Jumat, 10 Juli 20

Pilihan dan Takdir

Pilihan dan Takdir

Oleh: Ustadz Felix Siauw, Pengemban Dakwah

Terlahir sebagai keturunan Cina, di kota Palembang, penduduk Indonesia, sebagai lelaki, anak kedua, adalah bagian takdir, saya tak pernah memilih sama sekali.

Dalam Islam, yang Allah perintah berkaitan dengan takdir ini adalah menerimanya, mengimaninya, sebagai bagian pemberian Allah yang pasti baik bagi manusia.

Dalam perkara ini, kita tak perlu lagi mengubah, menambah apalagi protes. Inilah yang dinamakan beriman pada takdir, sebagai bagian dari rukun iman.

Konsekuensinya, karena kita tidak pernah memilih soalan takdir ini, maka kita di hadapan Allah kelak tidak akan ditanya tentang takdir, sebab Allah yang menentukan bagi kita semua itu.

Beda dengan iman atau kafir, berbuat baik atau buruk, mau berusaha atau tidak, rajin atau malas, beribadah atau bermaksiat, itu semua pilihan, yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.

Beriman itu perlu usaha, memahami agama itu perlu jerih payah, apalagi membela agama. Karena itulah ada ganjaran yang Allah siapkan di sana, sesuai usaha kita.

Sebab itu, kelak di yaumil hisab, manusia tidak dikelompokkan berdasar suku atau kulit, negara atau bangsa. Tapi berdasar iman, sebab itu yang Allah lihat.

Maka seorang nuslim, apapun sukunya, di mana pun tinggalnya, apapun negerinya, tetap akan menjadikan ketaatan pada Allah sebagai yang utama.

Sebab ketaatan pada Allah itulah yang akan jadi pembeda kelak. Adapun suku, ras, etnis, negara, itu semua adalah ketentuan Allah yang tidak akan dihisab.

Maka saya berarti bukan karena saya Cina, bukan karena saya lelaki, bukan karena saya Indonesia. Tapi saya berarti, karena saya muslim. Sebab itu pilihan, dan layak dibanggakan sampai akhir hayat.

“Dan janganlah kalian mati, melainkan kalian mati dalam keadaan Muslim”. Begitu singkat Allah dalam ayat-Nya.

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.