Rabu, 27 Oktober 21

Mantan Sekmil Mega: ISIS Ada di Sini Akibat Intelijen Lemah

Mantan Sekmil Mega: ISIS Ada  di Sini Akibat Intelijen Lemah

Bandung, Obsessionnews Mantan Sekertaris Militer Presiden Megawati dan SBY, Mayjen Purnawirawan Tubagus Hasanuddin, menilai maraknya gerakan ISIS di Indonesia akibat kelemahan dari aparat intelejen.

“Kemunculan ISIS akibat aparat intelejen ‘teu digawe’ atau tidak bekerja dengan baik,” ujar Hasanuddin, yang kini Ketua DPD PDI Perjuangan Jabar, di kantornya di Bandung, Selasa (12/3/2015).

Gunjang-ganjing adanya ISIS sudah berjalan sejak 2012 lalu, di perbatasan Suriah dan Irak. Untuk masuk ke Irak dan Suriah, menurut pengalamannya saat bertugas di sana, hanya bisa melalui Mesir, Saudi Arabia, Iran, Kuwait dan Turki.

“Dari kelima pintu masuk tersebut, apabila memasuki Mesir akan melalui perbatasan yang cukup jauh dan tertutup, Arab Saudi dan Kuwait akan dihadang melalui penjagaan yang cukup ketat oleh tentara AS.

“Dulu saya komandan sektornya di daerah tersebut”, begitupun lewat Iran yang kemungkinan kecil karena tertutup untuk masuk pesawat dan lain-lain”, tandas Wakil Ketua Komisi I DPRRI ini.

Satu-satunya jalan ISIS melakukan pergerakan melalui Turki yang merupakan tujuan wisata ‘aparat intelejen pasti tahu tentang hal itu’. Kontrol terhadap petugas Imigrasi dan biro perjalanan atau travel di daerah dinilainya kurang baik, sehingga orang ISIS tersebut datang atas nama turis yang akan melakukan perjalanan wisata.

“Bisa jadi agen travel hanya mencari keuntungan dan tidak melakukan kontrol seperti itu,” ujar mantan Kepala Staf Garnisun Jakarta, 1999-2001 itu.

Selain travel dan Imigrasi TB juga menyayangkan kinerja Kedutaan Besar Indonesia di Turki. Ditangkapnya 16 orang WNI (diluar 16 otang yang hilang) terjadi sekitar Januari Februari 2015 oleh Pemerintahan Turki dan baru bulan Maret ini pemerintah mengetahui penangkapan tersebut, itupun karena diketahui akan masuk ke wilayah ISIS, artinya Dubes kita tidak bekerja dengan baik dan tidak ada kerjasama dengan pemerintahan Turki.

“Masa dua bulan dari penangkapan, baru diketahui saat ini”, tandas Wakil ketua Komisi yang membidangi masalah pertahanan, intelejen dan informasi ini.

Seharusnya konsulat juga mempertanyakan hal tersebut kepada konsulat yang ada di Turki. Seharusnya aparat intelejen, tahu pos-pos mana yang perlu mendapat pengetatan di wilayah Imigrasi dan sejumlah agen travel. Apabila hal tersebut sudah dilakukan aparat intelejen di Indonesia, maka pergerakan ISIS akan diminimalisir. (Dudy Supriyadi)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.