Rabu, 22 Mei 19

Politisi di Antara Retorika dan Ketidakjujuran

Politisi di Antara Retorika dan Ketidakjujuran

Oleh: Imam Shamsi Ali, Presiden Nusantara Foundation

 

Ada yang menarik dari pidato tahunan Presiden Amerika, Donald J Trump di join session Kongress beberap waktu lalu. Dari konten pidato hingga sikap lahir (body language) semua yang hadir di ruangan itu penuh makna.

Secara konten seolah apa yang disampaikan Trump sangat meyakinkan, penuh harapan dan optimisme. Dengan gaya dan retorika yang cukup baik tampak menjanjikan.

Dari ekonomi hingga ke isu keamanan Trump seolah ingin meyakinkan bahwa pemerintahannya cukup berhasil. Bahkan terkadang tanpa disadari disampaikan dengan gaya angkuh jika capaiannya melebih capaian semua presiden terdahulu.

Kita teringat ketika Donald Trump menyampaikan hal yang sama dengan gaya yang sama pada pidatonya di gedung Perserikatan Bangsa-Bangsa tahun lalu. Serentak penyampaian itu mengundang gelak tawa para kepala negara/pemerintahan yang hadir. Pidato Trump itu menjadi sebuah lelucon yang cukup menggelikan.

Sejak pidato yang dianggap sebagian sebagai lelucon yang menggelikan itu, berbagai peristiwa menggelikan pun berlanjut. Trump bersikukuh untuk membangun pagar di perbatasan bagian selatan Amerika dan Meksiko. Dan ini merupakan janji politiknya yang memang lucu.

Sejak awal diluncurkan, Trump menjanjikan bahwa pembangunan pagar itu akan dibayar atau dibiayai oleh Meksiko. Belakangan mendapat resistensi keras dari pemerintah Meksiko. Trump kemudian menggeliat mencari penafsiran lain dari janji itu.

Gara-gara ketidakesepakatan dengan Kongres dalam hal biaya pembangunan pagar dalam anggaran negara (budget), Donald Trump kemudian menutup pemerintahan federal terpanjang dalam sejarahnya.

Bahkan menurut perkiraan kerugian dari “shut down” lebih sebulan itu mencapai $6 milyar, bahkan lebih. Artinya kerugian itu jauh lebih besar dibanding dana yang diminta Trump untuk membangun pagarnya.

Mungkin yang lebih menggelikan kemudian adalah ambisi untuk membangun pagar itu ditafsirkan sebagai “darurat nasional” atau national emergency. Maka dengan otoritas “eksekutif” yang dimilikinya Trump kemudian memutuskan untuk mendeklarasikan “darurat nasional” untuk membangun pagar itu.

Artinya karena situasi darurat itu dana yang diperlukan untuk membangun pagar itu akan diadakan dengan mencomot sebagian dari anggaran di bidang-bidang lainnya. Termasuk di dalamnya anggaran militernya.

Tentu kebijakan ini menimbulkan reaksi keras, tidak saja dari kalangan oposisi (Demokrat). Tapi juga dari kalangan Republikan yang masih rasional dan melihat bahwa keputusan deklarasi darurat ini adalah adalah keputusan yang tidak berdasar.

Mungkin oposisi terkuat yang tidak disuarakan (silent opposition) justru datang dari kalangan militer Amerika, termasuk departemen intelijennya. Kita mengenal bahwa kepala intelijen Amerika dalam acara dengar pendapat (hearing) di Kongres sudah menyampaikan pendapat yang berseberangan dengan sang presiden.

Akibatnya santer terdengar bahwa presiden Trump berencana memecat kepala inteligen, Dan Coats, dari posisinya yang dijabat sejak tahun 2017 lalu. Tentu hal ini mengakibatkan ketegangan baru dalam pemerintahan.

Ketegangan demi ketegangan memang bukan hal aneh lagi di pemerintahan Donald Trump. Sejak terpilihnya menjadi presiden Amerika, di masa Donald Trump inilah dalam sejarah Amerika terjadi “pemecatan” atau “pengunduran diri” kabinet atau pejabat tinggi negara terbanyak.

Belum lagi isu keterlibatan Rusia dalam memenangkan Donald Trump menjadi presiden Amerika. Dalam kasus ini saja sudah berapa anggota tim kampanye Trump yang ditangkap, termasuk mantan Ketua kemenangan kampanye (Manafort), mantan lawyer (Cohan) dan juga penasihat senior dan teman dekatnya (Mr. Stone).

Bahkan yang terakhir ini di berita utama New York Times disampaikan bahwa Donald Trump meminta kepada Acting AG yang menyangkut jaksa dari kalangan pendukungnya untuk menangani kasus mantan lawyernya, Mr. Cohen.

Berita yang kemudian diingkari oleh Donald Trump dan dituduhkan sebagai “fake news”. Tapi jika hal itu terbukti maka sudah pasti dapat menjadi pelanggaran serius yang mengarah kepada “impeachment” (pemecatan) sang presiden.

Masyarakat Amerika memang sedang dalam drama. Dan drama itu akan terus berlangsung hingga hadirnya presiden yang presidential (punya karakter dan integritas sebagai presiden).

Yang pasti Donald Trump memang telah menjadi presiden Amerika yang bersejarah. Apa pun bentuk sejarah itu, Donald Trump memang ingin menjadikan segalanya sebagai “jalan kepopuleran”. Bukankah yang kita kenal dari dulu memang itulah Donald Trump?

Antara retorika dan kebohongan

Menyimak pidato tahunan Trump di Kongres itu mengingatkan saya kepada kelihaian seorang politisi beretorika. Kemampuan berkelik lidah, penuh dengan keindahan palsu. Seolah segala sesuatunya normal bahkan lebih baik.

Tentu tujuan utama adalah “pengelabuan”. Minimal basis pendukung fanatis yang ingin dihipnotis agar puas, bahkan merasa menang dan sukses. Dukungan yang mereka berikan selama ini tidak sia-sia dan wajar untuk lebih kuat dalam mendukung.

Walaupun Donald Trump bukan politisi, mereka yang ada di sekekelingnya bukanlah orang yang tidak lihat. Mereka melihat bahwa pendukung Donald Trump adalah pendukung fanatis yang pada umumnya membangun dukungan atas dasar emosi golongan.

Oleh karenanya retorika politik golongan, walau dirajut dalam sebuah kebijakan politik pasti diterima sebagai kebijakan negara atau pemerintahan yang baik. Membangun pagar di perbatasan Amerika-Meksiko misalnya bagi pendukung Trump adalah patriotisme untuk menjaga keamanan negara.

Mereka menutup mata bahwa memaksakan membangun pagar itu memilki konsekuensi ekonomi, sosial, bahkan keamanan itu sendiri. Tapi semua itu tidak penting atau bahkan tidak menjadi perhatian bagi pengikut fanatis.

Yang menarik kemudian adalah berbagai kalangan melakukan “facts check” atau mencari tahu fakta atau realita dari pidato Trump itu. Sangat luar biasa. Ternyata ditemukan berbagai ketidakbenaran atau ketidakjujuran alias kebohongan dari pidato yang disampaikan.

Bahkan Ilham Omar, anggota Kongressm Muslimah yang baru terpilih, sempat menuliskan twitter “commander of lies” (panglima kebohongan) menanggapi pidato tersebut. Itu juga terlihat dari bahasa tubuh anggota Kongres, khususnya Demokrat yang mendengarkan pidatonya di ruangan Capitol Hill itu.

Pelajaran untuk dunia

Semua ini harusnya menjadi pelajaran kepada kita dan dunia bahwa retorika politik memerlukan “facts check” atau “fact finding”. Dan untuk ini diperlukan keberanian dan kejujuran untuk mengecek kebenaran pernyataan-pernyataan yang dilontarkan oleh para politisi.

Jangan-jangan pernyataan-pernyataan itu tidak lebih dari retorika politik untuk menghipnotis pendukung dan rakyat secara luas. Tapi dalam bahasa santun, kenyataan di lapangan berkata lain.

Dalam bahasa yang lebih kasar jangan-jangan kebanyakan dari pernyataan-pernyataan itu hanya tarian yang menghipnotis di antara lembah retorika dan kebohongan.

Dan jika ini terjadi tentu konsekuensi politiknya terlalu besar. Pendukung fanatis dan rakyat yang lugu akan dengan mudah dihipnotis untuk tenggelam dalam khayalan indah keberhasilan palsu itu.

Sayangnya dunia kita saat ini penuh dengan kebohongan-kebohongan itu. Sementara masyarakat lugu dan pendukung yang fanatis dengan mudah terbuai dalam ayunan “lies” (kebohongan-kebohongan) itu.

Mungkin masanya semua orang untuk membangun penilaian imbang dan rasional. Imbang itu menerima yang benar dan jujur dan menolak ketidakjujuran, walaupun mungkin pahit. Rasional itu mengedepankan “kebenaran” di atas “sentimen emosi”.

Semoga Allah menjaga. Amin!

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.