Batik Marunda Sambut 500 Tahun Jakarta Hadirkan ‘Sampir Jakarta’ dari Rusunawa Marunda

Sebagai wujud penghargaan kota Jakarta yang akan berusia 500 tahu pada 2027, Batik Marunda mempersembahkan koleksi bertajuk 'Aku, Jakarta’ di panggung Indonesia Fashion Week (IFW) 2026, JCC Senayan pada 30 Juli 2026. Melalui sembilan rancangan busana dengan signature look ‘Sampir Jakarta – The Jakarta Drape’, karya para perajin Rusunawa Marunda yang dibina oleh Irma G Sinurat dipersembahkan untuk menceritakan identitas ibu kota. Menjadi bukti Jakarta juga memiliki batik yang lahir dari tangan warganya sendiri.
Koleksi Sampir Jakarta tidak sekadar hadir dalam bentuk kain panjang yang membungkus tubuh. Irma memilih konsep sampir yang bermakna kain yang dikenakan di bahu sebagai simbol kehangatan. Baginya, filosofi itu mencerminkan karakter Jakarta. Ia berharap Jakarta menjadi kota yang selalu terbuka dan hangat bagi siapa saja yang datang.
Ini merupakan persembahan dari warga Jakarta untuk kota yang telah menjadi tempat mereka tumbuh dan berkarya. "Aku, Jakarta adalah cerita tentang kami sebagai orang Jakarta. Batik dibuat di Jakarta oleh orang Jakarta. Jadi, benar-benar karya warga Jakarta. Bersama para perempuan penghuni Rusunawa Marunda kami menghadirkan batik tulis yang bukan sekadar karya fesyen, tetapi juga simbol perjalanan, pemberdayaan, dan harapan," ujar Irma yang juga adalah pemilik Batik Marunda.
Keistimewaan Batik Marunda bukan hanya terletak pada motifnya. Di balik setiap helai kain terdapat kisah 20 perempuan penghuni Rusunawa Marunda yang dahulu bekerja sebagai buruh cuci, pekerja serabutan, hingga kehilangan mata pencaharian setelah direlokasi. Melalui pendampingan selama lebih dari 12 tahun, mereka belajar membatik dari nol hingga mampu menghasilkan karya berkualitas.
“Satu lembar batik tulis membutuhkan waktu satu hingga dua minggu untuk diselesaikan. Awalnya memang terasa
sulit mengingat mereka bukanlah para pembatik. Tapi, sekarang keterampilannya sudah berkembang dan kami terus belajar bersama. Batik Marunda sendiri lahir sebagai bagian dari upaya pemberdayaan perempuan penghuni rumah susun relokasi di Jakarta Utara, agar memiliki keterampilan dan sumber penghasilan baru. Saat hasilnya dipakai orang lain, mereka merasa bangga karena ikut menciptakan karya itu” tutur Irma.
Ia memiliki satu harapan sederhana kepada masyarakat Jakarta dan tidak ingin Batik Marunda dibeli karena belas kasihan terhadap para perajinnya.“Jangan membeli karena kasihan. Belilah karena mengapresiasi kualitas karyanya dan bangga memakainya,” ujarnya seraya tersenyum. Menurutnya, mendukung Batik Marunda berarti ikut memberikan kesempatan kepada perempuan-perempuan Jakarta untuk tumbuh melalui karya budaya. (Foto: Dok. Istimewa)





























