Rabu, 11 Desember 19

Pemilu 2024 Golkar Harus Lirik Pemilih Milenial

Pemilu 2024 Golkar Harus Lirik Pemilih Milenial
* Politisi senior Partai Golkar (PG) Ridwan Hisjam. (Foto: Varhan/OMG)

Jakarta, Obsessionnews.comPolitisi senior Partai Golkar (PG) Ridwan Hisjam mengatakan, PG harus mulai melirik generasi muda atau generasi milenial sebagai basis pemilih pada pemilu mendatang partai berlambang pohon beringin ini. Pemahaman ini tertuang dalam bukunya yang berjudul ‘Reformasi Paradigma Baru Partai Golkar’ yang diluncurkan di Hotel Indonesia Kempiski, Jakarta Pusat, Minggu (10/11/2019).

Dia melihat, usai reformasi PG hanya mampu menang sekali pada pemilu 2004 sewaktu kepemimpinan Akbar Tandjung. Kini perolehan suara PG terus merosot meskipun pada pemilu tahun ini berada pada posisi kedua.

Baca juga: Rangkul Pemilih Milenial, Golkar Tak Lagi Berpangku pada 3 Jalur ABG

“Adanya paradigma baru partai Golkar tepatnya yaitu dibuat oleh kepemimpinan Pak Akbar Tandjung pada tahun 1999 dan menghasilkan kemenangan partai Golkar nomor 1 di dalam pemilu pada 2004,” ujar Ridwan.

Data yang dihimpun dari buku ‘Reformasi Paradigma Baru Partai Golkar’ suara PG pada pemilu 1999-2019 terus menurun, walau di 2014 menanjak sedikit. Pada pemilu 1999 PG memiliki suara partai sebesar 22,30 %. Sedangkan di Pemilu 2004 menurun sebesar 21,58 %. Memasuki Pemilu 2009 jumlah suara PG turun drastis, yakni sebesar 14,55 %. Namun pada Pemilu 2014 PG mendapat sedikit angin segar dengan memiliki jumlah suara sebanyak 14,75%. Ternyata angin segar itu tak berlaku lama, pada Pemilu 2019, jumlah suara PG kembali menurun, yakni sebanyak 12,31%.

“Ternyata setelah pemilu 2004, di 2009, di 2014 dan sekarang 2019 semua menurun, jadi kami tetap di nomor 2, sehingga saya selaku kader Golkar yang ikut di dalam proses reformasi, saya menganggap perlu ada reformasi kedua partai Golkar,” imbuhnya.

Baca juga: Golkar Harus Rangkul Milenial

Ridwan yang mencalonkan diri sebagai calon ketua umum (caketum) PG ini juga menyebutkan, setelah 2004 pasca kemenangan Golkar, partai besutan Soeharto itu tidak melakukan dan merombak paradigma yang sudah bergeser kepada paradigma yang baru.

“Karena ternyata reformasi yang dilakukan pada tahun ’99 hanya bisa menghasilkan menang sekali, setelah itu tidak pernah ada. Kenapa? Karena terjadi paradigma baru itu ada pergeseran-pergeseran, sehingga perlu di reform kembali, nah itu yang kita lihat di sini,” paparnya.

Mantan Pimpinan Komisi VII DPRRI Bidang Ristek Dikti, ESDM, Lingkungan Hidup & Kehutanan, BBPT, LIPI, BATAN, BAPETEN, BIG, LAPAN pada 2018 –2019 ini menuturkan, peluang untuk merombak paradigma lama masih memiliki peluang yang lebar. Dia berharap Partai Golkar bisa segera melakukan perubahan itu.

“Peluangnya ada. Karena pemilih pemula yang kita namakan kaum millenial dan generasi Z itu 70% adalah pemilih politik di tahun 2024 dan kebetulan Indonesia itu mendapatkan bonus demografi,” pungkasnya. (Poy)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.