Sabtu, 28 Mei 22

Nina Nugroho: Pelaku Industi Fashion Dituntut Melek Teknologi

Nina Nugroho: Pelaku Industi Fashion Dituntut Melek Teknologi
* Modest Designer dan CEO Nina Nugroho International Nina Nugroho di acara webinar UMKM Summit 2021. (Foto: tangkapan layar/Fikar)

Jakarta, obsessionnews.com – Obsession Media Group (OMG) menyelenggarakan webinar “UMKM Summit 2021”, Sabtu (6/11/2021).

Dalam kesempatan itu, sebagai narasumber Modest Designer dan CEO Nina Nugroho International Nina Nugroho menyampaikan, bagaimana transformasi digital dapat merubah industri fashion. Di sini pelaku industri di tuntut harus melek teknologi. Karena transformasi digital yang terjadi itu merubah segalanya.

 

 

Baca juga:

Menteri Teten Masduki: Ekonomi Indonesia akan Pulih Jika Sektor Kesehatan Bisa ditangani dengan Baik

Usamah Hisyam: OMG Terpanggil untuk Berkontribusi dalam Upaya Menggerakkan Kembali Bisnis UMKM

OMG Gelar Webinar “UMKM Summit 2021”

 

 

“Pelaku industri fashion dituntut melek teknologi, kreatif dan inovatif,” ujar Nina dalam acara webinar UMKM Summit 2021, Sabtu (6/11/2021).

Perempuan yang akrab disapa Nina ini menjelaskan, transformasi digital yang mengubah itu yang pertama, cara penjualan kita sebuah brand atau marketingnya.

“Yang kedua kita harus melihat apa saja yang berubah. Yang ketiga dalam proses branding yang kita lakukan, itupun harus diadaptasikan sesuai kondisi yang ada,” ucap Nina.

Sementara transformasi digital yang merubah terkait marketing adalah nilai fokus berjualan dengan memaksimalkan semua sosial media (sosmed) yang ada.

“Yang pertama pastinya kita di website, karena website itu sebuah pintu menuju penjualan yang dari mana saja bisa membeli prodak kita dan bisa terinspirasi dari produk kita,” bebernya.

Yang kedua, pihaknya juga berjuang dari Facebook, melalui Instagram, WA bisnis, e-commerce, kemudian aplikasi.

Untuk mengadaptasi pola penjualan marketing dari offline ke online, yang paling penting sekali bagi sebuah brand itu adalah kita memerlukan foto dan video yang beradaptasi dalam ukuran mobile atau handphone.

“Karena semua castumer kita 90% menggunakan mobile phon sebagai alat bertransaksi,” ungkap Nina.

Tantangannya adalah bagaimana menyajikan produk yang sebelumnya itu costumer bisa pegang langsung, tapi sekarang castumer tidak bisa pegang langsung.

“Tapi castumer bisa membayangkan bagaimana bahannya, warnanya, dan bagaimana feel,” jelas Nina.

Selain itu, di sini juga dituntut untuk bisa menjawab deskripsi produk agar bisa dibayangkan oleh costumer seakan-akan memegang, melihat, atau bahkan memakai produk tersebut.

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.