Senin, 21 September 20

Naikkan Gaji Karyawan, Bos Perusahaan AS Pangkas Gajinya Sendiri Rp14 Miliar

Naikkan Gaji Karyawan, Bos Perusahaan AS Pangkas Gajinya Sendiri Rp14 Miliar
* Dan Price

Pada tahun 2015, pucuk pimpinan perusahaan pembayaran kartu di Seattle, Amerika Serikat (AS), menetapkan seluruh karyawannya yang berjumlah 120 orang harus menerima gaji minimum US$70.000 atau sekitar Rp1 miliar per tahun.

Ia sendiri memotong gajinya US$1 juta (sekitar Rp14 miliar) dan tetap menerima upah minimum selama lima tahun kemudian.

Gagasan itu muncul di benak Dan Price ketika ia melakukan pendakian bersama temannya Valerie di pegunungan Cascade yang menjulang megah di Seattle.

Ketika mereka berjalan, Valerie bercerita bahwa hidupnya amburadul karena sewa rumahnya dinaikkan US$200 atau sekitar Rp2,8 juta per bulan dan ia mengalami kesulitan membayar berbagai tagihan.

Kondisi itu membuat Price marah. Valerie, yang pernah dipacarinya, pernah berdinas militer selama 11 tahun, dikirim dua kali ke Irak, dan saat itu bekerja 50 jam seminggu dengan dua pekerjaan berbeda untuk menutupi kebutuhan. “Ia adalah orang yang berjasa, punya kehormatan dan pekerja keras,” kata Price.

Walaupun gaji Valerie mencapai US$40.000 (setara Rp575 juta) per tahun, pendapatan sebesar itu tidak cukup untuk membeli rumah di Seattle.

Dirikan perusahaan di masa remaja
Dan Price merasa marah karena dunia semakin tidak adil. Dan tiba-tiba ia menyadari bahwa ia adalah bagian dari masalah yang ada.

Pada usia 31 tahun, Price sudah menjadi milyarder. Perusahaannya, Gravity Payments, yang ia dirikan ketika masih remaja, mempunyai sekitar 2.000 konsumen dan bernilai jutaan dolar. Penghasilannya mencapai US$1,1 juta per tahun atau sekitar Rp15 miliar.

Ia berpendapat masalah yang dialami Valerie mestinya juga dialami oleh banyak karyawan lainnya – dan ia memutuskan untuk mengubah keadaan itu.

Besar di daerah pedesaan Idaho yang penduduknya beragama Kristen, Dan Price adalah sosok yang baik dan positif, murah pujian terhadap orang lain dan sangat sopan, tetapi ia menjadi pejuang melawan ketidakadilan di Amerika Serikat.

“Orang-orang kelaparan atau mengalami pemutusan hubungan kerja atau dimanfaatkan agar seseorang bisa hidup megah di lantai atas gedung apartemen mewah di New York dengan kursi-kursi emas.

“Kita mengagung-agungkan ketamakan sepanjang masa sebagai masyarakat dan dalam budaya kita. Dan Anda tahu, daftar Forbes adalah contoh terburuk -‘Bill Gates menyalip Jeff Bezos sebagai orang paling kaya .’Siapa yang peduli!?”

Sebelum tahun 1995 separuh dari penduduk paling miskin di Amerika Serikat menerima pendapatan lebih besar dibandingkan kelompok penduduk paling kaya yang berjumlah 1%, kata Price.

Namun pada tahun tersebut, kondisi terbalik – golongan penduduk paling kaya 1% itu berpenghasilan lebih besar dibandingkan 50% penduduk paling miskin. Jurang tersebut semakin menganga.

Jumlah uang untuk hidup bahagia
Pada tahun 1965, para CEO di Amerika Serikat berpendapatan 20 kali lebih besar dibandingkan rata-rata pekerja tetapi pada tahun 2015, gaji CEO meningkat 300 kali. Ketika menghirup udara segar selagi mendaki gunung bersama Valerie, Price punya ide.

Ia pernah membaca hasil penelitian dua ekonom pemenang Hadiah Nobel, Daniel Kahneman dan Angus Deaton, tentang berapa jumlah uang yang diperlukan oleh setiap orang Amerika untuk hidup bahagia.

Ia sontak berjanji kepada Valerie untuk menaikkan gajinya di Gravity secara signifikan. Setelah menghitung-hitung, ia berkesimpulan pada angka US$70.000 atau setara dengan Rp1 miliar.

Dan Price menyadari ia tidak hanya perlu memangkas gajinya, tetapi juga meminjam uang ke bank dengan jaminan dua rumahnya dan menjual saham serta mengambil tabungannya. Ia mengumpulkan karyawan-karyawannya dan menyampaikan berita baik kepada mereka.

Semula ia mengira mereka akan sontak merayakan berita tersebut, tetapi awalnya pengumuman itu tak mendapat sambutan bahkan seperyti antiklimaks, kata Price. Ia sampai harus mengulangi apa yang disampaikan sebelum berita baik itu benar-benar dicerna oleh karyawan.

Lima tahun kemudian, Dan mentertawakan diri sendiri karena luput tak mempertimbangkan poin penting dari hasil penelitian profesor Universitas Princeton. Menurut mereka, jumlah pendapatan minimum yang diperlukan warga agar hidup bahagia adalah US$75.000.

Kendati demikian, sepertiga dari karyawan perusahaan Gravity Payments menerima kenaikan gaji dua kali lipat. Sejak saat itu, Gravity mengalami transformasi.

Jumlah karyawan bertambah dua kali lipat dan jumlah pembayaran yang ditangani perusahaan meningkat pesat dari US$3,8 miliar menjadi US$10,2 miliar per tahun. Namun ada data lain yang membuat lebih bangga.

“Sebelum upah minimum dinaikkan ke US$70.000, rata-rata jumlah kelahiran di kalangan karyawan adalah nol hingga dua anak per tahun,” ungkapnya.

“Dan sejak pengumuman itu – dan itu baru sekitar empat setengah tahun lalu – sudah ada lebih dari 40 kelahiran.”

Lebih dari 10% karyawannya mampu membeli rumah mereka sendiri, di salah satu kota paling mahal di Amerika Serikat bagi penyewa. Sebelum kenaikan gaji minimum, angkanya adalah kurang dari 1%.

“Muncul kekhawatiran di kalangan pengamat bahwa karyawan akan menghambur-hamburkan kenaikan gaji itu. Dan kami menyaksikan fenomena sebaliknya,” jelas Price.

Jumlah uang yang disisihkan karyawan secara suka rela untuk dana pensiun mereka meningkat dua kali lipat dan 70% dari karyawan mengatakan mereka sudah melunasi utang mereka.

Tetapi Price juga dikritik. Selain ratusan surat berisi dukungan, dan sampul majalah yang menyebutnya sebagai “bos terbaik Amerika”, banyak pelanggan Gravity pun mengirim surat yang ditulis dengan tangan berisi keberatan terhadap langkah Price yang dianggap sebagai pernyataan politik.

Ketika itu, Seattle tengah membahas kenaikan upah minimum menjadi U$15 atau sekitar Rp215.000 per jam, yang menjadikannya sebagai upah minimum paling tinggi sepanjang masa dalam sejarah Amerika Serikat.

Pelaku usaha kecil menentangnya dengan alasan akan membuat mereka bangkrut. Dua karyawan senior Gravity juga mengundurkan diri sebagai bentuk protes.

Mereka tidak senang karena gaji karyawan baru meningkat pesat dalam waktu singkat, dan berpendapat kenaikan itu akan membuat mereka malas, serta membuat perusahaan tidak kompetitif. Kekhawatiran tersebut belum terjadi.

Rosita Barlow, direktur pemasaran Gravity, mengatakan sejak kenaikan gaji, staf yunior bekerja lebih giat. “Ketika masalah keuangan tidak membebani pikiran selagi kita bekerja, kita bisa lebih bersemangat tentang apa yang memotivasi kita,” jelas Rosita Barlow.

Takut ban bocor tak punya uang
Beban kerja karyawan senior berkurang. Tekanan mereka berkurang dan dapat melakukan hal-hal seperti mengambil seluruh jatah cuti mereka. Price menceritakan kisah salah seorang stafnya yang bekerja di layanan call centre.

“Ia menempuh perjalanan dari tempat tinggal ke tempat kerja dan sebaliknya selama satu setengah jam setiap hari,” katanya.

“Ia khawatir dalam perjalanannya bannya gembos dan tidak punya uang untuk memperbaikinya. Ia memikirkannya setiap hari.”

Ketika gajinya dinaikkan US$70.000 pria tersebut pindah rumah ke lokasi yang dekat dengan kantor, sekarang ia membelanjakan uang lebih banyak demi kesehatannmya, berolahraga setiap hari dan mengonsumsi makanan lebih sehat.

Dan Price berpendapat kenaikan gaji tidak mengubah motivasi orang karena mereka sudah termotivasi untuk bekerja, tetapi kenaikan gaji meningkatkan hal yang ia sebut sebagai kapabilitas seseorang.

“Kita tidak perlu berpikir kita harus bekerja karena kita harus menghasilkan uang,” kata Rosita Barlow. “Sekarang fokusnya adalah ‘Bagaimana saya melakukan pekerjaan dengan baik?'”

Barlow telah bekerja di Gravity sejak awal dan tahu bahwa Dan Price tidak selalu murah hati sebelumnya

Price mengakui sendiri ia sempat terobsesi untuk menghemat menyusul krisis keuangan tahun 2008.

Sebelum tahun 2015, ia telah memberikan kenaikan gaji 20% per tahun. Tetapi percakapannya dengan Valerie lah yang meyakinkannya untuk memberikan kenaikan lebih tinggi.

Price berharap contoh yang diberikan Gravity akan membawa perubahan dalam dunia bisnis. Ia amat kecewa hal tersebut belum terwujud. Namun ia mengaku tidak menyesal menaikkan gaji karyawan dan memangkas gajinya sendiri. (*/BBC)

Sumber: BBC Magazine

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.