Minggu, 25 September 22

Mengapa Septemberku Tidak Ceria?

Mengapa Septemberku Tidak Ceria?

Oleh: Denny JA

Didengarnya lagu itu lagi dan lagi,
Berdesah dinyanyikan Vina Panduwinata:

“Kasih, kau beri udara untuk nafasku.
kau beri warna untuk kelabu jiwaku.
September ceria.
Milik kita bersama.”

Rosa menggugat diri.
Mengapa Septemberku tak pernah ceria?
Bagi keluargaku,
September penuh luka,
dan penuh bala.

Setiap bulan september,
Makan malam bagai neraka.

Ayah sang pejuang bicara itu itu lagi:
Di bulan ini kita berdoa bersama,
mengenang 7 jenderal yang dibantai.
Terkutuklah itu PKI!
Kudeta Gerakan 30 September.
Celaka, ia bisa hidup lagi!

Ibu nadanya beda seperti biasa:
Saatnya kita memaafkan.
Puluhan tahun berlalu.
Puluhan tahun menjadi luka.
Mari kubur bersama.

Kakak sulungku komentar amarah,
seperti sedia kala.
Ia pejuang hak asasi manusia.
Ujarnya:
Sejarah harus diluruskan.
Selama ini ditulis oleh yang menang.
Siapa yang sebenarnya dalang?
Ayah jangan sepihak!

Yang bungsu selalu bertanya,
Masih adakah PKI di zamanku?
Ini zaman selfie dan online.
Apa menariknya dibahas?
Mengapa tak bicara manusia yang akan mendarat di planet Mars?
Atau mobil listrik yang akan tiba?
Atau isu korupsi yang menjadi ideologi kita?

Makan malam selalu berakhir ricuh.
Ayah kadang gebrak meja.
Kakak sulungku banting kursi.
Ibu menengahi.
Adik bungsuku senyum saja,
sambil update status di Facebook.

Hanya aku yang diam,
Komentar Rosa.
Itu terjadi pada september ini,
Juga september sebelumnya,
Juga september sebelumnya lagi.

Rosapun menulis pesan di WA:
Vina, beruntunglah dirimu,
menyanyikan September ceria.
Septemberku tak pernah ceria.
Keluargaku malah penuh bala.

Keluarga Rosa itu,
bernama Indonesia.

September 2017

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.