Selasa, 18 Januari 22

Panggilan Hati dan Ketakjuban

Panggilan Hati dan Ketakjuban
* Dr Iswandi Syahputra

Oleh: Dr. Iswandi Syahputra,
Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta

Sejak awal saya sudah bertekad akan hadir dalam Aksi 112. Selain karena posisi saya lagi di Jakarta, juga karena untuk keperluan riset yang sedang saya lakukan.

Tidak dinyana, saat hari ‘H’ tiba sejak Subuh turun hujan dengan curah fluktuatif. Kadang agak deras sebentar, tiba-tiba reda dan grimis. Tapi yang namanya sudah tekad, hujan bukan halangan yang berat.

Usai sholat Subuh, saya mencermati keriuhan di media sosial. Pada pokoknya, masih ada orang pekok yang mengaitkan turun hujan tersebut sebagai penghalang aksi.

Bagi yang sudah tertanam di hati membenci Islam atau Aksi Umat Islam tentu senang bukan kepalang, hujan dianggap sebagai penghalang. Mereka tidak pernah tau sebenarnya apa yang sedang terjadi…

Bahwa ada hujan, benar. Tapi sejak awal telah diumumkan agar peserta yang akan datang membawa payung atau jas hujan. Hingga hujan bukan halangan.

Membludaknya peserta yang hadir ke Masjid Istiqlal justru menghabiskan stok air untuk berwudhu atau bersuci bagi jamaah yang berkumpul sejak sore dan malam kemarin. Dan hujan deras pagi ini seakan jawaban dari langit terhadap kondisi umat Islam yang kesulitan air.

Ilmu Tuhan tidak terbatas dan terkira. Yang suka mencerca, teruslah mencerca. Sejak zaman Nabi selalu ada pencerca. Asal itu dapat membuatmu bahagia, lakukan saja. Tapi jangan ganggu kebahagiaan orang lain yang sedang khusyu’ beribadah dan berdoa. Yang khusyu’ berdoa saja belum tentu masuk surga, apalagi yang mencerca…

Saya sendiri menuju ke Istiqlal baru sekitar jam 8, karena harus mencari jas hujan terlebih dahulu. Dari Cikini, tempat saya menginap, jalan tampak sepi. Tapi tidak satupun sopir bajaj yang mau mengantar saya ke Istiqlal.

“Mending Bapak jalan kaki daripada naik bajaj. Ntar juga Bapak turun jalan kaki, Pak. Semua jalan ke Istiqlal macet total, Pak, banyak orang ikut aksi,” ujar salah seorang sopir bajaj.

Dijelaskan begitu, semakin semangat saya menuju ke Istiqlal. Saya telepon istri meminta restu jika terjadi hal yang tidak diinginkan. Istri malah heran, “Sudah siang koq belum berangkat juga? Jalan kaki, biarlah basah kena hujan”, dorongnya memberi saya semangat. Makin bertambah semangat…

Saat jalan menuju ke Istiqlal, seorang sopir oeg nawari tumpangan. Jadilah saya naik motor. Setelah berputar mencari jalan tikus, ojeg yang saya tumpangi terhenti di Kwitang, Senen. Macetttt…

Saya teruskan jalan kaki di bawah hujan rintik. Sepanjang jalan terlihat tua muda, lelaki wanita, kaya miskin, berjalan bersama menuju ke Istiqlal. Sebagian besar pakai mantel hujan seperti yang saya kenakan, sebagian lain menggunakan payung.

Bahkan ada beberapa yang sudah basah kuyup. Tidak sedikit bahkan ada yang membawa bayi, tapi tidak bisa saya foto karena hujan. Gadget saya sempat hank, kena air hujan. Saya hanya sempat memfoto satu orang yang membawa bayi.

Apa yang membuat mereka mau berkorban seperti ini?

Ini soal hati, ini panggilan hati. Jika hati yang terpanggil, hanya Allah yang bisa membaliknya. Apalagi panggilan hati ini menyangkut keyakinan. Kalau ada yang merasa belum terpanggil, karena menilai ini suatu yang keliru, itu pilihan. Jangan saling memaksakan. Kita tidak perlu saling menjelekkan, mencerca, memfitnah dan menakut-nakuti. Mau buat aksi tandingan, silakan.

Kalau tidak berkenan, dan ingin mengutuk, kutuklah aksi ini dalam hati masing-masing agar cukup Tuhan yang meminta pertanggungjawabannya kelak di akhirat. Jika ingin mendukung, cukuplah mendukung dengan doa.

Apa yang saya saksikan tadi juga hal yang luar biasa. Sangat menakjubkan. Satu keluarga, satu RT, satu pengajian datang dengan biaya sendiri untuk ikut aksi. Di lapangan, panitia dengan tertib mengatur arus perjalanan manusia. Penjaga kemanan berkeliling, petugas kebersihan juga demikian.

Langkah saya menuju Istiqlal terhenti di depan kantor POM TNI AD, Gambir. Tidak bisa maju lagi, seluruh jalan sudah sangat padat dengan peserta aksi.

Menakjubkan…

Hanya itu kata yang pas untuk aksi seperti ini.‎ (***)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.