Selasa, 23 April 19

Polisi Harus Tindak Tegas Puluhan Brimob yang Rusak Rumah Yudahusna

Polisi Harus Tindak Tegas Puluhan Brimob yang Rusak Rumah Yudahusna
* Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane. (foto: wikipedia)

Jakarta, Obsessionnews.comAksi Puluhan anggota Brigadir Mobil (Brimob) yang diduga menyerang dan melakukan perusakan terhadap rumah seorang nenek berusia 68 tahun Yudahusna di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra) harus ditindak tegas. Sebab kalau tidak dilakukan, dikhawatirkan kasus Kendari ini akan menjadi preseden.

Awal mula penyerangan puluhan anggota Brimob itu karena seorang rekannya ditikam. Penikaman itu diduga dilakukan sekelompok anak muda yang terlibat salah paham dengan anggota Brimob itu. Sekitar satu jam sebelum mendatangi rumah Yudahusna.

Anggota Brimob yang terlibat salah paham itu bernama Pialdi. Pialdi saat itu di panggil menggunakan ucapan tidak senonoh oleh sekelompok anak muda saat melintas menggunakan sepeda motor di sekitar Kecamatan Baruga.

Tidak terima, Pialdi memanggil dua rekannya di Markas Komando Brimob Polda Sulawesi Tenggara lalu mendatangi pemuda tersebut. Saat kembali, Pialdi dan tiga rekannya langsung dicegat dan dikejar dengan senjata tajam oleh sekelompok pemuda tersebut.

Baca juga: Perusakan Rumah Yudahusna Bentuk Arogansi Polisi

Kabid Humas Polda Sulawesi Tenggara AKBP Harry Goldenhart membenarkan ihwal kejadian itu. Dia menjelaskan, Pialdi dan tiga rekannya berhasil menyelamatkan diri karena mereka kalah jumlah. Ternyata ada anggota Brimob lain yang melintas setelah itu. Bernama Bripda Roxy Rahayu dan Bripda Saiful Asgar dari arah lain karena mendengar rekan mereka dipukul, saat itulah insiden terjadi.

Puluhan pemuda itu pun kembali mengejar Bripda Roxy Rahayu dan Bripda Saiful Asgar. Bripda Roxy bahkan harus menderita luka tikaman di punggungnya hingga menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Bahtermas Kota Kendari. Roxy mendapat beberapa jahitan di punggung.  Setelah itu, anggota Brimob datang membubarkan kerumunan dengan paksa dan mencari dalang pembacokan.

Kaitannya dengan penyerangan di rumah milik Yudahusna, puluhan anggota Brimob itu menduga salah satu pelaku penikaman rekan mereka berada di dalam rumah tersebut. Setelah kejadian pengrusakan tersebut, polisi mengamankan dua pemuda yang diduga ikut membacok korban anggota polisi tersebut. Kedua oknum warga ini bernama Abdul Rajab Latif dan Muhammad Hakim. Keduanya diamankan di Polsek Baruga Kota Kendari.

Sementara itu sekitar 20 orang anggota Brimob tengah menjalani pemeriksaan intensif di Propam Polda Sultra. Mereka semua diperiksa karena diduga kuat ikut merusak hingga membuat kediaman milik Yudahusna porak poranda.

Bagaimana pun ulah 40 anggota Brimob ini tidak bisa dibiarkan. Untuk itu, Indonesia Police Watch (IPW) mendesak puluhan anggota Brimob itu harus segera ditindak tegas. Selain itu Kasat Brimob Polda Sultra dan Kapolda Sultra harus juga dicopot dari jabatannya. Sebab amuk 40 Brimob itu nyata-nyata menunjukkan bahwa Kasat Brimob maupun Kapolda Sultra tidak punya wibawa dan tidak bisa mengendalikan anak buahnya melalukan perusakan secara arogan menjelang pemilu.

“Hingga 40 anggota Brimob itu tanpa rasa salah nekat mengamuk membuat ketakutan masyarakat menjelang Pilpres 2019,” ujar Ketua Presidium IPW Neta S Pane dalam keterangan tertulisnya yang diterima obsessionnews.com, Senin (8/4/2019).

Jika tindakan tegas tidak segera dilakukan Mabes Polri, dikhawatirkan kasus Kendari ini akan menjadi preseden atau hal yang telah terjadi lebih dahulu dan dapat dipakai sebagai contoh. Akan muncul berbagai ulah oknum aparatur keamanan yang justru mengganggu keamanan masyarakat menjelang Pilpres 2019.

“Sementara kapoldanya tidak punya wibawa dan tidak mampu mengendalikan ulah anak buahnya,” ungkap pria kelahiran Medan 18 Agustus 1964 ini.

Seperti diketahui, kasus amuk 40 Brimob ini terjadi Minggu 7 April 2019 malam. Saat itu nenek Yudahusna tengah tertidur pulas bersama delapan cucunya. Mereka terbangun karena rumahnya diserang dan diobrak-abrik 40 anggota Brimob yang menuduh pelaku pemukulan terhadap temannya bersembunyi di rumah korban.

Aksi salah sasaran 40 Brimob ini menunjukan arogansi dan premanisme masih sangat kental bercokol di korps bhayangkara itu. Kentalnya arogansi itu membuat mereka sebagai aparatur penegak hukum justru tidak patuh hukum. Hal ini diperparah lagi akibat tidak adanya wibawa Kasat Brimob dan Kapolda Sultra sehingga ke 40 Brimob itu bisa bertindak semena mena tanpa takut dengan tindakan tegas pimpinannya. (Poy)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.