Rabu, 22 Mei 19

Pariwisata Jadi Tumpuan Ekonomi Indonesia

Pariwisata Jadi Tumpuan Ekonomi Indonesia
* Menteri Pariwisata Arief Yahya. (Foto: Facebook Kementerian Pariwisata)

Jakarta, Obsessionnews.com – Sektor pariwisata akan menjadi faktor pendorong ekonomi Indonesia di masa mendatang. Bahkan Menteri Pariwisata Arief Yahya berkeinginan jika nantinya faktor pendorong ekonomi Indonesia tidak lagi berasal dari migas dan non migas, melainkan dari pariwisata.

 

Baca juga:

Pembangunan KEK Pariwisata Belitung Menuju Terwujudnya ‘Bali Baru’

KUR Pariwisata Dukung Target Kunjungan 20 Juta Wisman

Kemenpar Ajak Pelaku UMKM Pariwisata Maksimalkan KUR

 

Bukan tanpa alasan Arief mengatakan hal itu. Menurutnya, saat ini saja sektor pariwisata Indonesia pertumbuhannya tertinggi kedua di Asia Tenggara (ASEAN) setelah Vietnam.

Apalagi sektor pariwisata memiliki potensi yang sangat besar sekali. Di mana Indonesia memiliki pantai-pantai yang sangat indah.

“Kalau dulu migas dan non migas. Mulai 2020 kita ganti jadi pariwisata dan non pariwisata,” ujarnya dalam acara Kongres Teknologi Nasional (KTN) di Kantor Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Jakarta, Rabu (20/3/2019).

Dikutip obsessionnews.com dari laman Facebook Kementerian Pariwisata, untuk mencapai target tersebut Arief tengah menyiapkan beberapa strategi yang tidak biasa.

Langkah pertama adalah bagaimana memperbaiki regulasi. Pemerintah sendiri akan melakukan beberapa perubahan regulasi untuk mempermudah wisatawan khususnya mancanegara bisa masuk ke Indonesia.

Kedua adalah teknologi. Menurut Arief, teknologi sangat penting untuk menarik wisatawan menuju Indonesia. Sebagai salah satu contohnya adalah adanya platform jual beli tiket dan hotel seperti Traveloka.

“Satu regulasi kedua adalah teknologi. Saya membuat ibarat ada bandulan . Perubahan signifikan pasti akan dilakukan kalau kita melakukan hal hal strategis,” jelasnya.

Arief percaya jika kedua hal tersebut dilaksanakan bisa menarik banyak sekali wisatawan khususnya yang berasal dari luar negeri.

“Kalau okupansi industri yang kita pimpin buruk, pasti karena regulasi dan teknologi. Kalau kita bergerak satu meter, maka ke bawah berasa 10 meter. Tapi kalau di pimpinan kalau kita bergerak satu meter, maka di bawah akan berasa 100 meter. Maka ketika saya jadi menteri melakukan di regulasi dan kedua mengimplementasikan teknologi,” tandasnya. (arh)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.