Baru Partai Golkar-Membangun Platform Demi Revolusi Industri 4.0 dan Konten Politik Pemilih Milenial di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta Pusat, Minggu (10/11/2019). (Foto: Kapoy).

Semangat yang diperlihatkan para pahlawan dan seluruh rakyat Surabaya dalam pertempuran heroik di Hotel Oranje atau Hotel Yamato yang kemudian dikenal sebagai Hotel Majapahit di Jalan Tunjungan, Surabaya.

Ya, semangat pahlawan dari arek-arek Suroboyo itu menurun kepada Ridwan dari kakeknya H.Jahja yang juga pemilik Toko H.Jahja tepat di seberang Hotel Oranje.

Sangk kakek juga figur yang menjadi saksi sekaligus pelaku sejarah bersama-sama rakyat Surabaya lainnya dalam peristiwa heroisme perobekan bendera Belanda yang berwarna merah putih biru menjadi merah putih dan dikibarkan di pucuk Hotel Oranje.

Sehingga 10 November menjadi hari tak terlupakan bagi seluruh rakyat Surabaya tak terkecuali keluarga Ridwan. Dan, semangat itu mengalir dalam diri Ridwan dalam perjuangannya sebagai politisi Partai Golkar yang berjuang untuk bangsa dan negaranya.

Kemudian, dipilihnya Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta untuk peluncuran buku ini, juga memiliki nilai historis bagi Golkar. Di hotel yang dulu bernama Hotel Indonesia, itulah berlangsung Musyawarah Nasional (Munas) Golkar tepat saat terjadi eforia reformasi di tahun 1998. Pada saat itulah lahir sejumlah langkah strategis Golkar.

Tak hanya berhasil memilih Akbar Tandjung sebagai Ketua Umum, tapi juga melahirkan sikap-sikap reformis lainnya seperti mengubah nama Golkar menjadi Partai Golkar dan lain sebagainya.

Dengan diluncurkanya buku ini tepat pada Hari Pahlawan dan mengambil lokasi yang sarat nilai historis di Hotel Indonesia, menjadi catatan penting bagi anggota Komisi VII DPR RI ini untuk mengobarkan kembali semangat kepahlawanan di tubuh Partai Golkar. Sekaligus menjadikan peluncuran buku ini sebagai momentum untuk mereformasi Partai Golkar ke-dua kalinya setelah 20 tahun Golkar menggelar Munas di tahun 1998 di hotel ini.

Tentu, cita-cita Ridwan untuk memajukan Partai Golkar ini di era sekarang adalah sebuah narasi yang wajib ditindaklanjuti dalam kerja nyata. Semangat pengabdian, dedikasi, dan loyalitas Ridawan dalam menjaga, merawat dan membesarkan partai berlambang beringin ini tak perlu dipertanyakan.

Jika menengok ke belakang pada 1998 saat Indonesia memasuki era reformasi, Golkar mendapatkan cobaan yang begitu berat. Sebagai kekuatan politik yang diidentikan dengan kekuatan Orde Baru, Golkar tak lepas dari hujatan dan serangan habis-habisan dari kelompok tertentu yang tidak menginginkan eksistensi Golkar.

Golkar Jadi Sasaran Kemarahan

Ketika itu, Ridwan yang menjabat Ketua DPD Partai Golkar Jawa Timur juga merasakan hal serupa. Serangan datang bertubi-tubi. Kantor-kantor Golkar dibakar. Situasi mencekam. Saat asap hitam menyelimuti Kota Surabaya, Ridwan tak bergeming. Dia tampil berdiri di atas puing-puing keruntuhan sembari mengibarkan bendera Golkar dengan gagah berani. Tak takut risiko. Padahal ketika itu tak ada yang berani memprediksi Golkar bakal langgeng. Apalagi pulih kembali dan mendulang suara tinggi.

Tapi tidak bagi anggota DPR yang membidangi masalah Energi Sumber Daya Mineral, Riset & Teknologi, Lingkungan Hidup ini. Dia bersama tokoh-tokoh Golkar lainnya rela jatuh bangun berjuang dan mempertahankan panji-panji Golkar dari ancaman kehancuran saat itu.

Luar biasa! Perjuangan Ridwan dan sejumlah tokoh Partai Golkar mampu mempertahankan suara rakyat sejati. Ketika dilangsungkan Pemilu tahun 1999 Golkar berhasil mendulang suara tinggi ke-dua setelah PDIP, secara nasional dan sukses mengirimkan wakil-wakil rakyatnya ke parlemen.

Kepercayaan rakyat semakin tinggi ketika di Pemilu tahun 2004 Golkar hidup lagi sebagai partai pemenang pertama secara nasional. Dan, hingga sekarang, Partai Golkar masih berkibar. (Poy)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.